
Sementara Lili yang tadinya sudah menggerutu kini berganti menjadi tawa yang pecah melihat suaminya yang kocar kacir keluar dari kamar menuju dapur untuk membuatkan dia makanan, sungguh lucu sekali jika menyangkut masalah ranjang maka suaminya tidak ada duanya, dia akan melakukan segalanya agar tidak ada pembatalan meronda yang dia lakukan setiap malam.
"Dasar, Papa kamu itu selalu saja seperti itu kan sayang, untung kamu perempuan, coba kalau laki laki dan mirip dengan papamu? haduh entah seperti apa yang jadi istrimu" gumam Lili mengelus perutnya.
Dengan perlahan Lili beranjak memunguti pakaiannya dan kemudian mengenakan melangkah keluar menuji dapur tempat suaminya memasak.
"Sudah kah?" tanya Lili langsung duduk dan menopang dagunya di atas meja makan.
Riko berdecak sebal mendengar pertanyaan istrinya yang menyebalkan menurutnya, bagimana tidak menyebalkan jika baru beberapa menit Riko bergelud dan kini istrinya dengan gampang dan tanpa merasa berdosanya dia menanyan makananya sudah siap atau tidak.
Namun walau begitu, Riko tetap berusaha tersenyum kepada istrinya saat mata mereka bersitatap, dia tidak mau jika sampai emosi istrinya tidak stabil lagi jika sampai hal itu terjadi sudah bisa dipastikan ancamannya adalah meronda tidak akan ditemani lagi.
"Tunggulah sebentar lagi Sayang ini tidak akan lama lagi" ucap Riko dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.
"Kenapa lama sekali Anakmu sudah lapar!" Ketus Lili.
Riko menarik nafasnya dan menghembuskanya dengan kasar agar tidak lepas kontrol, sebenarnya jika orang bertanya apakah dia jenuh dengan sikap istrinya? maka jawabannya adalah Iya dia jenuh, tetapi dia juga tidak bisa egois karena bagaimanapun juga istrinya menjadi bersifat seperti itu karena hormon kehamilannya, emosi yang tidak stabil itu bukan keinginan Lili tetapi karena bawaan bayinya sehingga Riko wajib memiliki stok kesabaran yang banyak dalam menghadapi Lili.
"Tunggulah sayang, katakan pada anak kita untuk menunggu papanya siap memasak" ucap Riko dengang lembut.
"Baiklah" jawab Lili, "anak mama yang cantik dan pintar, tunggu papa siap masak dulu ya, nanti setelah itu mama suapin" ucap Lili berbicara pada perutnya dan tanganya mengusal perutnya dengan lembut.
Hati Riko menghangat melihat interaksi istrinya kepada calon sang buah hati mereka yang masih berada di dalam perut Lili, dia bisa melihat jika kelak Lili akan menjadi Ibu yang baik untuk anak mereka, bisa membuat anak mereka paham dan bisa mendidik anak mereka dengan baik dan tentunya Riko tidak akan memberikan tanggung jawab itu sendiri kepada Lili dia juga akan ikut ambil andil dan berperan besar dalam mengurus dan mendidik serta merawat anak mereka.
Dan inilah yang membuat Riko tidak bisa marah terhadap istrinya jika berulah, karena ada saka sesuatu yang membuat Riko melupakan amarahnya dan berganti dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Tarraaa...nasi goreng anak ayah siap!" seru Rimo dan membawa makana di hadapan Lili.
Lili memang sudah merasa kelaparan sangat senang saat makanannya siap dan tanpa menunggu lagi dia menyantap makanan itu seperti orang yang tidak makan selama satu minggu saja.
"Sayang pelan-pelan tidak akan ada yang merebut makananmu" tegur Hariko yang melihat kelakuan.
Lili hanya menyengir kuda mendengar teguran dari suaminya, dan kini dia makan dengan pelan karena tidak mau ditegur untuk kedua kalinya oleh Riko, dan Riko hanya menyaksikan istrinya menyantap nasi goreng buatannya.
__ADS_1
Sngguh melihat istri yang seperti ini benar-benar membuat Riko sangat bahagia walaupun berat badan Lili semakin naik tapi itu tidak masalah bagi Riko, karena cintanya tidak memandang fisik lili dan lagi nanti tubuh istrinya juga akan kembali normal jika sudah melahirkan.
