
Bab 415 Qingua Tidak Mempercayai
Di atas langit, tempatnya di alam para dewa, tiba-tiba Lie Jie yang sedang bersantai-santai sambil mengangkat kaki Erlang, tiba-tiba wajahnya berkerut karena hujan yang akan diturunkan di dunia itu seketika tidak berfungsi.
Karena merasa curiga akhirnya dia kedua mata itu langsung menembus ruang dan waktu untuk melihat di tempat Kerajaan Shin di bagian Qingua.
Ketika melihat wilayah Qingua, seketika kedua bola mata itu melotot tajam seperti ingin keluar dari tempatnya.
“Orang itu lagi!” Lie Jie wajahnya sepertinya tidak bisa menggambarkan bagaimana akan dilakukan terhadap Long Fai.
Pada waktu, ketika Long Fai telah menghentikan hujan dan petir dia diam-diam mengirim petir untuk menyambar tubuh Long Fai. Akan tetapi bukanya petir itu menyambar, tiba-tiba petir yang telah dikirim oleh dirinya berbalik arah kepada dirinya dengan kekuatan yang berkali-kali lebih kuat.
Karena peristiwa yang aneh seperti itu, dirinya yang sudah disetarakan menjadi dewa petir dan pengendali hujan, langsung bertanya kepada diri sendiri. Sebenarnya siapakah yang memiliki gelar Dewa petir dan hujan, kenapa dirinya yang sudah mendapatkan gelar itu masih kalah dengan Bocah Long Fai.
Lie jie sungguh tidak habis pikir bahkan untuk melawan bocah itu sangatlah kewalahan.
Sementara itu, Qingua langsung menanyakan kepada Long Fai. “Long Fai apa yang dilakukan kepadamu, bisakah kamu menghentikan air hujan dan petir?”
“Aku? Mana mungkin, aku berteriak seperti itu mungkin kebetulan. Aku bukanlah Dewa yang bisa mengendalikan petir dan hujan kamu mengada-ngada," ucap Long Fai, padahal dia sedang berpura-pura. Jika Qingua kehebatan dirinya mungkin akan bertambah selalu dekat dengan dirinya. Maka dari itu, Long Fai akan mengatakan yang tidak sebenarnya.
“Kamu bilang ini adalah kebetulan?” Qingua seketika matanya menyipit tajam, dia sungguh tidak percaya apa yang dikatakan oleh Long Fai. Alasan Kenapa dia tidak mempercayainya adalah yang pertama bagaimana mungkin ada pohon yang memiliki bunga seperti kotoran ayam dan getah yang sangat pahit tiba-tiba mengeluarkan buah persik yang sangat enak.
Yang kedua, bagaimana mungkin ada hal yang kebetulan memancing di sungai yang kecil langsung mendapatkan ikan umur panjang yang keberadaannya sungguh sangat sulit ditemukan.
__ADS_1
Yang ketiga, Long Fai bisa memarahi petir dan hujan sehingga petir dan hujan itu langsung ketakutan.
Ketiga peristiwa itu saling berurutan sehingga Qingua melihat alasan yang dilakukan Long Fai, sungguh tidak mempercayainya.
Qingua kemudian berkata lagi, “Apapun alasanmu aku tidak percaya, justru sekarang aku mempercayainya bahwa kamu adalah raja dari Naga Azhure.”
“Terus bagaimana? Setelah kamu sudah mengetahui identitas aku apa yang akan kamu lakukan.” Long Fai tersenyum tipis seperti bulan sabit.
“Apa yang aku lakukan, tentu saja aku akan mendaftar menjadi selir mu.” Qingua terkekeh sangat menawan.
“Kamu percaya diri sekali, kita berdua berbeda untuk mengarungi perahu Kamu adalah musuh begitupun juga sebaliknya jadi, Jangan berharap musuh akan menjadi teman itu tidak mungkin.”
Kemudian, Long Fai sungguh sangat murah sehingga tidak melanjutkan lagi untuk memanggang masakan itu, melainkan dia hanya pergi ke Artefak naga untuk melanjutkan lagi memanggang ikan umur panjang.
Kemudian, Long Fai berkata: “Malaikat, turunkan hujan lagi,”
“Uhhh! Apa yang terjadi?” Qingua langsung beranjak bangun mengalihkan selimut yang menempel di tubuhnya kemudian bangkit dari tidurnya.
Qingua ingat bahwa dirinya belum lama ini, masih di pinggiran tempat keramaian dan bertemu orang bernama Long Fai. Akan tetapi, ketika dirinya melihat Long Fai terbang ke atas langit tiba-tiba setelah mengejar, dirinya menemukan bahwa sekarang sudah berubah tempat.
Qingua berubah tempat sedang tertidur di kasurnya sambil memakai selimut sehingga memikirkan peristiwa ketika bertemu Long Fai itu seperti peristiwa mimpi.
“Ini sangat aneh, seseolah aku bertemu dengan Long Fai hanyalah mimpi?” Qingua berguman terus menerus. Secepatnya, karena memiliki keingintahuan terhadap Long Fai, Dia memutuskan untuk pergi ke wilayah Kerajaan baru. Yaitu Naga Azhure.
__ADS_1
Karena semua kriteria untuk menjadi pasangan hidupnya sudah 100% sempurna.
Ketika sedang di dalam kamar, Qingua tiba-tiba melihat pada beberapa pelayan yang datang untuk memasuki ke kamarnya.
Begitu pelayan itu menemukan dirinya seketika langsung tersadar dan berkata. “Ahh penguasa Qingua, kamu sudah bangun!”
Melihat keterkejutan dari pelayan tersebut, Qingua seketika langsung memiliki wajah yang bingung dan berkata seperti ini.
“Apa magusud mu?”
Pelayan itu kemudian mendekati ke arah Qingua dan menjelaskan, “Nona, ketika kamu di dalam gerobak itu ingin meminta izin keluar tiba-tiba, pengawal yang mengendarai kereta kuda menemukan Nona tidak sadarkan diri.”
“Kamu tidak sadarkan diri langsung dibawa dengan panik ke tempat tidurnya, sekarang setelah kami ini ingin mengantarkan beberapa makanan, kami menemukan Nona sudah siuman,” ucap pelayan tersebut sambil menghela nafas lega karena sudah melihat Qingua bangun dari pingsannya.
“Apa! Bagaimana mungkin!”
Qingua sekarang kepalanya pusing karena peristiwa yang sangat rumit, dia tahu bahwa ketika meminta izin untuk keluar dari gerobak dia sadar menemukan sosok Long Fai dan dia juga merasakan bahwa itu adalah nyata, akan tetapi apa yang dilihat para pengawal dan pelayan dirinya sedang pingsan dan tidak sadarkan diri.
Karena peristiwa yang sangat merumutkan akhirnya dia sudah bertekad bulat untuk memasuki Kerajaan Naga Azhure dan ingin menemukan Long Fai secepatnya.
Saat ini, Long Fai tidak mengetahui kerumitan apa yang dipikirkan oleh Qingua akibat perpindahan waktu dan peristiwa karena diakibatkan campur tangan salah satu Malaikat.
Bahkan, Long Fai sudah memanggang ikan itu sampai akhir, dan dia juga keluar lagi ke tempat kerajaan Shin lagi untuk melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
“Hmmm apakah wanita gila itu sudah menghilang?” Long Fai berguman. Akan tetapi tidak ada gunanya karena mungkin saja Qingua akan pergi ke tempat wilayah sendiri dan menemukan dirinya.
“Sial wanita itu sungguh rumit!” Long Fai tidak berdaya.