
BRUKH...
Mereka berdua tiba-tiba jatuh, yang artinya mereka berdua akhirnya mencapai lantai dasar dari lubang yang membuat merkea berdua langsung terjatuh begitu saja.
Dan akibat dari itu, Alstrelia pun akhirnya kembali menindih tubuh Alrescha, hingga mantel coat yang biasanya tersampir di kedua bahu Alstrelia, saat ini sudah menutupi tubuh Alstrelia dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Sehingga keberadaan dari mereka berdua pun tertutup dengan cukup baik karena mantel milik Alstrelia.
"Detak jantungmu teryata cepat juga."
Alrescha segera mengernyitkan matanya, dan menatap ujung kepala dari Alstrelia yang kini ada di atas dada bidangnya.
"Dan kau suka sekali berada di atasku." Sahutan yang melenceng dari ucapannya Alstrelia barusan.
Mendengar pernyataan dari Alrescha, Alstrelia kemudian merubah posisinya menjadi duduk di atas perut Alrescha persis.
"Kenapa tidak? Apalagi bisa menikmati ini, bukannya menyenangkan?" Meskipun ucapannya terdengar seperti sedang menggoda, tapi tidak dengan ekspresi wajahnya yang datar.
Dan di samping itu, tangan Alstrelia pun menyetrika permukaan tubuh Alrescha bagian depan dengan cukup lembut hingga Alrescha sendiri sebenarnya sudah merasakan geli yang teramat sangat.
"Semua wanita menyukai ini. Bukannya kau harusnya senang, aku termasuk salah satunya?" Tanya Alstrelia.
SRAKK....
Namun saat Alrescha hendak meraih tangan kanan Alstrelia yang sembarangan menyentuh tubuhnya, tiba-tiba saja tubuh mereka berdua jatuh menyusuri gundukan yang entah itu adalah apa.
Tapi yang pasti, tubuh mereka berdua langsung terseret ke bawah dengan segala suara seperti sesuatu yang patah.
Bahkan sesekali tubuh mereka berdua terkena benda tajam yang menusuk kulitnya. Meskipun tidak sampai tertusuk betulan, itu cukup menyita perhatian mereka berdua.
__ADS_1
BRUKK...
Dan akhirnya sampai juga Alstrelia dan Alrescha berada di lantai dasar, dimana sekarrang posisi mereka berdua jadi terbalik, dengan Alsterlia ada di bawah dan Alrescha ada di atas.
Dalam posisi saling berhadapan, Alrescha akhirnya angkat bicara. : "Sepertinya kita baru saja jatuh dari gunungan tulang tengkorak?"
Alstrelia yang tidak peduli dengan posisi Alrescha yang kini ada di atasnya, untuk memastikan kondisi, pistol miliknya itu dia rentangkan ke atas, dan setelah itu ujung jarinya pun menarik pemicunya, hingga akhirnya satu tembakan cahaya seperti suar langsung terbang ke langit-langit.
Dan terlihat sudah kondisi di sekeliling mereka berdua, kalau mereka saat ini berada di atas lautan tulang tengkorak.
"Tempat apa ini?"
"Kuburan masal."
"Jika jawabanmu hanya itu, lebih baik tidak usah di jawab." Ketus Alstrelia, tidak puas hati dengan jawaban yang di berikan oleh Alrescha atas pertanyaannya tadi.
Siapapun hanya dalam sekali lihat akan tahu kalau seluruh tulang tengkorak yang menggunung di samping kanan dan kiri mereka serta depan juga belakang adalah tempat dari akhir hidup seseorang, saking banyaknya entah berapa ratus ribu orang yang jasadnya di buang di sini.
Alstrelia dan Alrescha saling memandang, bahkan tidak ada satu detikpun dari mereka berdua mengalihkan tatapan mereka ke arah lain, selain dari wajah dari lawan tatapnya ini.
Alrescha yang awalnya terdiam, tiba-tiba saja bicara. "Apa-"
Alstrelia masih menunggu apa yang ingin di katakan oleh pria ini dengan wajah penasarannya.
