
"Aku percaya semua yang kamu katakan, sama seperti aku percaya saat kamu meminta putriku secara langsung saat itu" kata Anan membuat Nara mengerutkan keningnya tidak paham dengan perkataan ayahnya tentang meminta dirinya.
"Apa maksud Ayah?" tanya Nara.
Anan melihat kearah Rajesh lebih dulu, sebelum menjawab pertanyaan putrinya, "kamu ingat hari pernikahan kakakmu?" tanya Anan.
"Tentu saja aku ingat hari pernikahan kakak" jawab Nara dengan menganggukkan kepalanya.
"Kamu juga ingat saat Ayah dan yang lainnya pergi keruangan bersama Rajesh?" tanya Anan lagi yang dijawab anggukan juga olehh Nara.
"Saat itulah calon suamimu dengan gagahnya meminta dirimu" kata Anan membuat Nara semakin tercengang tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Bagaimana bisa pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu meminta restu sedangkan Nara masih sangat ingat saat saat itu hubungan mereka masih tidak ada tanda tanda kedekatan tapi sudah dengan berani dan percaya dirinya pria yang dikenal arogant tapi sialnya adalah calon suaminya berani mengutarakan niatnya.
Matanya beradu tatap dengan mata Rajesh seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan disana, Rajesh yang ingin mengatakan jika itu bukti dari kesriusannya sedangkan Nara yang ingin menyampaikan rasa harunya terhadap perjuangan yang dilakukan Rajes dan dia berterimakasih akan hal itu.
"Ehmm....sudah dong tatap tatapnya" celutuk Lionel membuat keduanya tersadar.
"Kamu ini ya mas, kenapa suka jail sih sama Nara" tegur Martha membuat Lionel langsung bungkam.
Sedangkan Nara terbahak melihat kakaknya yang sudah tidak berkutik lagi, "emang enak kak?" ejek Nara.
"Ckck... libas saja suamimu nanti jika sudah Nixon pasti akan sama seperti kakak" decak Lionel.
"Jangan kakakmu, Ayah saja yang sudah berumur masih Nixon" timpal Naian membuat semuanya kompak tertawa dan melihat kearah Anan, sedangkan yang dikambing hitamkan hanya bisa memasang wajah masamnya.
"Kenapa Ibu berkata seperti itu" kesal Anan.
"Tidak perlu mulai Yah..." kata Lionel masih dengan tawanya sedangkan Rajesh hanya tersenyum menyaksikan kehangatan dalam keluarga calon mertuanya yang tidak jauh berbeda dengan kehangatan keluarganya dan dia sangat bersyukur karena dengan seperti itu membuat dirinya lebih mudah beradaptasi.
"Iya, padahal itu justru bagus loh" kata Naina.
"Tapi tidak didepan calon menantu kita Bu..."
"Tidak apa Yah, papaku juga seperti itu dan mungkin aku akan menyusul" jawab Rajesh dengan lirikan mata mengarah pada Nara membuat gadis cantik itu tersipu malu dan rona merah kini mulai terlihat.
"Nah... kau dengar Princess jika calon suamimu itu pasti akan seperti itu" kata Lionel berniat menggoda adiknya.
"Ish Kakak ini..." cebik Nara.
"Sudah tinggalkan itu... lalu sudah sejauh apa persiapan pernikahanmu?" tanya Anan membuat semuanya kembali sunyi.
"Semua sudah selesai, mungkin undangan akan selesai dan disebar lusa dan tadi siang juga Kamis udah fetting baju pengantin dan gereja serta aula sudah siap karena acara yang sederhana jadi tidak sulit mempersiapkannya..
"Bagaimana bisa secepat itu?" tanya Nara tak percaya.
"Kamu lupa Princess jika ada Leo yang sangat tanggap" kata Lionel mendahului menjawab, itu juga sebagai bentuk pujian terhadap asisten calon adik iparnya itu yang sangat tangkas dalam bekerja.
"Tapi apa bisa secepat itu?" tanya Nara yang masih belum bisa percaya.
__ADS_1
"Buktinya kita bisa fetting baju pengantin, sudah itu saja dan jangan pikirkan apapun lagi" jawab Rajesh yang tidak ingin memperpanjang pembahasan yang menurutnya kurang penting.
"Terserah padamu saja" kata Nara akhirnya.
"Ehmm... saya pamit pulang, sudah larut malam soalnya, aku takut putrakku mencariku" kata Rajesh.
Keluarga Saker akhirnya mengerti dan mempersilahkan Rajesh pulang karena memang waktu sidang sangat larut.
"Antarkan calon suamimu ke depan sayang" kata Naina.
"Baiklah, ayo aku antarkan"
"Saya pamit pulang semuanya" pamit Rajesh sebelum melangkah.
"Hati hati.." jawab mereka kompak.
"Aku pamit pulang sayang..." pamit Rajesh pada Nara.
