Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Berbohong


__ADS_3

Dalam perjalan, Riko terlihat sangat gusar karena waktu sudah berjalan satu jam setelah kejadian dia memberi tumpangan pada Janeth tapi sampai kini gadis itu masih saja tidak sampai apartement, selalu saja ada alasan dirinya untuk berhenti di beberapa tempat dan lagi Riko harus menemani dirinya kemana dia pergi.


"Janeth tolong jangan berhenti lagi, aku banyak pekerjaan" ucap Riko pada akhirnya karena melihat Janeth yang berniat untuk menyuruhnya berhenti lagi.


Janeth yang mendengar itu langsung mengurungkan niatanya, tangannya bergerak dan menggantung di depan wajahnya dan melihat jam yang sudah menunjukan pukul setengah dua yang artinya hampir satu setengah jam dia menyita waktu pria itu, dan hal itu membuat dai bersorak girang dalam hati karena berhasil membuat pria itu disampingnya.


"Tidak sia sia bukan jika aku menjadikan mobilku sebagai korban dan Anita yang aku beri uang untuk memuaskan dirinya berbelanja, karena akhirnya aku bisa bersama Koko ku" batin Janeth tertawa dalam hati.


"Baiklah, tapi tolong antar aku ke apartement ya" pinta Janeth dengan tatapan memohon.


Riko menghela napasnya sebelum akhinya mengangguk mengiayakan permintaan Janeth "Baiklah, aku antarkan kau ke apartement karena aku harus segera pergi" ucap Riko.


Mobil Riko melesat pergi membelah jalan raya untuk mengantarkan Janeth ke apartement sesuai dengan permintaan Janeth padanya.


"Maaf Ko jika aku sudah merepotkanmu" ucap Janeth setelah mobil berhenti di parkiran apartemen tempat tingga Janeth.


"Tidak masalah, aku langsung pergi masih banyak urusan" ucao RIko.


"Hati hati" ucap Janeth melambaikan tanganya


Riko tidak menggubrisya, karena saat ini pikiran Riko adalah rumahnya, dia takut jika Lili menunggunya makan siang karena sebelum berangkat dari kantor dia sudah mengirim pesan pada wanitanya jika dia akan pulang untuk makan siang bersama.


Riko memacu laju mobilnya, dia harus segera sampai, tapu sepanjang perjalanan Riko memikirkan alasan apa yang akan dia katakan jika Lili bertanya padanya, karena sudah jelas jika tidak mungkin mengatakan jika dia bertemu dengan Janeth dan menemani Janeth selama satu jam lebih.


"Sampai di rumah, Riko berlari cepat agar bisa memasuki rumahnya, dan benar saja dugaanya sesuatu yang dia takutkan terjadi, Lili masih duduk dengan tenang di meja makan, sedangkan piringnya masih bersih yang artinha istrinya juga belum makan siang.


"Sayang.." seru Riko mengahmapiri Lilu dan memeluk wanita itu kemudian mengecup pucuk kepalanya.

__ADS_1


Lili tersenyum manis pada suaminya, karena susah datang walau lama tapi tidak masalah yang penting mereka makan bersama.


"Kenapa kau lama?" tanya Lili yang langsung bergerak melayani suaminya.


"Maaf sayang makannya dingin apa perlu aku panaskan dulu?" tanya Lili yang hendak ke dapur.


"Tidak usah, aku mau makan yang ini saja, kamu pasti belum makan kan jadi kita makan ini saja" jawab Riko cepat yang tidak ingin merepotkan istrinya lagi.


Sudah cukup membuat istrinya menunggu dirinya dan dia tidak mau lagi menambahkan masalah itu dia tidak mau lagi membuat istrinya semakin lapar karena harus memanaskan makan itu.


"Baiklah" ucap Lili dan mulai mengambilkan makanan Riko.


"Kenapa kau lama datangnya?" pertanyaan Lili kembali terulang, rupanya perempuat itu belum lupa dan dia masih menunggu jawaban dari keterlambatan Riko.


Sementara Riko yang mendengarnya menelan ludahnya kepayahan, dia bimbang harus berbohong atau jujur, tapi sebelum mengambil tindakan dia harus memikirkan resiko apa yang akan terjadi.


