
Bab 74. Pertolongan Phoenix Api
Semakin Bai An di kepung, semakin dia memiliki rasa juang yang tinggi dalam petarungan. Bahkan dia sangat menikmati setiap pertarungan. Darah Bain An saat ini mendidih dan berteriak: "Ahhhh ayo bajingan kemarilah meminta pemenggalan kepala."
Bai An melompat sangat tinggi seperti Hulk. Karena terlau bersemangat dia meremehkan musuh.
Panglima kerajaan Dayan seperti Fang Mo di sini memiliki lusinan orang yang sedang mengepung dirinya.
"Bang!"
"Gahakk!" Bai An memuntahkan darahnya ketika perutnya di tinju oleh tiga panglima kerajaan Dayan.
"Uhuk...uhukkk..uhukkkk.. ! Kamu sangat pengecut suka main kelompok." Mata Bai An menyipit tajam. Namun walau dia terkena tinju serangan combo tiga orang dia juga melemparkan kapak ke arah beberapa perajurit tingkat rendah dan berhasil memanen kehidupan.
"Hahaha pengecut, dalam pertarungan untuk mencapai kemenangan segala hal harus di lalukan. Tanpa kecuali pengecut hahahah." Fang Mo sekarang percaya diri setelah ada lusinan bala bantuan yang datang untuk membantu.
Memikirkan ini akhirnya Bai An berpikir. Setelah berpikir, dia memutuskan untuk menyerang perajurit yang paling lemah. Dia harus memberisihkan secepatnya.
"Sikat!"
"Ahhhh!" Bai An berteriak setelah melompat dan mendarat dia berlari seperti cetah sambil menebas para perajurit yang terlamah.
"Ahh!"
"Ahhhgr!"
"Puf!"
"Lari...!"
"Ampunnn!"
Setiap tebasan setidaknya perajurit akan meninggal dalam ke adaan tubuh terpotong menjadi dua bagian.
"Hei bajingan lindungi perajurit yang terlemah kalian!" Dayan Xiobai meraung para panglima teralu lengah sehingga perajurit sendiri terkena bobolan.
"Oh sial ayo kita bersatu untuk menyerang bocah itu...!" Salah satu panglima kerajaan berteriak beringas kepada rekan lainya.
"Ayoo kita habisi!" Rekan lainya lagi juga berteriak dia mengeluarkan aray penghancur radius 1km.
Ketika Bai An sedang asik membantai, tiba-tiba dia terjautuh dia seperti meraskan gaya gravitasi yang meningkat, sehingga dia meraskan rasa berat yang amat luar biasa.
"Jurus apa lagi ini... Tubuh aku ahhhhhhh!" Bai An terus meraung dia mencoba berjalan. Bahkan setiap dia menahan grvitasi itu, tubuhnya memancarkan cahaya emas yang menyelimuti tubuhnya.
Bai An melemparkan kapak ke salah satu jendral perang yang sedang membuat formasi: "Aku harus melenyapkan satu persatu perajurit itu."
"Ahhhhhhh!" Dengan susah payah Bai An melemparkn kapak itu dengan kekuatan penuh. Bahkan dia melupakan saran Long Fai bahwa dia harus menggunakan kapak itu jangan terlalu menggunakan basis kekuatan.
__ADS_1
Namun saat ini Bai An mengabaikan.
"Ahhhh!" Bai An langsung melempar kapak itu sangat cepat dan langsung mengenai perut jendral itu hingga tewas seketika dalam penampilan usus berserakan karena tubuh terpotong.
"Ohh soal dia masih kuat...!"
"Ini bagai mana!" Salah satu rekan lainya dia berkeringat deras.
Tapi setelah kata-kata di lontarkan, kepala itu hilang terkena lemparan kapak Bai An.
"Bajingan sekarang kamu." Bai An menunjuk ke salah satu rekannya yang tersisa. Setelah dia membunuh dua orang pembuat formasi, dia merasakan bahwa tekanan gravitasi sedikit berkurang.
Bai An berlari sambil membungkuk dan mengeram layaknya singa yang mengaum. Dia melemparkan kapaknya lagi langsung di arahkan panglima perang yang tersisa.
"Hiyaaahhhhh!" Sambil mengeram, Bai An melemparkan sangat bertenaga.
"Sring!"
"Swosh!"
"Akhh tidak tolong!" Panglima perang melihat rekan semuanya mati hanya menyisahkan dirinya dia berteriak minta bantuan kepada panglima jendral yang tersisa.
"Kalian ayo bantu aku mengaktifkan formasi ini...!" Kata panglima dia menyuruh untuk membantu mengaktifkan formasi dan sebagian untuk menghalau penyerangan Bai An.
"Sialan ayo kita mengulur waktu dan kita menyerang bersama ke bocah keparat itu.
"Bajingan sangat merepotkan..!" Bai An tidak bisa berkutik dia di bombardir oleh jurus pamungkas semua panglima perang.
