
Di Ibu kota.
Semua orang berlari berhamburan demi menghindari puluhan monster yan gtiba-tiba muncul dari dalam tanah.
"Kyaa! Mama! Tolong aku mama!" Teriak anak perempuan ini, tengah berusaha untuk berlari demi menghindari para monster yang tiba-tiba muncul dan sekarang sedang dirinya sedang dikejar-kejar.
"Hahaha...tidak akan ada yang menolongmu bocah! Oh..bukan itu, justru diisni akulah yang akan menolongmu dengan kematianmu dengan cara menjadikanmu makananku." Ucap monster ini, karean mangsanya ketakuta nsetenagh mati sampai terjatuh sendiri, dia pun langsunng mencengkram tubuh anak kecil itu dan langsung memakannya.
KRAUK...
"Tidak! Anakku!" Teriak wanita ini saat melihat anaknya untuk terakhir kalinya dengan sebuah kematian yang cukup tragis.
Wanita itu sebenarnya ingin menyelamatkannya, tapi apa yang bisa dia lakukan sekarang jika tubuh anaknya itu saja sudah ditelan habis oleh monster tersebut.
"Sini, biar aku membawamu menyusul anakmu." Tiba-tiba tepat di belakang wanita tersebut, muncul pula monster lainnya. Dengan tubuh yang besar itu, sosoknya yang hanya berdiri saja itu pun berhasil melahap keberadaan tubuh wanita tersebut.
"Ak-" Belum sempat mengucapkan kata-kta terakhir, wajanya langsung dicengkram kuat oleh monster tersebut hingga kepalanya langsung pecah dan menyisakan tubuhnya saja yang kemudian monster itu makan juga.
"Nyam...nyam....waktunya panen makanan!"
"Argh!"
"Tidak! Jangan makan aku!"
"Jangan? Nanti aku kelaparan dong." Sahut monster yang kini tiba-tiba muncul dibelakang beberapa manusia tersebut.
Tapi disebabkan ke 4 manusia lainnya sudah berhasil kabur, sekarang akhirnya hanya tersisa satu saja. Seorang pria yang memiliki kebutuhan khusus karena salah satu kakinya mengalai cacat, jadi pria tersebut pun tidak bisa lari dari kepungan dua monster itu.
"Hei, itu milikku!" Ujar monster di depannnya persis, sehingga kedua monster itu saling pandang satu sama lain, setelah itu sama-sama menatap manusia tersebut.
"Bagaimana kalau kita bagi?" Tukas monster tersebut pada teman di depannya itu.
__ADS_1
"Itu ide bagus juga," Jawabnya singkat dengan sebuah anggukan kecil.
Mendengar hal tersebut, manusia itu pun langsug berteriak, "Tidak! Aku tidak mau mati!" Pria ini mencoba kabur dari mereka. Tapi apa daya, sebagai manusia biasa yang tidak sempurna, dia pun terkurung di antara dua monster besar dan akhirnya dia tidak bisa lari dari mereka.
GREP..
Tubuh pria tersebut langsung di tangkap, setelah itu mereka berdua pun saling menarik tubuh itu hingga menjadi dua bagian.
KRAUK...KRAUK....
"Kyaaa!" Beberapa orang yang melihat kejadian tersebut langsung lari lintang pukang.
***********
Di dalam Istana.
"Arsela, apa kau menikmatinya? Walaupun aku tidak rela tapi aku tidak sabar untuk bisa memilikimu seutuhnya." Ucap Charles sambil memeluk Arsela dari belakng, lalu dengan nakal, kedua tangannya itu pun mulai menggerayangi tubuh Arsela.
"Kau! Katamu ada yang ingin kau bicarakan padaku?! Jadi kau menipuku?!" Tanya Arsela dibawah tekanan harus menahan sensasi aneh saat gaun yang Arsela pakai saat ini sudah di singkap naik ke atas, sehingga saat ini Arsela memperlihatkan kedua kaki jenjangnya yang putih dan mulus.
'Aku akui, Alstrelia memang cukup cantik, tapi hatiku masih menyimpan perasaan mendalam pada Arsela. Hahaha...tapi ini sangat diluar dugaan, Arsela yang sudah bertunangan dengan Alrescha itu, kini justru akan bermain denganku.' pikir Charles.
