Seni Naga Kuno Taiko

Seni Naga Kuno Taiko
Karena Wanita Ingin Dimengerti


__ADS_3

Bab 292 Karena Wanita Ingin Dimengerti


Cai Xuansi yang di bawahnya melihat wajah yang sangat cantik dan anggun Wu Mengchen yang berada di atasnya dia tidak bisa menelan ludahnya.


Bahkan pesona yang dia yang sedang di atas sangat menawan dan membuat darah Cai Xuansi, sedikit mendidih lahan perlahan.


Tintin Cai Xuansi dengan perlahan mengeras sehingga mendesak bagian sensitif Wu Mengchen, sehingga Wu Mengchen mengerutkan keningnya secara tiba-tiba sambil menatap ke arah Cai Xuansi penuh kebingungan.


Wu Mengchen berkata bingung. “Benda apa ini? Semakin besar dan semakin keras?”


Cai Xuansi bahkan tidak bisa menjawab, dia adalah lelaki normal dan hal yang lumrah jika ada rangsangan menjadi berdiri. Apa lagi media rangsangan adalah wanita yang cantik dan anggun.


Cai Xuansi menjawab canggung. “Itu adalah benda pusaka ku yang paling berharga. Karena benda itu adalah kebanggaan sebagai laki-laki.”


“Apa magsud mu?” Wu Mengchen bahkan tidak berpikir untuk bangun dari tidurnya, dia masih di atas tubuh Cai Xuansi sehingga Tintin itu semakn mendesak.


Awalnya Wu Mengchen masih bingung, sehingga dia tiba-tiba merasakan benda itu mendesak lebih intens, akhirnya dia sedikit demi sedikit langsung paham.


"Kyaaa.. mesum..!”


"Plak!"


"Plak!"


Wu Mengchen langsung menampar keras kepala pipi Cai Xuansi, setelah itu dia sangat sigap berdiri sambil tersipu namun wajah itu menatap ke arah Cai Xuansi penuh amarah.


Cai Xuansi bahkan tidak mengelak dia juga bangun dari tidurnya langsung menatap ke arah Wu Mengchen sambil menggaruk kepalanya.


Cai Xuansi berkata: “Itu adalah kecelakaan yang tidak di sengaja, bahkan kulit pisang itu yang tiba-tiba muncul entah dari mana sehingga kamu terpeleset dan menimpa ku.”


“Masih bisa mengelak justru kamu sudah menikmati sehingga itunya berdiri..” Wu Mengchen molotot ke arah Cai Xuansi. Dia juga tidak tahu entah kenapa ada kulit pisang yang tiba-tiba di tanah itu sehingga dirinya terpeleset.


“Hai.. jangan menyalahkanku Jika kamu ketika tadi jatuh langsung berdiri itu tidak terjadi apa-apa tapi, kamu terlalu lama di atasku aku sebagai pria normal apa bisa tahan?” Cai Xuansi membela kebenaran.

__ADS_1


Wu Mengchen tidak menjawab lagi. Dia langsung memotong daging beruang dengan cemberut tanpa menoleh ke arah Cai Xuansi.


Bahkan Cai Xuansi tidak bisa berkata apa-apa, wanita itu selalu menjadi merepotkan. Karena Wu Mengchen tidak berkata sepatah apapun, ini lebih baik dari pada mengomel terus menerus.


Mereka berdua tidak mengatakan satu kalimat untuk memecahkan keheningan. Dia saling sibuk urusan masing-masing yaitu, memotong daging beruang sehingga hanya membutuhkan beberapa batang dupa, semua daging itu sudah di simpan di cincin penyimpanan.


Adegan mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar karena hal sepele. Tentu saja Cai Xuansi tidak tahu caranya membujuk untuk meredam amarah karena dia sedikit ragu-ragu jika tindakannya menjadi serba salah cuma karena membujuk.


Tapi apa yang dipikirkan oleh Cai Xuansi berbeda jauh dengan apa yang dipikirkan Wu Mengchen. Wu Mengchen sangat marah, bahkan dia tidak bisa berkata apa-apa karena dia sedang marah, bukannya di bujuk supaya tidak marah lagi, namun dia melihat Cai Xuansi sepertinya tidak peka dan tidak bertindak cepat.


Sehingga ususnya menjadi biru karena menahan amarah. Wu Mengchen menatap ke arah Cai Xuansi sangat sengit, tapi alhasil hanya mendapatkan kenihilan.


