
Radith dan Rajesh menganga karena terpesona dengan penampilan Nara yang sangat luar biasa, bahkan jauh lebih luar biasa dari penampilannya tadi pagi membuat kedua pria yang beda generasi itu tidak berkedip sama sekali sedangkan pihak MUA merasa sangat bersyukur karena karya mereka diterima oleh sang Tuan Muda terbukti dari mereka yang kini sangat takjub.
"Aku rasa Tuan Muda menyukai hasil karya kita" bisik perias salah satunya.
"Kamu benar, lihat saja mereka berdua tidak berkedip melihat Nona Nara" timpal yang lain.
Nara yang diperhatikan seperti itu menjadi salah tingkah, dia tidak menyangka dengan respon kedua prianya akan seperti ini membuatnya merona malu saja.
"Jangan menatapku seperti itu" tegur Nara yang sudah tidak tahan dengan tatapan itu.
"Mommy sangat cantik" seru Radith.
"Kau sangat cantik sayang" puji Rajesh tulus dana memang itulah kenyataanya.
"Terimakasih" kata Nara malu malu.
Rajesh mendekat merangkul pinggang Nara agar mendekat dan merapat pada tubuhnya membuat Nara semakin salah tingkah apalagi disana masih ada para perias yang menyaksikan sikap Rajesh.
"Jangan seperti ini Mas, mereka melihat kita" tegur Nara berbisik pada Rajesh.
Tapi si Tuan Muda sepertinya tidak peduli bahkan dengan lancangnya bertanya pada kedua pekerja itu, "apa kalian melihat apa yang aku lakukan?"
Kedua petugas itu gelagapan ditanyai begitu, mereka tidak tau harus menjawab apa sementara Radith dengan santainya menjawab, "aku tidak lihat Dad dan mereka juga tidak melihatnya"
Mendengar perkataan Radith sontak dianggukan oleh kedua perempuan membenarkan perkataan Radith, "benar Nona Tuan Muda kami tidak melihat"
"Kau dengar sayang mereka tidak melihat"
"Ckck.. apa apaan mereka ini berkata tidak melihat sedangkan matanya melotot melihat kearah sini" decak Nara dalam hati.
"Tidak lihat bagaimana, sementara mereka menatap kearah sini" ketus Nara.
"Radith tutup matamu..!" titah Rajesh.
"Hei kalian tutup mata kalian..!" sentak Radith membuat keduanya tersentak dan langsung berbalik membelakangi Rajehs dan menutup mata seperti perintah di bocah tampan itu.
Rajehs yang sudah memastikan keadaan aman langsung menyerang bibir istrinya, meraup dan ********** dengan lembut menjadikan hal itu sebagai vitamin penangkal kelelahan menyongsong acara yang sudah pasti akan menguras tenaga.
Nara yang mendapat serangan tiba tiba itu langsung membeku, tidak tau harus melakukan apa mengingat bukan hanya mereka yang ada disana.
"Kenapa tidak dibalas?" tanya Rajesh setelah tautan itu lepas.
__ADS_1
"Kamu berbuat sesuka hatimu...! disini masih ada orang lain bahkan putramu juga ada disini" kesal Nara, tanganya menepuk gemas lengan Rajehs yang hanya dibalas kekehan oleh suaminya itu.
"Aku tidak melihat Mom, hanya mengabadikan " saut Radith yang mendengar namanya disebut.
Nara melotot mendengar perkataan anak samhungnya, mengabadikan seperti apa yang dimaksudnya, "apa maksudmu? mengabadikan seperti apa?" tanya Nara penasaran.
"Mengabadikan di memori Mom" jawab Radith asal.
Nara menghela napasnya pelan, lega karena jawaban Radith yang katanya hanya lewat memori yang artinya didalam pikiran saja tapi walau begitu tetap saja merasa itu tidak pantas karena harus mencemari otak polos anak kecil.
Sedangkan Rajesh tersenyum, dia tau mengabadikan seperti apa yang dimaksud putranya dan dia sangat berterimakasih kali ini karena akan ada kenangan tentang pose mereka yang sedang berciuman seperti tadi.
"Hei kalian..!" seru Rajesh membuat kedua perias itu sontak berbalik.
"I...iya Tuan Muda" jawab mereka dengan gugup.
"Rapikan kembali riasan istriku!" titah Rajesh.
Kedua gadis yang statusnya masih single itu merona malu melihat lipstik Nara yang berantakan, sudah bisa dipastikan jika adegan terlarang yang tidak boleh mereka saksikan adalah adegan dimana mulut beradu diantara kedua umat manusia yang berbeda jenis kelamin itu.
"Pasti tadi abis ciumana" batin mereka bersamaan.
