
Seperti itulah kejadian yang terjadi sehingga Lili tidak lagi bebicara bahkan benar benar marah pada Riko yang sudah merenggut kehormatayannya.
Ditambah lagi perkataan Riko setelah pagi datang saat itu. " Mulai saat ini kamu hanya akan menjadi milikku.! karena tidak akan ada yang mau menerimamu dalam keadaan yang sudah tidak gadis lagi, bahkan Ans sekalipun. jadi jangan pernah berpikir untuk pergi." ucap Rko yang tidak beberasaan.
Dan mungkin tidak berperasaan menurut Lili, tapu tidak bagi Riko, ia berkata begitu karean mau mengingatkan Lili akan statusnya lagi ditambah lagi dengan kejadian semalam membuat Riko benar benar harus menekankan hak patennya pada Lili. Itulah tujuan Riko hanya saja bahasa dan kata yang digunakannya sama sekali tidak disukai oleh siapa pun yang mendengarny.
Itulah perkataan Riko padanya yang membuat Lili malah semakin meradang. Bagaimana mungkin lelaki itu berkata seperti itu, bukannya minta maaf tapi malah semakin mengekang hidupnya.
***
sementara Ans sendiri sudah berangkat ke Surabaya satu minggu yang lalu, menjalani kegiatannya sama seperti di ibukota bergelut pada berkas dan pulpen menjadi benda favoritnya untuk dibawa kemana-mana.
Sudah satu minggu ini juga, Ans terlihat sangat gelisah akan perasaannya yang tidak ia mengerti ada apa.
Namun satu hal yang pasti, semenjak kembalinya ke Surabaya, tidurnya selalu saja dihantui oleh mimpi tentang seorang wanita yang sendang berbadan dua, wanita cantik yang namun tidak terlihat jelas siapa dia, tapi walau begitu Ans bisa merasakan ada beban dan kesedihan yang mendalam tengan dirsakannya.
Yang paking tidak di mengerti oleh Ans adalah mengapa dia ikut merasakan kepedihan itu, dan hatinya tersayat saat mendapati suara tangis gadis itu
Masih berada di kursi kebesarannya dengan kepala menengadah ke atas menatap langit-langit ruangan miliknya yang sudah di tempati semenjak satu minggu ini di tempatinya.
Mengehela napas kasar, tidak tau entah untuk apa helaan itu, tapi yang pasti sedikit mengurangi kersahan dirinya saat ini.
Tok tok tok tok.
" Masuk." sahut Ans.
" Selamat siang tuan. saya mau mengingatkan pertemuan kita siang ini bersama klien kita di restoran De Soemtara." uacap Miko yang tak lain adalah asistennya.
" Berkasnya sudah siap.?" tanya Ans dingin.
" Sudah tuan. Semua sudah beres dan silahakan tuan periksa." jawab Miko yang sedikit kepayahan menelan ludahnya setiap kali berhadapan dengan Ans yang sangat dingin dan tegas.
" Keluarnlah." usir Ans.
waktu tidak terasa sudah masuk siang hari, Ans pun sudah bersiap untuk berangkat ke restoran tempat mereka akan melakukan meeting, berjalan dengan langkah tegas, wajahnya angkuh yang selalu memandang ke depan.
__ADS_1
Meski ada banyak karyawan yang menyapanya, tapj Ans tetaplah Ans yang tidak akan beramah tamah pada siapapun. Yang suda berdasar Arogant dan dingin kini semakin bertabah semenjak cintanya kandas sebelum dimulai.
Di parkiran, asisten yang sudah menunggunya. melihat Ans yang sudah datang dengan reflekz pintu dibukakan untuknya, dan Ans lagi lagi memasukinya tanpa banyak bicara.
Duduk dengan tegap dan penuh wibawa, dan sungguh posisi dan situasi seperti itu sangat tidak mengenakan dirasakan orlah Miko. Tapi ada daya, ini semua demi pekerjaannya.
Sampai disana, Ans langsung memasuki ruang VIP yang sudah di booking sebelumnya, lagi lagi dirinya berjalan dengan gaya coolnya yang membuat beberapa gadis yang sudah berkunjung lebih dulu disana menjadi terpana akan kharisma yang di tunjukan, bahkan pelayan sekalipun tidak berkedip memandang wajah rupawannya.
Baru saja Ans ingin membuka pintu ruangan VIP itu tapi mendadak ada sesuatu yang menyergap perasaanya, seperti hembusan angi yang menerpa jiwanya. Sejuk dapat dirasakamnua, tapj mendadak hatinya ngilu entah kenapa.
Menoleh kesembarang arah mengebsen setiap sisi restoran itu, mengamati apa yang ada disana, berpikir mungkin akan ada sesuatu yang meneyebabkan dirinya tiba tiba merasakan itu, namun nihil, semua tidak ada yang menarik perhatian dirinya dan persaannya.
