
Saat ini, kedua sahabat itu sedang asyik mengobrol dengan sesekali tertawa bersama.
" Oh ya Jovan lagi apa ya.? aku trlpon bentar ya." ujar Lili
" oh iya, telpon gih biar makin rame kita disini. Makin rame makin banyak kita habiskan uangnya mas Ruben." kata Santi terkekeh.
Ya, mereka mutuskan untuk menggunakan kartu yang diberikan Ruben tadi untuk Santi.
Lili mendial nomor yang dimaksud untuk diajak bersama mereka.
" Hallo. Kamu dimana..? gabung yuk di kafe dekat tempat aku kerja." ucap Lili saat sambungan terhubung.
" Ayolah.... Sekalian tuh bawa doi kesini, biar kenalan kita." bujuk Lili lagi yang membuat Santi sedikit terjekut saat Lili mengatakan kata doi
.....
" Iya ada Santi juga kok disini."
.......
" Oke. Ditunggu." seru Lili girang.
" Gimana.?" tanya Santi setelah Lili memutis telponnya.
" Aman.. Dia kesini bareng ceweknya." saut Lili
" Emang tuh anak ada ceweknya."
" Adalah.! kamu pikir apa." sentak Lili.
" Trus kamu kapan.?" tanya Santi menggoda Lili.
Lagi lagi Lili kembali muram. Mendengar pertanyaan sahabatnya membuat moodnya menjadi hancur lagi.
Dengan berat ia menghela napasnya, berilang kalai menarik dam membuang nafasnya kasar. Karna kalau boleh jujur dai sama sekali tidak ingin jika ada pernikahan antara dia dan Riko.
Karna bagaimana pun jauh dalam lubuk hatinya, masih tersimpan nama seseorang menjadi cinta pertamanya meski tidak terbalaskan dan orang itu lebih memilih orang lain tapi bukan serta merta ia bisa melupakannya begitu saja.
Santi yang memperhatikan wajah sahabatanya, segera mengelus bahu Lili dan barkata.
" Katakan ada apa.? apa kau tak menginginkan pernikahan ini.?"
Lili hanya menggelang lemah sebagai jawabannya atas pertanyaan sahabatnya. " aku tidak menginginkan ini San." lirih Lili akhirnya me jawab pertanyaan Santi.
" Kenapa.? apa ada orang lain." selidik Santi.
Lili enggan menjawab pertanyaan Santi, ia tidak ingin sahabatnya mengetahui perihal perasaanya untuk Rio meski lelaki itu telah tiada tapi Lili tidak ingin Santi tau.
" Jawab Li. ada orang lain.?" desak Santi.
" Iy..iya. Aku mencintai lelaki lain." jawab Lili akhirnya.
" Siapa.?"
__ADS_1
" Kamu tidak perlu tau Santi."
" kenapa aku tidak boleh tau Li.?"
" Karna akan tidak akan mengenalnya." kilah Lili.
Santi menggeleng mendengar penuturan sahabatnya, yang mengatakan ia tidak akan mengenal lelaki yang di cintai Lili. " Kamu bohong Li." ucap Santi tetap menggeleng.
" Aku gak bohing Santi. Aku serius dengan perkataanku. Kau tidak mengenalanya." keukeh Lili pada perkataannya
" Baiklah kalau aku tidak kenal oranganya, tapi beri tau aku siapa namanya." ucap Santi
" Untuk apa kamu tau namanya kalau kamu tdak kenal, nanti kamu akan semakin penasaran lagi." jawab Lili dengan memaksakan senyumnya.
" Kamu bohong, aku tau aku mengenal orang itu kan."
" Lili tergugup mendengar penuturan Santi. Tapi ia berusaha untk tenang.
" Kamu apaa sih, sok tau deh kamu. mana mungkin kaau kenal dia."
" Tapi kamu bisa memberi tahua siapa nanya kan Lil."
" ahh,,, gk perlu lah." jawab Lili.
" kenapa, apa karna kita mencintai orang yang sama.?" tanya Santi.
Deg....
Jantung mendadak berhenti berdetak mendengar ucapan Santi. Ia berpikir mungkin Santi salah paham. " A..apa maksudmu, aku tidak mencintai suamimu bodoh." sergah Lili.
Lagi lagi Lili terkejut mendengar kembali perkataan Santi, kalau bukan suaminya yang dimaksud lalu siapa lagi. " apa maksdunya,? apa mungkin ia sudah tau" batin Lili.
" Apa maksudnya San.? siapa yang kamu maksud kalau bukan suamimu.
" Rio."