Selesai dengan kegiatan mereka, Riko membereskan piring Lili membawanya di wastafel untuk dibersihkan besok oleh pembantu rumah tangga kemudian ia berbalik dan menuntun Lili kembali ke kamar untuk istirahat, tidak bisa dipungkiri jika Riko sebenarnya sangat mengantuk tetapi demi istrinya dia rela menahan kantuk untuk menyenangkan hati istrinya.
***
Tiga hari menjelang persalinan sesuai dengan perkiraan dokter yang disampaikan tempo hari, dan kini pasangan itu juga sedang melakukan apa yang disarankan oleh dokter untuk mempermudah Helena dalam persalinan nantinya yaitu dengan banyak bergerak berjalan tanpa alas kaki.
Dan saat ini pasangan ini dan sedang berjalan-jalan santai sore ini, Helena tidak menggunakan alas kaki atau sendal pelindung telapak kakinya karena mengikuti perkataan dokter kandungan.
Tangan mereka saling bertautan, dan satu tangan Ans yang lainnya memegan sendal jepit Helena untuk berjaga jaga jika istrinya tidak sanggup lagi berjalan tanpa alas
"Kita tunggu dulu Yah" ucap Helena.
"Bunda lelah?" tanya Ans yang di jawab anggukan oleh Helena.
"Yasudah ayo kita istrahat disana" tunjuk Ans di salah satu bangku yang ada disana.
Helena mengangguk dan mereka mulai berjalan dengan hati hati menuju bangku yang di maksud Ans, tapi belum beberapa langkah tiba tiba perut Helena terasa sangat kram membuat Helena meringis keaskitan.
"Sakit yah, perut bunda sakit sekali" keluh Lili yang semakin mengeratkan cengkraman tangannya di jari Ans.
Ans sangat kahwatr melihat wajah istrnya yang memucat, di tambah lagi ringisan istrinya yang menahan sakit, "Sayang mau melahirkan?" tanya Ans khawatir.
"Bunda tidak tau yah, tapi ini sangat sakit"
Ans yang panik tanpa pikir panjang langsung membopong tubuh istrinya setelah melempar kesembarang arah sendal jepit istrinya dan berlari menuju kediaman mereka.
"Bunda....Ibu...! bunda tolong Ans Ibu!" teriak Ans setelah mereka tiba di teras rumah.
"Sakit yah, akhh...! bunda kesakitan sekali!"
"Sabar bun, sebentar lagi"
__ADS_1
Ans yang belum melihat bunda dan ibunya nampak menjadi semakin panik, dia langsung melarikan Helena ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Sementara Dian yang sempat melihat wajah panik dan kesakitan kakak dan kakak iparnya, langsung barlari ke arah ibu dan Bundanya
"Ibu...Bunda...! kak Helen bu di bawa kerumah sakit sama kak Ans!" seru Dian dengan kecepatan lari luar biasa dan orang tua yang mendengar itu sangat terkejut.
"Apa!" jawab mereka bersamaan.
"Terus mana mereka?" tanya Bunda khawatir.
"Sudah pergi bun, sepertinya ke rumah sakit" jawab Dian ngos ngosan.
"Tapi kita tidak tau diaman Ans membawa Helena" keluh Bunda.
"Sebentar biar Dian telpon" ucap Dian dan langsung menhubungi nomor Ans.
Beberapa kali Dian menghubungi tapi tidak ada respon, hingga pada panggilan yang ke dua belas akhirnya panggilanya tersambung.
"Hallo kak Ans, kalian dimana?" tanya Dian setelah Ans menjawab panggilannya.
.....
"Baiklah kami ke sana kak" ucap Dan dan panggilan pun terputus.
"Mereka ada di rumah sammkit biasa kak Helen kontrol" ucap Dian.
Mereka langsung berangkat menuju rumah salit yang di maksud setelah tadi bunda sudah menyurh asisten rumah tangga putran utuk mengemas semua perlengkapan Helena dan langsung di bawa ke rumah sakit nantinya
.
Bersambung...
Haiiii readers....πππ
__ADS_1
hari ini senin kan.?π€
Biasanya vote mingguan ada,π€ yuk setor ke author biar di tampung dan di simpan di karya ownerπβ