Hingga tiba pandangannya terarah pada satu objek, objek yang membuat di terpaku memandang tanpa ada niat untuk mengalihkannya.
Obejk itu tidak lain dan tidak bukan ada seorang wanita mudah yang cantik tapi berbadan dua, sedang melayani tamu mengantarkan makanan yang dipesan oleh para tamu.
" Siapa wanita itu.?" pertanyaan yang hanya tarsampaikan di hati saja
" Kenap rasanya sangat tidak asing bagiku." lagi lagi Ans bertanya dalam hatinya.
Ada dorongan bagi Ans untuk melihatblebih jelas lagi wanita itu, berjalan pelan munuju ke arah objek, namun baru beberapa langkah saja ia di cegat oleh asistennya. " Tuan meeting sudah dimulai." ucap Asisten itu yang serta merta menghentikan langkah Ans.
" Ehmm. Baiklah." jawab Ans yang kemudian berbalik dan memasuki ruangan meeting.
Bersamaan dengan itu, pelayan wanita itu menoleh tepat di tempat Ans tadi berada, entah kenapa dia juga merasakan perasaan yang aneh seolah ada seseutau yang tiba tiba menyerang hatinya.
Berdiam sejenak dan mengedarkan pandangannya menyapu seisi restoran namun tidak ada yang menarik perhatiannya. "mungkin hanya perasaanku saja" gumam Helena pelan dan melanjutkan kegiatannya.
Dua jam sudah berlalu, meeting yang dilakukan oleh Hans sudah berakhir dan dia pun segera bergegas pergi meninggalkan restoran, namun lagi-lagi ia mencoba mengedarkan pandangannya saat sudah berada di temapt umum untuk menginjung mencari sosok wanita hamil yang sudah berhasil mencuri perhatiannya tadi.
Bukak karena jatuh cinta, atau buka karena rasa tertarik, tapi hanya karena penasaran yang dimilikinya ingin mengetahui siapa gerangan wanita itu.
Kareba tak kunjung mendapati sosok yang dicari, akhirnya Ans menutuskan untuk melangkah pergi meninggalkan tempat itu, menju mobil.
" Langsung antarkan saya ke rumah.!" titahnya
__ADS_1
" Baik tuan." jawab Miko dan lanngsung melajukan mobilnya menuju kediaman bosnya.
Sampai di rumah, Ans menuju kamarnya, melemparkan tasnya kesembarang arah tapi masih di atas ranjang, Setelah itu melepasakan jas yang melekat dibadannya sementara dasi dibiarkan melilit dilehernya.
Menghempaskan tubuhnya di sofa milikknya yang ada disudut ruangan kamarnya, membuang nafasnya kasar dan kemudian membaringkan tubuhnya yang tak lama kemudian ia terlelap tidur.
hiks hiks hiks hiks.....
Suara seorang gadis tengah menagis disebuah kamar kecil, gadis itu tengah mengandung dan suara tangisnya sangat memlukan selah ada rasa yangterpendan disama dan tidak tersampaikan.
Ans mencoba mendekati wanita itu tapi entah kenapa sangat sulit bagi Ans untuk mencapainya. " hei hei apa yang terjadi, kenapa kau terus saja menagis." teriak Ans dari kejauhan.
Tidak ada jawaban hanya getaran tubuh yang dapat dilihat oleh Ans pertanda bahwa gadis itu masih saja menagis.
" Hei.! kau berhentilah menagis. Dan ini kepa sangat sulit menggapaimu." ucap Ans
Perlahan gadis itu mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Ans yang membuat lelaki itu sangat Sok.
" Kau.!"
Ans langsung tebangun dari tidurnya, menyendekan tubuhnya setengah miring, tanganya memijit pelipisnya memikirkan kembali mimpinya, dan membuatnya makin bingung adalah gadis yang ternya itu adalah wanita yang dirnggut kesuciannya lima bulan yang lalu.
" Kenapa aku memimpikannya.? apa dia hamil anakku.? tapi jika benar kenpa tidak menemuiku.? oh mungkin saja itu anak lelaki lain. tapi kenapa dia selalu menghantui mimpiku" monolog Ans.
kring kring kring...
" Hallo bun." jawab Ans saat ponselnya berbunyi.
" Nak kapan kau akan kerumah.? apa kau sudab melupakan bundamu ini.?"
" Tidak bunda. Hanya saja aku sedang sibuk dan besok aku usahakan pulang kerumah karena aku sudah merindukan masakan bunda." jawab Ans lembut.
Panggilan terputus dan Ans memutuskan untuk bergegas membersihkan dirinya.
__ADS_1
Bersambung....