"Aku banyak kerjaan tadi di kantor" jawab Riko yang akhirnya memilih untuk berbohong.


Lili menatap Riko dengan tatapan penuh selidik, bukan ingin curiga tapi dia ingin mencari kejujuran dalam setiap perkataan Riko.


"Em iya sayang, aku memang susah dalam perjalanan setelah aku mengirimu pesan, tapi di tengah jalan aku bertemu dengan rekan bisinisku, mobilnya mogok dan aku memberinya tumpangan, niatnya ingin mengantarkannya pulang tapi rupanya dia masih singgah dan dia membicarakan bisnis padaku" jelas Riko yang tidak mau memandang ke arah Lili selama dia memberi alasan.


Walau kronologisnya sama, tapi perkara siapa yang dia tolong jelaslah Riko berbohong itu sebabnya dia tidak berani menatap Lili, takut jika istrinya menangkap kebohongan di matanya.


"Kenapa aku menangakap kebohongan sayang dari dirimu" batin Lili.


Ya, walau Riko tidak memandang ke arahnya tapi Lili bisa merasakan jika suaminya sedang berbohong, dia merasa ada yang salah dari cerita suaminya tapi sesegera mungkin Lili menepis rasa itu "mungkin hanya perasaanku saja" kembali Lili membatin.

__ADS_1


"Baiklah ayo kita makan" ajak Lili dengan senyum manisnya.


Riko membalas senyum Lili, dia bernafas lega karena ternyata Lili tidak memperpanjang apa lagi banyak bertanya, sia merasa aman dan selamat tanpa dia tau kalau Lili memang susah tau kalau dia bohong dan Lili pun tidak akan tinggal diam jika Riko mulai berbohong maka dia akan menacari penyebab dia berbohong pada istrinya sendiri.


"Mungkin aku berlebihan tapi aku tidak akan membiarkan suamiku membohongiku" batn Lili dengan semyum yang masih mengembang dan gerakan tangan dan mulut yang singkron mengabiskan santapannya.


"Kau akan kembalibke kantoe sayang?" tanya Lili setelah sesi makan bersama selesai.


Lili bemiat untuk mencuci piring kotor tapi secepat mungkin Riko mencegah gerakan Lili "ada pembantu yang membersihkannya, aku tidak mau istriku kelelahan" ucap Riko.


"Tapi aku tidak lelah sayang" kata Lili.


"Kenapa keras kepalamu tidak berubah sayang!" kesal Riko "aku tidak mau kamu capek berarti tidak, jadi jangan banyak melawan padaku"


"Iya, iya aku tidak akan melawan" ucap Lili akhirnya meninggalkan pekerjaan itu.


"Ayo kita ke kamar" ajan Riko


"Jadi kau tidak akan ke kantor lagi sayang?" tanya Lili.


"Tidak. aku ingin tidur sore bersamamu" jawab Riko dan langsung mengangkat tubuh Lili ala Brida Style dan membawanya ke kamar mereka.


Lili di rebahkan di atas ranjang di susul Riko yang tidur disampingnya sebelumnya membuka kemejanya dan memilih untuk bertelanjang dada, kemudian tidur dan memeluk tubuh Lili dengan erat tapi tetap berusaha memberi kenyamanan untuk istrinya.


Sementara dalam apartemen, Janeth tersenyum bahagia, karena hari ini bisa mengabiskan waktu dengan Riko walau tidak lama tapi tidak masalah, yang penting dia bisa menikmati udara di dalam ruangan yang sama dengan Riko dan menikmati aroma tubuh dan parfum pria itu walau tidak memeluknya secara langsung.


"Kau tau Anita, tidak sia sia aku mengobankan mobilku dan memberimu cuti hari ini, karena akhirnya aku bisa menikmati waktu bersama Riko" ucap Janeth dengan senyum yang terus mengembanh.

__ADS_1


"Sepertinya obsesi wanita ini benar benar berlebih, jangan sampai dia gila jika obesenya tidak terpenuhi" batin Anita yang mendengar perkataan Janeth.


Bersambung...


__ADS_2