"Jangan membentak, Mas yang salah... mereka sudah melakukan tugas tapi malak kami tidak algi" ketus Nara membuat Rajehs tidak berkutik lagi sedangkan Radith menutup mulutnya menahan tawa agar tidak pecah.
"Boy, kau mengambil gambarnya dengan bagus?" bisik Rajesh setelah berad tepat disamping Radtih.
"Tentu saja, jangan remehkan kemampuanku dan ini tidak gratis Dad" jawab Radith cuek.
"Tenang saja Daddy akan membayar mahal" jawab Rajesh dengan begitu yakinnya.
"Dan kau akan menyesal sudah menyetujui tawaranku" seringai licik terbit disudut bibir Radith memhuat Rajesh menelan ludahnya, dirinya merasakan akan ada bahaya yang akan menerjang dirinya dan sialanya bahaya itu akan berasal dari putranya sendiri.
"Apa yang akan dilakukan bocah ini?" tanya Rajesh dalam hati.
"Jangan aneh aneh Boy, atau tidak akan ada ampun untukmu" ancam Rajesh tegas.
"Kita lihat saja jika Daddy masih bisa berkutik" jawab Radith tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Nara sudah selelsai di tatak kembali dan sebenarnya yang rusak hanya lipstiknya saja serta tstan rambut yang diraih oleh telapak tangan suaminya, walau terus menggerutu dalam hati tapi Nara tidak bisa berbuat apa apa, begitupun dengan para perias yang hanya bisa diam menatap kemabli tatanan riasan itu tanpa bisa melawan ataupun protes.
"Sudah selesai Nona"
__ADS_1
"Terimakasih banyak ya, maaf sudah merepotkan " kata Nara dengan tidak enak hati, karena seharusnya sudah selesia sejak tadi tapi karena ualh pria tampan itu akhirnya seperti ini.
"Tidak masalah Nona, kami senang memiliki kesempatan merias istri dari Tuan Muda"
Nara hanya tersenyum, masalah banyaknya yang mengagumi suaminya bukan lagi rahasia umum, bahkan tak jarang juga banyak yang ingin berada di sekeliling suaminya dan mengabdi pada Rajesh.
"Sudah selesia sayang?" tanya Rajesh.
"Sudah"
"Ayo kita keluar" ajar Rajesh karena setelah ini pihak MUA itu masih ada pekerjaan pada Rajesh dan ini adalah tugas yang paling penting dan harus selesai dalam waktu tiga jam.
"Ayo Boy kita keluar" ajak Rajesh pada Radith juga.
Gadis cantik bak bidadari itu diapit oleh oleh kedua prianya yang tampak gagah dan tampan, Rajehs berada disebelah kama Nara sedangkan Radith digandeng disebelah kiri Nara dan mulai berjalan keluar menyusuri lorong hotel menuju aula sedangkan diluar kamar sudah ada beberapa kerabat yang masih berstatus single yang akan menggiring dari belakang para raja dan ratu menuju aula.
Senyum kebahagia tampak jelas dari wajah mereka , tak tertinggal Radith yang kini sangat bahagia karena sudah memiliki seorang Ibu, dan orang lain, dua kekuarga yang juga ikut bahagia karena penyatuan anak anak mereka, hal yang mereka inginkan saat masih sangat muda dulu kini tanpa direncanakan Tuhan malah mempertemukan anak anak mereka dan memberikan cinta pada masing masing hingga akhirnya mengikat janji sehidup semati.
"Aku bahagia Anan" kata Heru yang matanya masih terfokus pada pasangan yang menjadi ratu dan raja malam ini.
"Aku juga bahagia, putriku biasa bertemu dengan orang ynah tepat, orang yang aku inginkan pula" jawab Anan.
"Tidak disangka bukan?" Heru tertawa kecil, "ucapan konyol kita saat masih muda kini malah jadi kenyataan."
"Ya kau benar dan mari kita berbahagia" seru Anan yang langsung direspon semangat oleh Heru.
Mereka berjalan mendekat menuju pasangan berbahagia itu, karena acara akan segera dimulai akhirnya para orang tua ikut naik pelaminan dan duduk mengapit pengantin dan itu hingga acara formal berakhir.
Satu persatu tamu undangan berdatangan mengucapkan selama untuk Nara dan juga Rajesh, tak tertinggal kepada para orang tua dan hampir semua tamu undangan adalah rekan dan kolega bisnis yang dari kelas atas hingga kericuhan seketika terjadi saat seseorang memaksa masuk dan meneriakkan nama Nara.
"Nara.....Nara.... Nara..." seru seseorang.
Deg
"Reyhan...."
.
.
Bersambung...
__ADS_1