
"Tapi sekarang, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Lena, saat melihat di satu sisi lain pertarungan antara monster dan para kesatria masih berlangsung.
"Kita lakukan?" Elbert tiba-tiba menyeringai, saat ditanyai lena harus melakukan apa.
"...................?" Lena hanya diam menatap Elbert, karena tidak paham apa maksud dari senyuman maut yang diberikan oleh Elbert kepadanya.
"Kau harus berlatih lebih keras lagi," Elbert yang kebetulan berada di samping rak yang berisi senjata, antara tombak, maupun pedang, Elbert langsung menarik tombak berwarna silver dan memberikannya kepada Lena. "Gunakan ini," Memberikan tombak kepada Lena. "Urus monster yang berhasil menyelinap masuk kedalam mansion, sedangkan aku akan mengurus bagian depan." Imbuhnya.
Lena pun menerima tombak itu, sambil berkata : "Sir Elbert, apa anda mau membuat tanganku yang yang kecil, ramping, dan rapuh ini untuk melawan Monster yang ukurannya dua kali lipat dari tubuh anda?" Gerutu Lena kepada Elbert dengan ekspresi wajah perempuan polos yang seperti sedang dipaksa melakukan sesuatu yang tidak mungkin bisa Lena lakukan. "Jika tangan ini kenapa-napa? Nanti siapa yang akan mendandani nona jadi cantik sampai Sir Elbert pun terpesona?" Tanyanya, mencoba membuat godaan terhadap Elbert.
Elbert termangu mendengar ucapan Lena yang bisa-bisanya membuat alasan lain yang terdengar masuk akal, tapi juga membuat Elbert merasa seperti sebagai objek dari godaan Lena.
'Sejak kapan Lena jadi pintar membuat sangkalan aneh seperti ini?!' Tidak tahan dengan tingkah Lena yang terlihat seperti orang yang tidak bisa apa-apa, padahal punya kemampuan untuk bertarung, Elbert langsung membopong Lena ala bridal.
"Eh?!" Lena seketika tercengang, saat tubuhnya di gendong oleh Elbert.
"Aku tahu tanganmu itu cukup berharga untuk mendandani Putri Alstrelia jadi cantik, tapi mau bagaimanapun, dari pada menganggur, lebih baik bantu mereka menyingkirkan monster." Jelas Elbert sambil menahan malunya sendiri, karena membalas ucapan Lena dengan bumbu pujian.
".................!" Lena ikut tersipu malu mendengar bumbu pujian yang terlontar dari mulut Elbert, yang jarang sekali membuat kalimat memuji seperti itu kepada orang lain.
"Bisa, kan?" Tanya Elbert sambil menatap wajah Lena yang sekarang ada di gendongannya.
'Kenapa Elbert menatapku seperti itu?! Aku kan jadi tidak bisa menolak.' Pikir Lena, pasrah mendapatkan tatapan maut dari Elbert yang benar-benar memberikan harapan penuh kepada Lena, Lena pun tanpa sadar jadi mengangguk pelan.
Menyusuri teras depan di lantai dua mansion utama Fisher, Elbert pun membawa Lena pergi ke satu tempat dimana Elbert mendeteksi adanya penyusup yang berhasil masuk kedalam mansion.
Dengan tangan membawa tombak, Lena yang masih di gendong itu pun di turunkan di depan pintu masuk, tepat di lantai dua.
""Lena, kamu tahu kalau di dalam ada tempat rahasia yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun. Urus siapapun yang mendekati tempat itu, karena ada kemungkinan lain, penyerangan ini adalah sebagai pengalih untuk memasuki kamar rahasia itu." Bisik Elbert, memberikan bisikan perintah kepada Lena untuk menjalankan tugasnya yang asli.
Lena mengangguk. "Tapi kenapa saya?"
__ADS_1
"Karena ruangan itu memang memiliki peraturan khusus, dimana hanya wanita yang bisa memasukinya. Kamu tahu kan? Penyihir bisa melakukan segalanya dengan mudah? Itulah tujuannya menempatkamu ke sana," Jelas Elbert. "Kami mengandalkanmu."
"Baik, demi Nona!" Ucap Lena dengan semangat. Dia kemudian mengangkat tombaknya, lalu bergegas masuk kedalam mansion utama Fisher.
KLEK.
Setelah pintu tertutup, sekarang hanya tinggal Elbert seorang saja yang ada di teras.
Tidak....
