
Bab 376 Masih Kalah
Song Chufeng melihat telur emas yang berhamburan di tanah, akhirnya tidak bisa menghela nafas.
Song Chufeng berkata kepada ketiga wanita, ‘‘Makanan ini sungguh tidak layak lagi, mari kita bereskan sisa makanan dan ambilah semuanya untuk dikasih pakan ikan milik Tuanku,”
"Puf!”
Ketiga wanita langsung terbatuk, seperti sedang mendengarkan perkataan yang sangat ajaib. Karena Song Chufeng berkata bahwa makanan yang berkualitas ini sungguh ingin dikasih pakan ikan milik Tuan, mereka semua yang mendengarkan tentu saja terbatuk canggung.
Meskipun sangat disayangkannya, Lin Wuha dan lainya tidak protes. Karena mereka juga tahu dari apa yang dikatakan Song Chufeng di tempat Tuannya masih ada lagi makanan yang sangat indah dan bagus.
“Hmm baiklah Paman,” Lin Wuha dan lainya mengikuti Song Chufeng untuk pergi ketempat dimana Long Fai sedang berada.
Hutan yang gundul sudah sebagian yang sudah ditanami beberapa sayuran dari Song Chufeng. Mungkin Anda akan bertanya, bagaimana pemandangan di ladang hutan gundul tersebut.
Jika Anda pernah ke daerah Bali, mungkin Anda akan tahu di bagian wilayah Ubud bagaimana panoramanya. Di tempat ini Anda akan melihat pemandangan yang begitu memukau walaupun belum sepenuhnya di garap oleh Song Chufeng, tapi pemandangan sungguh luar biasa dan Ubud masih kalah jauh.
Dari kejauhan ada lereng seperti kotakan sawah yang membentang mengikuti lereng perbukitan, jika Anda berada di sini, mungkin akan berkata ini salah satu tempat keajaiban dunia dan Anda akan mengatakan secara terus terang.
Tempat yang sungguh indah dan ini sepenuhnya belum selesai untuk ditanam bermacam sayuran oleh Long Fai.
Kini sudah satu batang dupa berlalu, Song Chufeng dan ketiga wanita sudah mengikuti ketempat dimana Long Fai berada.
Sai Lin pertama kali melihat toko kelontong dan disebelah seperti ada pembangunan toko lagi, langsung berkata kepada Song Chufeng.
“Paman, apakah toko ini tempat dimana Tuan Long Fai berada?” ucapan Sai Lin sepertinya ada jejak expresi ambigu, karena toko yang kecil dan ditengah-tengah hutan mungkin saja akan khawatir dimalam hari terdapat monster buas yang tiba-tiba menyerang.
Mungkin Anda juga akan berkata demikian bagaimanapun, tokoh yang kecil itu berdiri di tengah-tengah hutan dan jauh dari kerumunan penduduk ramai.
__ADS_1
Mempunyai rumah di tengah-tengah hutan yang sangat luas, mungkin saja terdapat monster buas yang sangat berbahaya. Jika itu Anda, apakah Anda akan bersedia membuka toko ditengah-tengah hutan? Tentu saja Anda langsung menolak dengan tegas, sekalipun Anda adalah seseorang kultivator bagaimana mungkin menempatkan diri ke hutan yang memiliki hewan buas, apalagi monster buas tersebut akan sangat aktif ketika di malam hari.
Akan tetapi, ini berbeda dengan pikiran Long Fai, dia hanya ingin menjauhi ke tempat keramaian karena ingin membangun sebuah penginapan dan Long Fai juga membulatkan niatnya untuk menjadikan wilayah ini menjadi semakin menarik.
Namun, Sai Lin bahkan kedua wanita yang lagi masih tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Song Chufeng dan Long Fai, sehingga tanpa pikir panjang Sai berkata demikian.
Song Chufeng yang sudah tiba di toko Long Fai mendapati pertanyaan seperti itu masuk akal juga tapi juga tidak mengetahui perkara yang di intruksi Long Fai sehingga hanya membalas seperti ini: “Tuan Long tidak terduga, setiap tindakan yang memiliki makna tertentu dan kami sebagai pengikut harus mencermati dan menaati apa yang dikatakan Tuan.”