Setelah sudah selesai semuanya dan sudah membersihkan darah dari bagian tubuh tertentu akhirnya mereka berjalan kembali tapi entah apa yang dipikirkan oleh Wu Mengchen, dia selalu membuntuti di belakang Cai Xuansi.


Tindakan ini, tentu saja sudah disadari oleh Cai Xuansi. Cai Xuansi berpikir mungkin dia mengikuti dirinya karena belum meminta maaf atas hal sembrono nya ketika tadi.


Walaupun sepenuhnya bukan dirinya yang salah tapi dia sudah membaca buku tentang wanita. Dia secara jelas dari garis besar, melihat bahwa Wanita Ingin dimengerti, lewat tutur lembut dan laku agung.


“Nona aku minta maaf.” Kata-kata Cai Xuansi sungguh sangat tulus.


Wu Mengchen yang mendengarkan tentu saja tertegun sejenak, namun dia berpura-pura marah langsung menghampiri Cai Xuansi langsung untuk menabok.


“Kenapa dari tadi tidak meminta maaf hah..!” Kata Wu Mengchen berjalan cepat ke arah Cai Xuansi.


Saat ini, Cai Xuansi bahkan tambah bingung, Dia meminta maaf tapi salah juga dan dia tidak meminta maaf bertambah salah juga dia menghindari tabokan yang dilakukan oleh Wu Mengchen.


“Nona.. kenapa kamu menabok ku..”


Wu Mengchen menjawab: “Huh.. karena kamu sangat menyebalkan..”


Cai Xuansi ketika ditabok oleh Wu Mengchen dia menghindari begitu sangat lihai. Sehingga Wu Mengchen sangat marah dia berkata lagi. “kamu tidak diijinkan untuk menghindar...”


“Sial.. apakah kamu gila.. ” Cai Xuansi juga marah, sambil menghindari terus menerus.

__ADS_1


“Kamu... memarahi ku..” Wu Mengchen bertambah marah dia berlari semangat untuk menabok Cai Xuansi. Jika Tun Ri melihat perilaku Wu Mengchen yang berbeda ketika sedang melawannya maka Tun Ri akan terpana.


Karena sifat Wu Mengchen yang di pancarkan kepada Cai Xuansi itu seperti alami tanpa ada jejak pertahanan diri.


Ketika Wu Mengchen mengejar Cai Xuansi, entah kenapa kaki kanannya terkilir sangat keras sehingga dia terjatuh.


"Aduh..!"


Wu Mengchen kesakitan otomatis Cai Xuansi mendekatinya. karena sedikit khawatir akhirnya Cai Xuansi bertanya: “Kamu kenapa?”


“Kaki ku terkilir..” Balas Wu Mengchen penuh kesakitan.


“Kalo begitu, sembuhkan menggunakan obat-obatan yang kamu bawa..” Cai Xuansi membalas.


“Baik...” Wu Mengchen mengecek ke dalam cincin penyimpanannya, namun seketika tiba-tiba matanya melotot sehingga Cai Xuansi bingung langsung berkata: “Ada apa dengan expresi mu itu?”


“Obat penyembuh ku habis..” Wu Mengchen bodoh di tempat.


Cai Xuansi setelah mendengarkan langsung berkedut mulutnya. Namun mencoba tetap berpikir jernih agar tidak di salahkan lagi.


“Obat mu habis kalau begitu gunakanlah kultivasi mu untuk menyembuhkan secara perlahan.” Kata Cai Xuansi.


“Jika pake kultivasi membutuhkan beberapa jam untuk sembuh seutuhnya, mungkin aku meminta bantuan mu untuk membawakan aku ke tempat aman seperti gua dan sebagainya.”


"Ini bertujuan untuk menghindari mara bahaya jika ada monster ketika aku sedang memulihkan cedera ini.”


Wu Mengchen menjelaskan panjang lebar, kepada Cai Xuansi. Tentu saja Cai Xuansi wajah jelek dia bersama wanita malahan mendapatkan masalah terus menerus.


Cai Xuansi tidak berdaya langsung berjongkok dan berkata seperti ini: “Baik, kamu kemarilah biar aku gendong kamu.”


“Apakah kamu gila? Aku tidak bisa berjalan kamu kemarilah..” Wu Mengchen Memarahi seperti maklampir.


Cai Xuansi ingin menangis tapi tidak ada air mata, dia tanpa berdaya langsung mendekati Wu Mengchen untuk menggendong.

__ADS_1


__ADS_2