Saat ini kedua anak manusia yang sudah beberapa hari ini dilanda rasa bahagia dan hati yang berbunga bunga berada di teras Mension.
"Hati hati, oh ya... kamu akan kembali dimana?" tanya Nara memastikan perkataan Rajesh yang katanya takut putanya menunggu yang artinya mungkin Rajesh akan kembali ke Mension.
"Mension" jawab Rajesh singkat.
"Bukan apartement?"
"Bukan, untuk apa lagi disana jika penawarnya tidak ada disana juga" kata Rajesh membuat Nara kembali merona malu.
"Kamu kenapa? malu hem....?" tanya Rajesh.
"Tidak ada, sudah sana pergi... hati hati dijalan" kata Nara terus mengusir Rajesh membuat pria tampan itu terkekeh.
"Baiklah aku pergi, kamu istrhatlah" kata Rajesh akhirnya.
"Iya kamu juga langsung pulang" kata Nara mengingatkan.
"Pasti...bye"
Rajesh melakukan mobilnya meninggalkan pelantara kediaman Saker sedangkan Nara kembali masuk dan berpamitan dengan keluarganya karena ingin ke kamar lebih dulu.
"Guyzzz..aku ke kamar lebih dulu" pamit Nara.
"Istrhatlah sayang..." kata Naina.
"Mimpi inda adikku cantik" jawab Martha.
"Istrahatlah Princess..." kata Lionel dan Anan kompak.
Nara tersenyum mendengar semua panggilqnnya yang berbeda beda dari keluarganya bahkan Martha sendiri memiliki panggilan sendiri untuknya, sudah seperti saudara kandung kedekatan keduanya dan itu sangat disyukuri oleh Nara karena mendapat kehangatan dari keluarganya.
__ADS_1
Nara melangkah menuju kamarnya, kamar yang jarang sekali ditempati Bahkan pernah empat tahun lamanya tidak menyentuh dan menempati kamar itu dan kini walau jarang tapi tetap dihuni setiap akhir pekan, tapi mungkin nanti tidak lagi mengingat dirinya yang sebentar lagi akan menikah dan tinggal bersama keluarga barunya, bersama Rajehs dan Radith dan bahkan mungkin bersama mertuanya Heru dan Clara.
"Hemmm sepertinya kamu akan benar benar syaa tinggalkan kamar" gumam Nara.
Tangannya sibuk mengelus dan terkadang menepuk kasurnya pelan, matanya memindai seisi kamarnya, ya mungkin dia akan merindukan kamarnya dan bila itu terjadi gadis cantik itu berharap Rajesh mau mengijinkannya datang untuk menginap barang satu malam dalam kamarnya ini.
"Semoga saja nanti jika aku kangen, suamiku mau mengijinkanku menginap disini" gumam Nara dan tak lama matanya terpejam mengembara dialam mimpi menyambut fajar yang akan datang kembali menemani Manusia beraktifitas.
Sedangkan di perjalanan, Rajesh sudah tiba di Mension keluarganya. Sampai disana, turun dan melangkah memasuki apartement yang ternayata kedatangannya masih dinantikan oleh keluarganya.
Ya, tadi sebelum mengantarkan Nara ke Mension, Rajesh masih sempat menghubungi keluarganya mengatakan keberadaanya bersama Nara serta tujuannya yang akan kembali ke Mension setelah dari rumah Nara.
"Daddy..." seru Radith yang melihar ayahnya.
"Kau belum tidur Boy?" tanya Radith.
"Aku menunggumu Dad, jadi bagaimana? apa mommy sudah dirumahnya?" tanya Radith.
"Sudah, dan itu sampai mommy tinggal bersama kita" jawab Rajesh.
"Berapa lama lagi Dad?" tanya Radith yang sudah tidak sabar.
"Tunggulah, beberapa hari lagi kok" kata Rajesh.
"Ok aku akan menunggu"
"Bagaimana persiapan pernikahanmu Rajesh?" tanya Heru.
"Sudah 80% selesai Pah... tidak usaj khawatir akan hal itu" jawab Rajesh meyakinkan.
"Baiklah, aku suka kau bertanggungjawab" kata Heru.
"Benar kata Papa, Mama bangga padamu sayang" kata Clara ikut menimpali.
"Terimakasih Mah, Pah... kalau begitu aku masuk ke kamar dulu, mau istirahat" pamit Rajesh.
"Dad, aku ingin tidur denganmu" kata Radith membuat langkah Rajesh terhenti.
"Ada apa gerangan Boy?" tanya Rajesh.
"Tidak ada, hanya ingin tidur saja dengan Daddy" jawab Radith.
"Baiklah, ayo kita tidur sekarang" ajak Rajesh menyetujui permintaan putranya.
"Nek... kakek... aku tidur dengan Daddy" pamit Radith dan mencium pipi kedua paru baya itu.
"Selamat malam sayang...." kata keduanya kompak.
.
__ADS_1
.
Bersambung...