
Bab 92 Kedua Wanita Itu Di Jadikan Karung Pasir
"Sampai berlebihan?" Wudang Chanseng, dia tidak mengira penduduk Dayan yang lama akan begitu Fanatik, karena sudah menyelamatkan.
"Terimakasi rekan..!" Wudang Chanseng kembali pergi melanjutkan perjalanya kembali. Menurut para warga, ibu kota Naga Azhure tidak di tanah kota hitam. Namun ibu kota Naga Azhure berpindah tepatnya bekas runtuhan sekte terbaik nomer dua di waktu itu.
"Ayo kita pergi...!" Wudang Chanseng pergi sambil terbang untuk mempercepat jarak waktu tempuh ber sama Meng Hu.
Ketika mereka berdua sedang terbang, dia tidak mempercayai apa yang di lihat ketika dia awal memasuki wilayah Naga Azhure. Setiap penduduk yang tersebar di wilayah ini semua penduduk, ada patung besar dengan rupa yang sama nan tinggi.
Sangat fanatik!
Apa lagi, dia melihat para penduduk yang sedang membuat lahan baru untuk pertanian, menurut dirinya itu hanya membuang waktu. Baginya seseorang kultivator, tidak membutuhkan makanan seperti apa yang di tanam di wilayan Naga Azhure.
Wudang Chanseng bahkan hanya memikirkan masalah kultivasi, tidak mempermasalahkan bahan pokok makanan seperti yang dia lihat.
Memang betul, awalnya dia setuju dan tidak terlalu memikirkan hal seperti itu. Tapi, ketika dia memasuki wilayah Naga Azhure, semakin dalam dia pergi ke Naga Azhure, dia akhirnya membalakan matanya.
Dia dan Meng Hu melihat rumput peri, yang di tanam oleh penduduk Naga Azhure yang sangat luas, dia juga melihat danau kecil yang di tumbuhi teratai berbagai jenis warna yang sudah di pastikan kualitas tinggi.
Dia sangat serakah ingin memetik satu. Tapi tiba-tiba ada penduduk biasa yang menghentikan. "Hei kamu apa yang sedang di lakukan... !"
Suara itu, seperti anak kecil yang masih di bawah umur Wudang Chanseng dan Meng Hu. Wudang Chanseng melihat wanita yang sendirian di tengah hutan dan di pinggir danau, seharusnya akan berbahaya jika sewaktu-waktu ada monster yang menggigit wanita itu.
Dia juga yakin wanita itu hanyalah manusia biasa yang hanya membawa tongkat dan satu penudung di kepala.
Meng Hu tidak tahu dan mengkerutkan matanya lalu membalas: "Rekan siapa kamu kenapa kamu sendirian di tengah-tengah hutan."
Wanita kecil itu menjawab sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak sendiri tapi aku bersama ibu dan ayah di ujung sana. Aku berteriak karena aku tidak mengijinkan kamu untuk mengambil bunga teratai yang tersebar di danau ini."
Wudang Chanseng wajahnya serius, dia menatap ke wanita biasa tanpa kultivasi berkata sambil cemberut: "Oh kenapa bukan kah ini alam liar, siapa cepat maka dia yang dapat."
"Kamu salah besar, bungga ini adalah aku yang menanam, karena di instruksikan oleh Long Xiandi." Wanita kecil menggelengkan kepalanya dan menatap ke dua wanita itu, nampak serius.
Wanita kecil, setelah dia di kasih tongkat oleh perajurit Naga Azhure atas perintah Long Fai, entah kenapa tubuhnya menjadi kuat dan sangat misterius. Sehingga wanita kecil itu dia sudang menganggap tongkat ini adalah tongkat ajaib.
__ADS_1
Tentu saja hal serupa di rasakan penduduk Naga Azhure terlepas itu manusia biasa apa Perajurit. Karena perubahan misterius inilah, semua warga Naga Azhure menjadi menyembah Long Fai, dan meyakini bahwa Long Fai adalah seorang bijak yang menakutkan.
"Kamu bilang, ini semua raja kamu yang menanam?" Wudang Chanseng terkejut sesaat. Namun setelah melihat bahwa wanita itu setidaknya manusia biasa dia menjadi berani.
"Jadi apa? Selagi raja kamu jauh dari sini kita bisa memetik bunga itu semau kita iya kan Meng Ho?" Wudang Chanseng tersenyum licik ke arah Meng Hu
"Ini benar." Meng Hu juga mengangguk tersenyum.
