Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
133 : Alstrelia : Siksaan.


__ADS_3

Flashback On


JLEBB.......


Suara itu benar-benar langsung terpatri di dalam kepala Alrescha saat itu juga.


Perempuan yang biasanya di penuhi dengan semangat membara, sekarang sudah tergeletak?


BRUKK....


Suara itu menjadi akhir dari pergerakan Alstrelia yang memiliki peran sebagai adik penggantinya.


"................" Saat itu juga Alrescha benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya dari keberadaan tubuh Alstrelia yang saat ini sudah terbaring di atas lantai dengan darah terus keluar, sampai menodari lantai marmer berwarna putih itu. 'Tidak mungkin, tidak mungkin perempuan itu mati.' Pikir Alrescha.


Dia tidak pernah mempercayai apa yang sedang dia lihat saat ini, karena selama ini Alstrelia yang ada di depannya itu selalu saja membuat kejutan dengan penuh semangat, energik, dan seseorang yang tidak mungkin akan bisa kalah semudah itu.


Namun?


Alstrelia masih saja tetap terbaring di sana.


Alrescha mengangkat tangan kanannya ke depan, dan mengeluarkan sedikit kekuatannya untuk digunakan agar pendarahan yang sedang terjadi pada perempuan itu bisa Alrescha hentikan.


"Als-" Belum sempat memanggil namanya, dia langsung di hadang dengan serangan yang dilakukan oleh Gamelo.


TRANG....


Sekalipun pedangnya saat ini sedang dia gunakan untuk menahan serangan yang dilakukan oleh makhluk itu, sayangnya pikirannya tetap saja mengarah pada sosok perempuan berseragam putih itu.


Dan pikiran itu perlahan menyelimuti Alrescha yang dimana, dia menemukan segala memori singkat apa saja yang dilakukan oleh Alstrelia ini.


__________________________________


PRANK....


"Kyaa....!" Teriak beberapa pelayan, saat melihat Nona majikan yang mereka layani itu, dengan santainya melempar piring berisi makanan itu begitu saja tepat ke depan kepala koki istana. Alhasil lantainya jadi berantakan.


"Makanan macam apa ini?! Ini minyaknya terlalu banyak, mau membuatku kena penyakit jantung?" Sungut Alstrelia terhadap koki yang memasak makan pagi untuk mereka berdua.


"M-maafkan saya Nona, saya akan memperbaikinya." Jawabnya dengan gugup. Apalagi kalau bukan karena Alstrelia yang dia layani itu tiba-tiba bisa bertindak ke tahap untuk mengintimidasi mereka semua yang tidak bisa bekerja dengan benar.


Ya..


Padahal selama ini tidak ada keluhan sama sekali dari Nona Alstrelia yang mereka layani.


Tapi kali ini?


Semunya seakan sudah kembali pada posisinya. Dimana mereka yang awalnya bekerja sesukanya karena tidak mendapatkan teguran ataupun keluhan dari Alstrelia, saat ini posisi dari Nona majikan mereka benar-benar sudah berada di tempatnya, yaitu meladeni para pelayannya yang tidak becus bekerja.


Dan kesalahan di pagi hari itu adalah dimana Koki Istana yang bekerja di mansion pribadi milik Alstrelia kembali melakukan kesalahan.

__ADS_1


Masakan yang di masak oleh koki tersebut mengandung lebih banyak minyak, sedangkan Alstrelia tidak begitu menyukai makanan berminyak, karena akan mengganggu kesehatan tubuhnya.


"Sudahlah, berikan aku salad buah ketimbang aku harus menunggu lama lagi." Tegas Alstrelia kepada koki tersebut.


Kepala koki dapur itu pun menunduk hormat dan berjalan mundur pergi dari ruang makan.


Lalu dua pelayan itu segera membereskan seluruh pecahan beling itu serta makanan yang berserakan di lantai dengan cukup cekatan.


Setelah selesai, mereka pergi meninggalkan Alstrelia bersama dengan Kakaknya?


