
" Dasar bodoh bodoh.! kau benar benar bodoh Ruben.!" ucap Ruben dengan penuh penysalan, ia memukul mukul kepalanya menandakan bahwa dia saat ini sedang menyesali kebodohannya.
Ya. Ruben menyesali semua yang ia sia siakan. Waktu, cinta pernikahan dan juga istriya karna kebodohan yang dilakukan selama ini.
Ruben duduk bersimpuh di lantai kamar itu, tak terasa air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan lagi. Ia benar benar menyesali kebodohannya selama ini yang tidak bisa melihat cinta dimata istrinya.
Mungkin jika orang lain yang melihat air matanya akan mengatakan ia lebai atau lelaki yang tidak gelantle karna menangisi seorang perempuan. Tapi bagi Ruben ia tidak peduli karna yang ia tau dan ia inginkan saat ini adalah menangis.
" Aku benar benar bodoh.! sangat bodoh.! Bagaimana bisa tidak melihat cinta dimatanya itu,? bagaimana bisa aku menutup mata melihat itu semua.? bagaimana bisa aku begitu egois dan tidak memberi dia kesempatan." Racau ruben di tengah isaknya.
" Tidak. Tidak, aku tidak boleh berpisah darinya,! aku harus bertemu dia dan mengajaknya kembali kerumah dan tetap bersamaku. Ya dia harus bersamaku." Ruben kembali bertekat untuk mempertahankan santi.
Ruben mendial momor seseorang.
" Batalkan perceraikanku Ans.!" titah Ruben saat sambungan terhubunga dan memudian langsung mematikannya tanpa menunggu jawaban dari sebrang sana.
__ADS_1
Sedangkan yang menjadi lawan bicaranya hanya bisa mengumpat tanpa bisa berbuat sesuatu untuk membalas sang tuan.
" Dasar bos sialan.! gk punya akhlak.! apa dia tidak diajarkan etika saat sekolah dulu.! mentang mentang bos sesuka hati saja menyuruhku.!" pekik Ans sambil menendang angin diudara untuk melampiaskan kekesalannya.
Ruben tidak mau lagi membuang waktu. Ia segera meraih kunci mobilnya dan berlari keluar menuju l halaman rumahnya. Ruben sudah bertekat untuk mencari Santi dan mengajalnya lembali kerumah, dan tujuan utamanya saat ini adalag rumah kontarakan Santi yang dulu.
Sampai di depan kontrakan, telihat sepi bahkan tidak ada lampu yang menyala dan hal itu sukses membuat Ruben gusar.
" kenapa sepi sekali.? apa dia sudah tidur.? tapi ini baru jam delapan, atau jangan jangan dia tidak disini.? tapi lalau tidak disini lalu dimana dia.? banyak pertanyaan yang berputar di kepala Ruben tentang keberadaan santi saat ini, Hingga ia pun memutuskan untuk mengecek terlebih dahulu.
Tok....Tok...Tok...
" kenapa gk dibuka.? apa mungkin dia tidak ada disini.? lalu kemana dia.?" Ruben sudah frustasi karna tidak mendapatkan keberadaan Santi
" Hallo tuan." jawab Ans dari sebrang sana saat panggilan sudah terhubung dari Ruben.
__ADS_1
" cari tau alamat teman teman istriku." titah Ruben.
" istri yang mana tuan.?" tanya Ans dengan nada menyindir karna baru kali ini Ruben mengatakan kata istriku.
" kau ya.! jangan kurang ajar kamu sama bosmu.! kau pikir istriku ada berapa ha.! aish...Sudahlah aku tidak ingin berdebat denganmu, cepat cari alamat teman teman istriku. Waktumu lima belas menit.!" ucap Ruben mematikan sambungan telponnya.
Ruben kembali memasuki mobilnya. Dia akan menunghu informasi dulu dari Ans, jika sudah ada barulah ia kan kesana nantinnya.
Jika Ruben dengan gampangnya menyuruh dan menunggu hasil. Beda halnya dengan Ans yang lagi lagi hanya bisa menggerutu dan menyesali nasibnya yang menjadi anak buah bos tidak tau diri itu.
" Dasar bos tidak tau diri.! bisanya cuma menyuruh saja.! makanya saat punya istri tuh ya dimanfaatkan. Jadinya seperti inikan.? kualahan sendiri dan sialnya aku jadi ikut kualahan." gerutu Ans tapi tetap juga ia mengerjakan perintah bosnya untuk mencari tau alamat yang diamksud Ruben tuannya.
Dan tak lama setelah itu, ia Ans sudah menemukannya karna ternyata Lili merupakan salah satu karyawan di perusahaan Ruben.
Ans langsung mengirimkan alamat itu kemudian langsung mematikan ponselnya agar tidak diganggu lagi oleh bosnya.
__ADS_1
" Biar saja dia menelponku sampai ribuan kali, itu tidak akan masuk karna aku akan mematikan ponselku ini " batin Ans dengan senyum licik diwajahnya
Bersambung....