"Apa setelah adikku ditemukan, kau akan benar-benar pergi dari sini?"
"Kenapa tanya itu? Tentu saja aku harus kembali ke tempat asalku."
Karena jawabannya sudah jelas, Alrescha pun tidak bertanya lebih lanjut. Dia segera beranjak dari atas tubuh Alstrelia.
__ADS_1
'Sebenarnya dia kenapa? Tidak rela jika aku pulang? Padahal aku ini orangnya menyebalkan, dan jika adiknya sudah di temukan, bukannya aku memang sudah sepatutnya pergi dari sini?' Alstrelia pun jadi tidak mampu mengerti dengan pikirannya Alrescha ini, kecuali satu hal. 'Apa dia benar-benar menyukaiku? Yah..memang ada banyak lak-laki yang mengajukan lamaran denganku, tapi-'
Setelah Alrescha beranjak dari atas tubuhnya, Alstrelia segera berdiri sambil menatap lantai berisi tulang tengkorak itu dengan tatapan sendu.
'Semuanya tidak ada yang serius. Mereka semua hanya menginginkan kekuasaannya saja tanpa memahami apa keinginan sebenarnya pasangannya, yaitu aku. Dan dia-' Alstrelia kemudian melirik ke arah Alrescha yang sedang memungut mantel coat milik Alstrelia untu di gunakan sendiri. 'Semua pria hanya memikirkan wanita yang cantik itu patut di kuasai, dan sebaliknya. Pasatinya, dia adalah salah satunya dari sekian banyak orang yang berpikiran sama seperti itu, bahkan aku juga.'
Melihat mantel coat miliknya sudah di rebut, Alstrelia langsung menariknya.
"Sini, kau melucut pakaian wanita?" Ucap Alstrelia dengan nada malas.
"Tapi jika saja kau tidak membakar pakaianku, aku juga tidak akan meminjam paksa ini darimu." Sahut Alrescha, merapikan penampilannya itu, sekalipun mantel coat itu tidak bisa Alrescha kancing, sebab itu memang bukan diperuntukan untuk dipakai oleh laki-laki.
Sayangnya, sebab Alstrelia sudah begitu malas untuk melakukan pertengkaran dengan pria ini, Alstrelia pun melepaskan cengkraman tangannya dari ujung sisi mantel miliknya itu, dan memilih untuk pergi dari sana.
Namun, baru saja menginjak satu langkah, dia merasakan adanya benda lain selian tulang, yang Alstrelia injak itu.
Dan hal itu membuat lantai tiba-tiba saja bergetar, seperti ada sesuatu yang besar sedang bergerak.
"Apa ini?" Alstrelia melihat ada benda asing berwarna hitam yang baru saja Alstrelia injak itu.
Tapi ketika Alstrelia mencoba memungutnya, itu bukanlah benda mati, karena setelah di telusuri, Alstrelia melihat adanya sesuatu yang tersambung dengan apa yang sedang dia pegang itu dengan bentuk yang lebih besar.
"Menyingkir." Perintah Alrescha, agar Alstrelia melepaskan benda hidup berwarna hitam yang baru saja Alstrelia ambil, dan segera melompat mundur ke belakang.
Alstrelia pun menyingkir.
Lalu tidak lama kemudian gunungan tinggi yang terbuat dari tumpukan tulang tengkorak manusia itu tiba-tiba longsor semua.
"Jadi disini bukan hanya kita berdua yang hidup, tapi ada yang lainnya" Tatap Alstrelia pada ujung benda hidup berwarna hitam yang sesaat tadi Alstrelia pegang. Yang mana, itu adalah sebuah ekor yang cukup panjang serta besar.
__ADS_1
"GRARRHH....."
Semburan api berwarna orange bercampur merah yang panas tiba-tiba muncul dan menyebabkan semua tulang tengkorak yang terkena imbasnya itu langsung terbakar menjadi abu.