"................" Alstrelia melirik ke arah Alrescha yang sedang duduk di kursi paling ujung.


"Kamu kan bisa minta baik-baik,"


"Terlalu lembek," Celetuk Alstrelia. Dia kesal, sebab di hari ke tiganya, dia benar-benar merasakan kebosanan untuk pertama kalinya, setelah melakukan perpindahan dimensi.


----->>


"Akhh....! A-ampuni saya Nona. Saya tidak sengaja." Teriak pelayan ini sambil berlutut untuk memohon ampun kepada Alstrelia, sebab tidak sengaja menabrak Nona majikannya itu. "Saya mohon, jangan bunuh saya, saya masih ada Ibu di desa yang sedang sakit-sakitan, jika bukan saya yang bekerja maka tidak ada biaya pengobatan untuk Ibu saya. Saya mohon." Ucapnya dengan merintih memohon pengampunan pada Alstrelia?


"Hm? Ibu? Memangnya masih punya Ibu ya?" Tanya Alstrelia. Tapi tatapannya semakin kesini semakin menyipit, lalu berkata lagi. "Dan membahas Ibu sebagai alasan atas kesalahnmu ya? Jadi manusia itu jangan terlalu naif. Kamu pikir aku tidak tahu, kalau kamu baru saja mencuri?" Terus terang Alstrelia seraya memungut sebuah gelang yang tersimpan di dalam tumpukan selimut kotor itu.


"................!" Sepasang mata pelayan ini langsung membulat sempurna, saat di tangannya Alstrelia sudah memegang gelang kristal berwarna hijau.


"Buktinya ini, pencuri." Bibirnya Alstrelia yang menyeringai itu lantas membuat bulu kuduk pelayan itu jadi merinding. "Elbert!" Panggil Alstrelia.


"Dia mencuri kepunyaanku, harus diapakan dia ini?" Tanya Alstrelia. "Dia tidak mau dibunuh, dan mengra aku akan membunuhnya, memangnya aku bisa membunuhnya ya?" Imbuhnya.


Elbert yang kehilangan kata-kata sebab 'Membunuh' jadi bahan pembicaraan mereka kali ini gara-gara seorang pelayan, sontak Elbert jadi menjeling ke arah pelayan wanita yang saat ini sedang berlutut di depan kakinya Alstrelia.


"S-sir Elbert, s-saya bukan berma-" ucapannya langsung menghilang saat Elbert menyelanya lebih dulu.


"Kamu...menuduh Nona bisa membunuhmu? Begitu?" Tegas Elbert kepada pelayan itu.


"B-bukan begitu Sir, saya ha-" Dan lagi-lagi kalimatnya kembali menghilang setelah satu kedua jari kanannya sudah terpisah dari tangannya? "Akkkkhhhh....!"


Suara tangisan akan teriakan yang cukup memilukan itu segera menggema di dalam mansion.


Jari dari pelayan tersebut sudah terpisah dari tangannya setelah Alstrelia diam-diam membuat Gimmick nya mengeluarkan laser, sehingga mengakibatkan kedua jari dari pelayan yang kebetulan sedang berlutut itu jadi terpotong sudah, sampai darah berwarna merah itu benar-benar menodai karpet mewah yang memiliki warna merah yang sama.


"Aku memang mengatakan apakah aku bisa membunuh? Jawabannya iya. Tapi karena kamu meminta tidak ingin di bunuh, tapi karena kamu sudah mencuri, hukumannya itu sudah jelas jarimu harus di potong kan? Bukankah begitu Elbert?"


Elbert pun datang kesana hanya sebagai saksi atas insiden itu, agar tidak ada siapapun yang akan membuat karangan cerita kalau Alstrelia baru saja menyiksa pelayan tanpa alasan, padahal alasan sebenarnya adalah memergoki pelayan yang baru saja mencuri itu.


Dan dari kejauhan, tepatnya dari luar jendela, Alrescha masih bisa melihat insiden itu sekaligus apa yang mereka bertiga bicarakan. 'Dia sampai memergoki pelayan yang mencuri, tapi dia benar-benar tidak kenal ampun.'