"Berhenti..!" Pinta Arsela ketika pelukan Charles dari belakang itu membuat suasana diantara mereka berdua semakin panas. Hal itu pun ditambah dengan kedua tangan Charles yang saat ini menggerayangi tubuh bagian atas dan bawah milik Arsela secara bersamaan.
"Aku tidak bisa berhenti, gara-gara kau terlalu cantik dengan penampilanmu saat ini yang begitu menggodaku." Goda Charles, lalu dia pun memberikan kecupa tepat di tengkuk Arsela.
CUP.
"..........!" Arsela pun jadi merasakan bulu kuduknya meremang karena sensasi geli itu.
Sekarang mereka berdua ada di dalam salah satu ruangan di dalam Istana. Ruangan besar yang dimana di ujung ruangan tersebut terdapat kaca jendela dengan ukuran raksasa, sehingga memperlihatkan langit malam dari Ibu kota Kekaisaran Regalia.
__ADS_1
Namun, diruangan tersebut tidak ada apapun kecuali ada satu batu kristal setinggi manusia dewasa berwarna ungu, dan letaknya tepat di tengah-tengah dari lantai yang membentuk sebuah pola linngkaran.
Dan Arsela juga Charles saat ini mereka berdua berdiri tepat di depan batu krisstal tersebut, dan Arsela yang sedang dilecehkan itu mau tidak mau jadi melihat cerminan mereka berdua di permukaan kristal tersebut.
'Sialan, dia kenapa berubah sekali? Dulu di ati kakan pernah menyentuhku seperti ini, Tapi-' Suara dari pikirannya pun terhenti dan tergantikan oleh suara desa**n. "Ah~"
Mendengar ******* yang keluar dari mulut Arsela, Charles pun dibuat menyeringai, "Benar. Mendes*hlah." Bisik Charles tepat ditelinga sebelah kanan Arsela. "Karena dengan begitu, batu ini akan semakin besar."
Arsela mencoba menahan desahannya dan menoleh kearah Charles untuk bertanya. "Apa maksudmua, apa hubungannya denganku?"
Masih memeluk tubuh Arsela dari belakang, Charles kemudian mengentikan tangan kanannya yang beberapa saat lalu bermain di pangkal paha Arsela untuk dia gunakan untuk menyentuh batu kristal ungu yang ada di depannya itu.
"Suaramu mmebawa kebangkitan batu ini dan semakin besar batu krital ini maka semakin kuat pula kekuatan yang dihasilkan untuk memanggil mereka. Kau akan tahu jika kita mencobanya. Dan bukankah kau sangat penasaran dengan masa laluku? Kau bisa melihatnya dengan jelas siapa sebenarnya aku, tunangan yang sudah kau sia-siakan ini." Jelas Charles saat itu juga.
DEG!
Arsela seketika tersenyum tawar. Di dalam hatinya dia memang penasaran dengan masa lalu Charles, sebab dia merasa kalau Charles bukan sekedar orang biasa.
Dan sekarang adalah kesempatannya untuk melihat masa lalunya?
Charles yang melihat wajah berpikir Arsela pun dibuat tersenyum miring. "Hah~ Lihat ekspresi wajahmu ini." Charles mencengkram kedua dagu Arsela untuk menatap batu kristal di depannya itu dengan seksama. "Kau terlihat sangat penasaran sekaligus menginginkannya kan?" Ucap Charles. "Arsela, kau wanita yang cukup nakal ya?" Imbuhnya.
"Dengan senyuman tawar, Arsela langsug menyambut wajah Charles dengan sebuah ciuman.
CUP.
"..............." Charles tersenyum simpul melihat Arsela tiba-tiba jadi begitu agresif.
Karena sudah seperti itu, Charles pun menekan kepala Arsela agar wajahnya lebih mendekat lagi dan mencoba membuat ciuman mereka semakin dalam.
__ADS_1
"Umphh...."
Lidah mereka berdua pun saling menyapa satu sama lain, memberikan permainan awal untuk hubungan terlarang mereka menjadi lebih jauh lagi.