"Bom!"
"Bang!"
"Puf!"
"Ahhh uhuk.. Uhukkk...! Sial aku tidak boleh mati aku harus mempertahankan wilayah ini aku harus menunggu Long Fai datang!" Bai An menjerit dalam hati.
Namun karena paksaan itu begitu banyak dia terjatuh bahkan setaminanya kelelahan..
"Tidakk! Aku harus bertahan!" Bai An meraung lagi dia mengibaskan kapaknya ke salah satu panglima yang sedang terbang.
"Sring!" Panglima itu tidak siap akhirnya di penggal kepalanya hingga meledak.
"Ayo kita serang bersama lagi, aku merasa bahwa bocah ini sedang merasakan kelelahan!" Fang Mo yang berada ke jauhan berteriak.
Para murid sekte yang melihatnya dia semakin luar biasa. Para siswa tidak menyangka bahwa para perajurit Dayan mengepung Bai An yang berjuang sendiri. Namun awalnya Bai An masih bersemangat penuh energi. Karena serangan yang di arah dirinya tidak pernah berhenti dia merasakan kelelahan.
Namun walau begitu, setiap serangan Bai An akan memanen nyawa perajurit Dayan.
__ADS_1
Pada saat itu.....
"Berdengung!"
Serangan pamungkas lagi dari semua panglima kerajaan Dayan di arahkan ke pada Bai An.
"Ahhhh tidak bajingan kamu kerajaan Dayan aku tidak ingin mati.!" Bai An tubuhnya di hantam oleh semua sinar jurus dari semua paglima jendral. Akhirnya di terpental darah bercucuran tangan kanannya hilang. Bahkan dia ingin berdiri sudah tidak ada tenaga.
"Ahh sial aku sebagai adik laki-laki Long Fai tidak bisa menyelamatkan hutan peri Long Fai aku sangat engan jika hutan itu ambil paksa oleh kerajaan Dayan." Bai An yang tergeletak lesu dia menangis.
Di kejauhan, Dayan Sumei menghina: "Hahah kamu keparat akhirnya mati kamu hahaha. Ini akibatnya jika kamu mengatakan aku penghianat. Perajurit serang dia menggunakan formasi penghancur cepat!"
"Siap!"
"Bai An kamu akhirnya kalah dan kamu paham kan siapa pemenangnya." Fang Mo licik dia sangat menghina Bai An.
"Hahaha bajingan jika kamu membunuh aku, bahkan hantu aku, akan menaruh kebencian kepada dinasti Dayan! Aku ingin memusnahkan kerajaan Dayan." Bai An berteriak dengan serak.
"Nak lebih baik kamu menyerah ayo berpihaklah kepada aku." Tiba-tiba Long Shi berkata sangat lembut.
"Cihh dasar keluarga Long munafik rubah tua ! Pantas saja Long Fai meninggal kan keluarga kamu, karena kamu bsgitu tak tahu malu." Bai An menjawab sambil melihat langit. Entah kenapa dia selalu memandang langit sedeolah dia yakin bahwa Long Fai akan kembali.
"Kamu sangat keras kepala!" Long Shi menggelengkan kepalanya dan dia menatap ke arah selusin perajurit dan berteriak: "Kalian bunuh secepatnya!"
"Betul perajurit aku kalian bunuh pemuda ini." Dayan Xiobai berkata sangat tenang tanpa jejak khawatiran, seseolah sudah dalam rencana.
"Baik Raja!"
Panglima berteriak dia langsung mengaktifkan aray penghancur.
"Berdengung!"
Paksaan itu langsung menghantam Bai An hingga Bai An merasakan tubuhnya ingin hancur. Bahkan dia melihat di atas langit ada cahaya kuning yang berputar-putar ingin menghantam dirinya.
Bai An dia pasrah lalu berkata: "Apakah aku akhirnya mati.." Diam-diam dia menutup mata sambil tersenyum. Namun tiba-tiba ada pemandangan ajaib sehingga dia membuka mata.
Bai An melihat bahwa gulungan kertas lukisan burung Phoenix yang di berikan Long Fai kepadanya, tiba-tiba secara otomatis keluar dari cincin penyimpanan.
Setelah keluar, gulungan lukisan itu membuka mengarah lusinan perajurit Dayan. Setelah menbuka Bai An tercengan bahkan kagum.
Dia melihat gulungan lukisan itu, keluar burung api Phoenix yang raksasa terbang ke atas sehingga di setiap kepakan akan memuntahkan api nirwana sehingga membakar ribuan perajurit dalam sekali kepakan.
"Pekikk!" Phoenix itu berbunyi seperti monster dewa.
"Ahhh tidak tubuhku sangat panas aku terbakar!"
Akhirnya ribuan perajurit Dayan menjadi abu. Bahkan formasi penghancur langsung tak berdaya akibat tekanan burung api Phoenix
__ADS_1