
Alstrelia tiba-tiba tertawa kecil, “Pffft….., tangisan yang merdu, dia terdengar seperti kambing saat dipotong.” ejek Alstrelia dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
Tapi senyuman itu segera sirna dan digantikan dengan ekspresi yang dingin.
“Dia pikir aku tidak tahu kalau dia adalah salah satu penyusup dan pelayan disini yang akan menjual informasi kepada orang lain? Memangnya aku akan diam saja jika ada orang yang tahu identitasku ini? Dasar penipu.” Gumam Alstrelia sambil memandang jendela kamarnya dengan tatapan datar.
Meskipun Alstrelia sadar betul soal karakternya yang punya sifat keras juga tegas akan membuat orang lain mulai menaruh curiga padanya karena Alstrelia yang asli memiliki sifat yang pendiam, tapi Alsteria yang ada disini akan tetap melakukan apapun untuk mencegah adanya penyusup yang akan menjual segala informasi yang ada di dalam wilayahnya saat ini keluar dan diketahui orang lain.
Dan caranya?
Memperhatikan semua orang yang bekerja di mansion itu dalam satu waktu.
________________________
Elbert yang berhasil meringkus satu orang itu dengan pedangnya, segera mengikat tangannya.
“Arghh~” ronta pria ini saat belati yang menancap di bahunya langsung dicabut begitu saja oleh Elbert tanpa belas kasih.
“Kau?! Bukankah kau pelayan yang bekerja dimansion milik nona?” tanya Elbert.
Anders yang mendengar pernyataan mengejutkan dari Elbert, sama-sama ikut bertanya. “Apa kau adalah pnyusup untuk menjual informasi pribadi nona Alstrelia kepada orang lain?”
“Dia!” Elbert buru-buru memasukkan kedua jarinya kedalam mulut pelayan itu.
“Argh! Arrhh!” ronta pria berpakaian pelayan yang ditutupi dengan jubah hitam.
Elbert yang berhasil mengaggalkan orang ini bunuh diri sebelum memakan pil bunuh diri, langsung mengeluarkan obat itu dari dalam mulut pelayan itu.
“Itu?!” Elbert tercengang dengan obat yang berhasil di dapatkan oleh Elbert.
“Ini adalah pil bunuh diri.” jawab Elbert sambil menyimpan pil itu untuk diteliti apa saja kandungnya yang ada di dalamnya. “Anders, sebisa mungkin buat dia tetap hidup.” perintah Elbert kepada Anders saat melihat darah mengalir dari luka yang Elbert buat di bahu pelayan itu. “Sekarang bawa dia, dan masukkan kedalam penjara bawah tanah.”
“Baik.” jawab Anders dengan patuh.
Dia segera mengikat kencang pergelangan tangan pelayan ini, meskipun pelayan ini memiliki luka di bahu.
Setidaknya itu sebagai bahan untuk membuat pelayan itu menderita atas kejahatannya.
Selagi Anders membawa si tersangka, Elbert tiba-tiba saja menoleh kebelakang. Tepat di atas sebuah pohon, terlihat ada seekor burung gagak berwarna hitam sedang bertengger dan menatap kearahnya.
‘Gagak itu-’ ketika saat hendak didekati, burung gagak itu langsung terbang ke langit. ‘Kelihatannya itu bukan burung gagak biasa. Tapi aku benar-benar tidak merasakan adanya gelombang sihir sedikitpun dari burung itu.’
__ADS_1
Setelah dirasa sudah tidak ada lagi yang mencurigakan, Elbert pergi menyusul Anders.
KROAK!
KEPAK.
Burung gagak itu akhirnya terbang bebas ke langit malam yang indah nan bersih itu.
_________________________
Disaat yang sama, Alstrelia langsung memejamkan matanya sembari menggeleng-geleng kepalanya dengan pelan.
‘Untuk malam ini, pekerjaannya sudah selesai.’ batin Alstrelia.
“Nona-” Lena yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya, segera masuk kedalam dan berjalan menghampiri Alstrelia yang sedang berdiri menghadap ke jendela.
“Ada apa?” tanya Alstrelia sambil menatap wajah Lena yang tersirat ekspresi dari wajah sedih. Hal itu membuat Alstrelia kembali bertanya : “Apa kau sedang memikirkanku?”
Arti lain dari ucapan Alstrelia adalah, ‘Apa kau sedang memikirkan nona Alstrelia kamu yang asli itu?’
“Anda benar. Saya sangat mengkhawatirkan dan mencemaskan nona yang pulang terlambat seperti ini.” jawab Lena.
“Tapi bukankah yang terpenting sekarang aku sudah pulang?” tanya Alstrelia.
‘Setidaknya disini aku akan menggantikan tempat nona mu itu untuk sementara waktu.’