Tapi wanita kecil itu, menggelengkan dengan tanpa takut: "Tuan, ini adalah perintah. Jika kalian bersikeras untuk mencuri maka maafkan aku jika kasar."
"Hahaha aku tidak takut, kamu hanyalah wanita kecil yang lemah, ayo kita ambil bunga itu Meng Ho.." Teriak Wudang Chanseng lalu dia berniat berlari untuk menabrak wanita kecil itu yang lemah.
Namun, pada saat itu...
"Pak!"
"Bug!"
"Ahh!"
"Aduh!"
"Kamu.. wanita kecil, berani sekali menyiksa putri kerajaan tidak di maafkan!" Meng Hu berteriak dia kembali menyerang. Dia mengeluarkan belati kecil untuk menebas leher wanita kecil itu yang lincah dan sangat jenaka.
Namun usaha Meng Hu sia-sia. Dia pada akhirnya di pukuli di setiap siku sehingga terjatuh tidak bisa bergerak. Jurus yang di gunakan wanita kecil itu, adalah jurus tongkat penjinak anjing yang secara tiba-tiba datang dan tertanam di otaknya, setelah dia memegang tongkat biasa itu.
"Ini tidak mungkin, kenapa kekuatan aku tidak berguna melawan kamu.." Meng Hu tidak berdaya. Bahkan dia tidak menerima sedemikian rupa perlakuan wanita kecil itu terhadap dirunya.
Namun wanita kecil membuat dengusan dingin: "Humpp ternyata seorang kultivator sangatlah sampah, huh mending aku tidak ingin menjadi kultivator. Lebih baik menjadi wanita biasa."
"Kamuu..." Meng Hu ingin muntah, begitu mendengar colotehan yang di lakukan wanita kecil.
"Ada apa? Ini benar, kalian berdua sangat lemah.. Aku sangat kecewa kepada kultivator karena berharap tinggi." Wanita kecil mengangkat bahu sangat polos.
"Kamu meremehkan aku..!" Pekik Wudang Chanseng dia berlari menggunakan tanganya untuk menampar pipi wanita kecil itu. Dia melihat bahwa tangan Wudang Chanseng menyala mengeluarkan api.
__ADS_1
Namun Wanita itu masih tenang dia menggunakan tongkat itu untuk memukul pergelangan tangan Wudang Chanseng.
"Pak!"
"Aduh!"
"Ini sakit," Wudang Chanseng menjerit. Dia terkena pukulan di kedua pergelangan tanganya dan di punggung hingga memar.
"Aku sarankan kepada kamu untuk menyerah." Wanita kecil berkata serius. Namun kedua wanita itu memiliki aroganisasi yang sangat tinggi sehingga enggan untuk menyerah.
"Aku tidak akan menyerah terhadap manusia biasa..! Ayo kita serang lagi...!" Wudang Chanseng menggertakan giginya dan berteriak.
Tapi...
"Bug!"
"Pak!"
"Buf!"
"Aduh!"
Namun hasilnya sama saja. Dia melakukan perlawanan selama berapa menit telah berlalu, kedua wanita itu mengalami lebam di sekujur tubuhnya. Bahkan dia di gambarkan sebagai karung pasir yang sangat menyedihkan.
"Tsk..tsk..tskk...!" Wanita kecil menggelengkan kepalanya dia berkata lagi: "Ok baiklah aku ingin beristirahat jika kamu ingin melawan aku, tunggu berapa jam lagi."
Wudang Chanseng dan Meng Hu ingin memarahi dalam hati, tapi untuk memarahi dia tidak berani karena jika dia berani, akan di jadikan karung sampah yang menyedihkan.
"Ini sungguh sakit, sial..!" Wudang Chanseng marah, dia baru mengalami di lecehkan oleh manusia sedemikian rupa. Namun dia juga tidak tahu kenapa ketika dia melawan anak kecil, kekuatanya seseolah di penjara.
"Jenis jurus macama apa ini.." Wudang Chanseng berteriak.
"Tuan, ayo kita istirahat dulu, di sini, jika sudah pulih kita memberi pelajaran pada bocah keparat itu." Meng Hu berkata tidak jelas karena kedua pipi sangat lebam seperti di sengat tawon.
"Ini benar, kita harus memulihkan tenaga dulu. Ketika tenaga sudah kembali, kita harus memberi pelajaran kepada bocah tengik itu." Wudang Chanseng menggertakan giginya dia sangat marah. Bahkan jika dia pulang ke kerajaan Wudang dia harus mengadu kepada Ayah.
__ADS_1