Mata Lili melotot mendengar nama yang dimaksud Santi, ia sangat terkejut dan perasaanya menjadi cemas. Ia takut Santi akan marah padanya karna sudah mencintai kekasihnya dulu bahkan hingga saat ini.
" San.....Ak...aku inta maaf." lirih Lili menu dukan kepalanya. " aku tidak bermaksud membohongimu." lanjut Lili.
" Lupakan dia." ucap Santi tegas.
" Ha.." Lili terkejut mendengar ucapan sahabarnya yang menyuruh dirinya untuk melupakan sesorang yang sudah lama bersemayam mendiamai seluruh hatinya.
" Aku bilang lupakan dia Li." ulang Santi.
" Kenapa." jawab Lili berusaha tenang. Karna saat ini jujur hatinya tolidak senang mendengar ucapan Santi yang menyuruhnya untuk melupakan
Rio, sedangkan mereka sudah tidak dikatakan kekasih lagi karna Santi yang sudah bersuami.
" Lupakanlah dia Lili, benahi lah hidupmu mencari cinta yang lain. Meski jujur saja, aku sempat kecawa padamu saat mengetahui kebenaran tentang perasaanmu padanya. Namun, aku tidak bisa melarangmu, karna itu adalah hakmu menyukai siapa pun." beber Santi.
Kamu tau dari mana.? tanya Lili penasaran.
__ADS_1
Santi menghela napasnya pelan, sebelum memberitahu perihl bagaimana ia tau kapan tentang perasaanya sahabatnya itu.
Flashback...
Pagi itu, di dalam kelas tepatnya di hari ulang tahun Santi dan sekaligus hari dimana Rio pergi meninggalaan dirinya.
" Lili...! Teriak Santi.
" Ada apa San." jawab Lili lesu.
" Kenapa tuh muka.?" tanya Santi dengan gaya usilnya.
" Gak ada." jawab Lili singkat.
" Loh kok gitu sih..! cemberut Santi. " oh ya nanti malam keluar yuk, bareng mas Rio." Ajakan Santi yang tidak memperhatikan perubahan wajah Lili.
" Aku gak bisa." jawab Lili singkat
" Loh kenapa.?"
" Aku ada kerjaan, kamu sama pacar kamy saja." kata Lili yang langsung meninggalkan Sanri yang masih bertanya tanya dengan sikap sahabatnya.
Santi masih berpikir kenapa Lili beruban pagi ini, tidak seperti biasanya yang selalu ceria bila mereka bersama.
Namun saat ia masih berpikir, bunyi ponsel yang berasal dari gawai Lili yang tertinggal di meja itu mengalihkan pandanganya melihat pesan itu.
Awal ia ragu, namun saat matanya menangkap ID pengirim, rasa pernasaran pun mendonrongnya untuk membuka ponsel itu.
" Lili, nanti aku mau merayakan ultah Sanrti. Kau mau ikut denganku.? isi pesan itu.
Awalnya Santi senang mengetahui kalau ternyata Rio akan merayakan ulang tahunya. Namun seketika senyum yang merekah itu berubah menjadi mendung tat kala Santi tak sengaja membaca semua isi chat sahabat dan kekasihnya itu, dimana berisi Lili yang sedang mengutarakan perasaanya.
Santi sangay syok mengetahui kebenaran yang ada, sahabatnya menyimpan rasa terhadap kekasihnya sendiri dan lagi kekasihnya merupakan cinta pertama bagi Lili.
" bagaimana ini terkadi.? bagaimana mungkin aku todak pernah tau kalau Lili menyipan rasa terhadap mas Rio bahkan jauh sebelum kami jadian." batin Santi.
Santi yang tidak bisa berpikir jernih lagi, langsung berdiri dan pergi meninggalkan kelasnya yang sebenarnya merek akan masuk pagi ini.
Saat sudah sampai di depan pintu, ia berpapasan dengan Lili yang kembali memasuki kelas, rupanya Lili teringat dengan ponselnya yang tertinggal.
" Ada dengannya." batin Lili yang melihta Santi dengan tergesa gesa tanpa mempedulikan dirinya. " Apa dia marah padaku karna aku tadi cuek padanya."
Lili merasa acuh memikirkan itu, ia tidak mau memikirkannya, dan kembali masuk untuk mengambil ponsel miliknya yang yerg tertinggal.
flashback off....
" Jadi dari situ aku tau tentang persaanmu padanya." jelas Santi mengakhiri ceritanya.
" Maaf." cicit Lili.
" Kenapa kamu minta maaf.?" tanya Santi.
" Karna aku sudah lancang mencintai mas Rio bahkan sempat marah padamu." jelas Lili.
__ADS_1
"Tidak masalah. yang penting sekarang adalah lupakan dia." Pinta Santi.