“Tapi-” Lena terus menunduk.
Dia memang senang karena setidaknya ada yang bisa menggantikan tempat dari nona Alstrelia yang asli dengan wanita ini. Tapi bagi Lena semuanya tetap terasa berbeda jika mengingat sifat dari dua orang nona Alstrelia yang Lena layani benar-benar memiliki sifat tan tempramen yang sangat bertolak belakang.
Biasanya Lena setiap harinya akan menghadapi keheningan dari sosok nona Alstrelia yang dia layani, karena pada dasarnya Alstrelia Vion Beltmore Fisher adalah seseorang yang cukup pendiam, tidak banyak bicara, dan terlihat takut untuk sekedar berbicara pada orang yang berpapasan untuk menyapanya.
Tapi beberapa hari setelah kejadian itu, nona Alstrelia yang dia layani sekarang ini adalah perempuan yang memiliki segala ekspresi wajah yang tidak akan pernah di tunjukkan oleh nona Alstrelia yang satunya lagi.
“Untuk ukuran seorang pelayan, kau sangatlah baik, padahal kita hanya sebatas pelayan dan majikan. Aku memuji ketulusan hatimu kepadaku Lena.” ucap Alstrelia dengan senyuman lembutnya sambil mengelus kepala Lena yang memiliki rambut yang cukup halus.
Merasakan kepalanya di elus, Lena jadi semakin terasa enggan dengan kenyataan yang ada.
“....................!” Lena seketika hatinya dibuat trenyuh. Dia sangat sakit hati sekaligus senang disaat bersamaan.
Perasaan apa itu?
__ADS_1
Lena merasakan sakit hati karena yang mengucapkan pujian itu adalah dari mulut nona Alstrelia yang ini, sedangkan perasaan senangnya adalah dia kembali diperlihatkan satu sisi yang biasanya nona miliki.
Suara lembut dengan tatapan mata yang sayu dari Alstrelia Ve Der Francisteen ini sangatlah mirip dengan Alstrelia Vion Beltmore Fisher.
Lena jadi seperti masuk kedalam jurang keputusasaan, karena yang mengucapkan pujian itu sayangnya adalah Alstrelia palsu.
Tapi setidaknya, untuk saat ini.
Lena akan benar-benar menganggap perempuan yang ada didepannya adalah nona Alstrelia yang dia layani.
“Makasih nona.” jawab Lena lirih dengan senyuman lembut yang yang dipaksakan itu kepada Alstrelia.
Alstrelia yang melihat tatapan yang tersirat perasaan sedih dibalik senyuman lembut itu, membuat hati Alstrelia secara otomatis tergerak untuk memeluknya.
BRUK!
“Nona?!” tanya Lena bingung.
“Apa yang kau rasakan saat ini? Aku bisa merasakannya Lena.” Alstrelia mendekapnya dengan erat.
“Hiks….” Dekapan yang hangat, Lena yang merasakan dipeluk dengan penuh perasaan itu membuat Lena langsung terharu.
“Kau bisa menangis Lena. Sekarang aku disini, kau tidak perlu menahannya lebih lama lagi, keluarkan saja apa yang ingin kau ucapkan kepadaku.” pujuk Alstrelia pada wanita bernama Lena yang sedang dia peluk dengan erat itu.
Terharu dengan semua perasaan yang sudah tidak bisa dia tahan itu, Lena langsung membalas pelukan itu sambil menangis.
“Huwaa...hiks..nona.” tangisan Lena akhirnya pecah saat itu juga.
Sebagai penopang rasa haru dan rindu dari wanita ini, Alstrelia memeluk Lena sambil menepuk pelan punggung Lena dengan penuh perasaan.
“S-saya sangat menyesal karena ..hiks belum bisa menjadi pelayan...yang kompeten.” Ucap Lena dalam tangisannya yang sudah pecah itu.
“Itu tidak benar. Kau sudah melakukan hal yang terbaik yang bisa kau lakukan, itu adalah pencapaian dari seorang palayan yang tidak mungkin bisa di capai oleh pelayan lain.” Jelas Alstrelia. “Itulah kenapa aku memujimu, kau bisa memiliki perhatian sebesar itu kepadaku.” Imbuh Alstrelia.
“Aaahhh….hiks..hiks.” Lena jadi semakin merasakan sedih.
Kesedihan yang berasal dari sebuah pujian yang selama ini tidak bisa dia dengar secara langsung dari mulut nona Alstrelia yang seperti ini, juga menjadi salah satu pemicu sakit hatinya Lena.
Salah satu lagi yang lainnya adalah Lena yang sangat mengharapkan kebahagiaan dari nona Alstrelia yang asil.
Tapi sayangnya…...
__ADS_1