Tapi juga ada Alrescha yang sedang menunggu di balik salah satu tiang. "Kau mengutus dia menjaga kamar itu?"
"Apa anda keberatan?" Elbert berbalik, dan menemui Alrescha yang kini berjalan menghampirinya.
"Tidak, bukan itu yang aku maksud. Hanya saja....memangnya dia mampu berjaga di sana? Bersama dengan mereka?" Alrescha perlahan berpikir kalau Lena yang pada dasarnya belum lama bekerja di kediaman Fisher, bisa saja sudah mati ketakutan dengan penjaga lainnya yang berjaga di kamar rahasia.
**********
'Kamar rahasia? Itu memang ada di lantai dua, kan? Kamar yang dijaga ketat oleh penjaga, tapi yang berjaga haruslah perempuan? Kenapa aku jadi bingung? Di kekaisaran ini kan tidak memperbolehkan wanita menjadi kesatria, apa Tuan Muda diam-diam membuat kesatrianya sendiri yang terdiri dari wanita untuk menjaga kamar rahasianya?' Lena yang masih kedalam kebingungannya sendiri, terus berjalan menyusuri satu lorong ke lorong lain.
Sampai akhirnya Lena sampai di ujung dari lorong yang Lena jejaki itu. Tepat di ujung sana, ada kamar dengan pintu besar berwarna putih keperakan. Bahkan dekorasi yang ada di koridor itu jauh lebih mewah karena berhiaskan ukiran bunga berwarna emas.
Banyak lampu yang menempel di dinding dengan menggunakan batu kristal berwarna hitam?
"Kenapa perasaanku jadi tidak enak?" Gumam Lena.
WHUSH~
Entah datang dari mana, ada angin dingin yang menyapu kulit wajah Lena. Lena sontak mundur dua langkah ke belakang sebab merasa ada keanehan, setelah angin itu datang.
Setelah datangnya angin, perlahan ada kabut tipis berwarna hitam muncul dan berkeliaran di area lorong tersebut.
__ADS_1
Kemudian Lena melihat beberapa patung dari kepala hewan yang menempel di dinding lorong tersebut, tiba-tiba saja bergerak, seperti menatap kearah Lena.
"Apa perasaanku saja? Aku tadi melihat kepala serigala itu kenapa matanya terasa seperti menatap kearah?" Gumam Lena. Sambil tersenyum tawar, Lena perlahan berjalan mundur. Tombak yang Lena pegang pun dia arahkan ke depan untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang muncul lagi dan datang menyerangnya.
Namun, tepat di belakang Lena, keberadaan dari kepala serigala yang lainnya itu tiba-tiba langsung melompat turun dalam wujud aslinya, dan serigala yang sudah memiliki wujud itu, berdiam di situ saja.
Sampai.
BHUAK..
Lena yang tidak sengaja seperti menabrak sesuatu yang ada di belakangnya persis, segera menoleh ke belakang.
GRRRRR......
Kedua serigala berwarna abu dan hitam itu pun mengeram, melihat Lena sudah baru saja menabraknya.
"Aaaauuhhh....!" Suara lolongan serigala itu pun berhasil membuat kawanannya akhirnya sama-sama merubah wujudnya di depan mata Lena.
Lalu serigala berwarna hitam itu, langsung berlari kearah Lena dan melompat.
Lena yang panik dengan perwujudan serigala itu, dan ditambah ada beberapa serigala yang berlari kearahnya, sontak saja membuat Lena langsung mengarahkan tombaknya ke depan, mengayunkan tombak itu sambil berteriak, "Kyaaaa...!, jangan mendekat!'
"Auuhhh.....!"
***************
"Serigala?" Lirih Alstrelia saat secara tidak sengaja indera pendengarannya mendengar
lolongan serigala yang berasal dari mansion.
Saat ini Alstrelia sedang memungut batu kristal berwarna merah yang dia dapat dari hasil kemenangannya melawan makhluk kerdil tadi.
__ADS_1
'Apa yang bisa aku lakukan dengan batu ini? Mengingat batu ini berasal dari bocil tadi, berarti ada kemungkinan besar kalau batu kristal ini mengandung sihir. Tapi.....' Sayangnya perhatian Alstrelia jad teralihkan pada Edward, yang dimana saat ini pria berambut putih perak itu sedang membantu para kesatria dengan sihir tempur. 'Kenapa laki-laki sehebat dia, kelihatannya lemah pada wanita?'