Sekalipun dari kejauhan, sayangnya dia masih bisa mencium aroma darah yang dimiliki oleh pelayan yang baru saja mendapatkan hukuman dari Alstrelia.


Tidak ada kata ampun, selain melakuan cara lain demi menghukum orang-orang yang bersala di sekitarnya saat itu juga.

__ADS_1


--------->


CTANG....


"Apa kamu merasa enggan melawanku karena aku Tuan Putri mu?" Sindir Alstrelia.


Dia saat ini sedang berada di arena bertarung. Melakukan sparring dengan Anders.


"Tentu saja. Jika anda kenapa-kenapa karena saya, kepala saya pula yang akan di penggal oleh Tuan." Jawab Anders, di tengah-tengan dirinya terus saja menahan dan menangkis segala serangan yang dilakukan oleh Nona majikannya itu.


"Tapi jika seperti ini terus, yang memenggal kepalamu itu bisa aku loh~" Ejek Alstrelia.


Dia kemudian mengayunkan pedangnya dari kiri ke kan, berputar dan mengerahkan serangan putarannya itu kepada pedang yang dia ayunkan tadi.


Serangan yang dilakukan oleh Alstrelia cukuplah brutal, karena tidak memberikan Anders rehat sejenak.


CTANG...CTANG......


Suara yang cukup nyaring itu terus saja mengisi suasana di arena itu.


Sampai dimana, gerakan Alstrelia semakin rumit?


SYUHT....


Anders memiringkan tubuhnya ke kanan, sebelum pedang itu menggorok lehernya. Tetapi ternyata setelah melakukan itu, Alstrelia membuat gerakan lanjutan, dimana Alstrelia berbalik, dan seakan kembali mengayunkan pedangnya dengan cara berputar lagi, Anders pun segera mengarahkan pedang miliknya ke atas dalam posisi pedang mengarah ke bawah.


CTANG...


Seperti yang di duga?


Tidak!


Meskipun pedangnya dapat Anders gunakan untuk menangkis serangan milik Alstrelia, tetapi apa jadinya jika dia justru tidak dapat menangkis tubuh Alstrelia yang tiba-tiba hanya memunggunginya, dan menggunakan kesempatan itu untuk menubrukkan tubuhnya ke tubuh Anders dan mendorongnya terus ke belakang, sehingga Anders pun secara otomatis terus saja terdorong. Sampai akhirnya dorongan yang dibuat oleh Alstrelia berhasil menjepit tubuh Anders antara tubuhnya dengan pohon yang ada di belakang Anders dengan cukup keras hingga menimbulkan bunyi yang memilukan..


BRUKH.....


Saking kuatnya dorongan yang diberikan oleh Alstrelia kepadanya, membuat banyak daun akhirnya berguguran.


Dan setelah itu, Alstrelia pun menjeling ke arah Anders sembari berkata, "Skakmat." Cibir Alstrelia.


".................!" Anders yang awalnya mebelalakkan matanya sebab Nona majikannya itu memiliki segala cara aneh untuk memojokkan lawannya, akhirnya membuat Anders tersenyum simpul.


Saat ini dia benar-benar kalah dengan Nona nya itu, hingga posisi dari mereka berdua saat ini pun jadi terlihat ambigu.


Sekalipun begitu, Nona nya itu tidak namapak terlihat dengan posisi dari mereka berdua saat ini. Karena saat Anders meihat sorotan mata milik Nona nya, dia hanya melihat sorotan ingin bisa menang dari siapapun, entah menggunakan cara apapun, majikannya itu akan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya sendiri.


"Aneh, kenapa Nona bisa lebih hebat dari saya, ya?" Tanya Anders.


Alstrelia pun menjauhkan dirinya agar Anders terbebas, lalu menjawab pertanyaannya saat itu juga. "Kalau bertanya itu, maka jawabannya hanya satu. Kita hanya beda dari segi pengalaman."

__ADS_1


__ADS_2