“Apakah ada hal seperti itu?” Ning Ming juga bingung, tapi untuk memastikan kebenarannya maka mereka bertiga mengikuti Song Chufeng.
Begitu mereka semuanya sudah tiba di toko tersebut dan mendapati ada Lin Kun yang sedang memotong daging burung raksasa, akhirnya ketika wanita itu langsung terkejut di tempat.
“Burung itu!”
Mereka bertiga terperangah dengan apa yang sedang dilihat. Bagaimanapun, akhirnya sekarang mempercayai apa yang dikatakan Song Chufeng pada waktu itu.
“Bagaimana gadis, apakah kalian sudah percaya apa yang dikatakan Paman pada waktu itu, hehehe!” Song Chufeng mringis kemudian berkata kepada Lin Kun agar meminta telur emas yang sudah telur di peternakan unggas.
“Mmmm Lin Kun, bisakah meminta tolong kepada mu, aku meminta tiga telur untuk diberikan kepada ketiga wanita ini? Karena dia sudah bersedia membantuku menanam benih di hutan gundul tersebut.”
Lin Kun yang dipanggil Song Chufeng menoleh dan langsung pergi kedalam tempat unggas, dia mengambil telur emas tersebut yang masih banyak lendir Fenghuang Lin.
Setelah mengambil beberapa telur, Lin Kun langsung memberikan kepada Song Chufeng.
“Paman ini telur masih segar, dan sangat enak untuk dimakan,” kata Lin Kun kemudian dia melanjutkan lagi untuk memotong daging monster burung.
Song Chufeng juga tersenyum, setelah melihat telur emas burung Unta yang masih berlendir akhirnya hanya mengerutkan keningnya, “Ini kenapa telur ini, memiliki aroma pantat wanita?”
Lin Kun tidak berdaya, “Paman aku tidak mengerti, tapi burung Unta ini adalah satu-satunya yang tidak galak.”
__ADS_1
“Oh seperti itu,” balas Song Chufeng. Dia tidak tahu bahwa telur yang sedang dipegang adalah gadis Fenghuang Lin yang pernah bertarung pada saat itu. Jika mengetahui, mungkin akan muntah.
Kini Lin Wuha melihat kepala monster burung raksasa tersebut, hanya menelan ludah dan berkata, kepada Lin Kun. “Anu apakah burung raksasa tersebut kamu yang membunuhnya?”
Lin Kun berkata lugas, “Benar, monster ini aku yang membunuhnya agar bisa dijadikan menu terbaru dari Tuan ku, ada apa?”
Lin Wuha buru-buru membalas, “Hahaha tidak-tidak aku hanya ingin tahu saja heheh.”
“Baiklah,” kata Lin Kun dan tidak bertanya lagi.
Song Chufeng membuat izin kepada Ning Ming dan lainnya, “Kalian tunggu disini Paman ingin melapor kepada Tuan Long.”
“Hmm baik paman!” Mereka bertiga menjawab serempak.
~
~
#Sekte Teratai Salju
“Bajingan!” Tiba-tiba Duan Xiaochu membanting Vas bunga begitu mendapatkan murid senior yang bernama Luo Feng meninggal dengan cara mengenaskan.
“Benar ketua Sekte, kita tidak mengira bahwa pria tua bangka tersebut masih memiliki cara yang sangat licik.” Balas Huang Chen dengan serius.
“Baik, kalian keluarlah! Biar aku memikirkan bagaimana melenyapkan tua bangka tersebut,” balas Duan Xiaochu, tatapannya sangat jahat. Mungkin saja jika tatapan tersebut diarahkan kepada manusia Fana akan mati seketika.
Duan Xiaochu merenung dan berkata kepada diri sendiri, “Siapa sebenarnya dia, jangan sekali-kali menghalangi Sekte Teratai Salju ini jika tidak, aku khawatir kamu tidak bisa meminta maaf.”
Duan Xiaochu berpikir keras dan jari jemarinya mengetuk-ngetuk meja beberapa kali sambil berpikir untuk menyelidiki TKP menggunakan pembunuhan bayaran.
__ADS_1