Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Fiting baju


__ADS_3

Satu minggu setelah kepergian Lili dan Riko untuk memesam gaun pengantin, dan hari ini mereka akan melakukan koreksi ulang untuk gaunnya, mencoba ukuran dan modelnya untuk bisa mencapai kesempurnaan.


Selama satu minggu itu juga baik Lili dan Riko tidak bertukar kabar, mereka sibuk dengan dunia dan urusan masing masing.


Riko sibuk dengan perusahaannya sedangkan Lili sibuk denga pekerjaannya sebagi sekretaris Ruben.


Hal itu tidak beda jauh dari Ans, ia juga sibuk dengan rutinitasnya, terlebih lagi saat ini ia sedang berada di luar negeri untuk mengurus masalah perusahaan, karna Ruben yang tidak bisa pergi karna alasan istrinya yang sedang mengandung itu, padahal itu hanya alibi Ruben yang sebenarnya dia lah yang tidak mau berpisah dengan istrinya.


Sedang sibuk sibuknya Lili mengerjakan pekerjaaanya, ponsel miliknya berbunyi pertanda kalau ada yang sedang menghubunginya.


Segera Lili meraih ponsel miliknya tanpa melihat siapa yang menelpon itu


" Hallo. Disini sekretaris Ruben Prasetya." ucap Lili saat panggilan itu telah tersambung.


" Hallo. Persiapkan dirimu nanti jam istrahat kita akan ke butik." terdengar jawaban dari sebrang yang membuat Lili melihat ponselnya untuk memastikan ID penelpon.


" Cih, dia lagi." gumam Lili kesal.


"Hallo...Hallo kau mendengarku." panggil Riko yang menjadi penelponnya


" Ada apa." ketus Lili.


" Apa kau tidak dengar yang aku katakan.! persiapkan dirimu aku akan menjemputnya jam istrahat nanti." sentak Riko.


" Aku sedang sibuk." jawab Lili berniag untuk menolak ajakan Riko.


" Ku tidak bisa menolak karna kau harus ikut denganku." titah Riko dengan tegas dan langsung mematikan ponselnya.


Lili mengumpat Ponselnya yang sebenarnya umpatan itu di tujukan pada Riko, tapi gawainya lah yang menjadi sasaran kekesalannya.


Di tengah tengah umpatannya, telpon kantor berbunyo dan itu ternya berasal dari atasanya Ruben.


" Baik tuan." jawab Lili setelah mendengar perkataan Ruben melalui telpon itu.


Tok...tok...


Lili mengetuk pintu ruangan Ruben, kemudian membukanya setelah mendapatkan perintah dari Ruben.

__ADS_1


" Bapak memanggilku.?" tanya Lili sopan.


" Selesaikan pekerjaanmu hingga siang nanti, kemudian pergilah bersama tunanganmu itu, dai selalu saja mengganguku" gerutu Ruben.


Ya, setelah Riko menghubungi Lili dan karna lili tidak mau, maka Riko menelpon Ruben sebagai atasan Lili dan yang pasti Lili tidak akan menolak perintah dari bosnya.


" Tapi pak, kerjaanku sangat banyak dan tidak bisa saya selelesaikan jika hanya sampai jam istrahat." ucap Lili memberi alasan agar tidak pergi dengan Riko keluar.


" Lanjutkan besok jika tidak sempat. dan ini adalah perintah."


Mau tak mau Lili pun mengiayakan ucapan Ruben sebagai atasannya, karna tidak mungkin bagi dia untuk membantah perintah yang mulia raja.


" Baiklah pak." jawab lili dengan lesu.


" Kenapa kamu tidak semangat begitu.? harusnya kau senang karna sebentar lagi kau akan menikah.! ucap Ruben dengan satu alisnya terangkat.


" Aku harus bagaimana lagi semangatnya tuan.?" tanya Lili bingung.


" Harusnya kau senang karna kau akan segera menikah, atau tidak bahagia." tanya ruben basa basi. Karna ia sudah tau pasti bagaiman keadaan dan akan jadi seperti apa nanti pernikahan itu karna tidak beda jauh dulu dengan ceritanya bahkan usulan pernikahan kontrak itu pun dari dirinya.


" Tentu saja aku bahagia tuan, hanya saja karna memang saya sedang banyak pekerjaan dan saya harus konsesten dalam bekerja " elak Lilu memberi alasan.


" Baiklah, permisi." pamit Lili


Sampai di tempatnya, Lili berulang kali menghela napasnya karna akan kembali bertemu dengan lelaki menyebalakan itu.


Padahal suasana hati Lili sedang tidak baik sejak satu minggu ini karna ia tidak bertemu dengan Ans, entah memang pekerjaan Ans yang terlalu banyak atau karna memang ingin menghindari Lili. Semua tidak bisa Lili tebak.


Dan sekarang ia harus tambah bad mood karna Riko yang mengajaknya untuk keluar. Ingin sekali rasanya Lili memukul wajah Riko tapi ia tidak punya keberanian untuk melakukan hal itu.


" Ingin sekali aku memukul wajahnya itu dengan sepatuku ini." rutuk Lili. " Selalu saja buat aku kesal dan bad mood.! andai saja aku bisa pasi aku sudah memukulnya, tapi aku tidak bisa melakukanya." kesal Lili dengan memukul mukul meja kerjanya dengan gemas.


Siang cepat sekali datang, dan Riko ternyata sudah sampai di depan gedung milik Ruben, melihat jam di pergelangan tanganya, tenyata jam istrahat sudah lewat sepuluh menit tapi Lili belum juga nongol.


Dengan kesal Riko mendial nomor Lili. " Hallo kau dimana.? kenapa lama sekali.? aku sudah menunggu lama disi. cepat keluar." cerca Riko tanpa memberi kesempatan untuk LIli berbicara.


Lili keluar dengan wajah masamnya, membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar sehingga membuat Riko terperanjat kaget.

__ADS_1


" Heii.! kau mau menghancurkan mobilku ya ha.! kau tidak akan bisa mengganti mobilku yang mahal ini." teriak Riko


Lili tidak mengindahkan omongan Riko, masih saja masam dqn itu benat benar membuat kekesalan Riko semakin bertambah.


" Heiii kau dengar tidak apa yang aku katakan." lagi lagi Riko berteriak sehingga mau tak mau Lili pun menoleh kearahnya.


" Apa." tanya Lili ketus.


" Riko sudah benar benar emosi, ia meremas kedua tangannya sendiri melihat Lili yang hanya meresponnya dengan sebuah pertanyaan yang sangat ketus.


" Kau benar benar ya.! kau kenapa kau membanting pintu mobilku dengan sangat keras ha.! bagaimana kau rusak apa kau akan menggantinya."


" Untuk apa aku mengganti nya lagi, kau kan akan menjadi suamiku, jadi mulikmu adalah milikku juga iya kan." tanya Lili dengan penuh penekanan dan senyum yang buat semanis mungkin.


Riko terdiam mendengar jawaban Lili karna apa yang dikatakan wanita itu benar adanya, sebentar lagi mereka akan menikah dan otomatis Lili akan menjadi tanggung jawabnya, tapi yang menjadi pertanyaannya, apa harus Lili merusak milik nya.


" Iya kau benar, tapi kenapa harus merusak mobil ku." kata Riko yang masih tidak bisa menerima.


" Sebentar lagi akan menajdi mobiku juga, jadi ini akan menjadi mobil kita, dan lagi kau bisa membeli yang baru jika ini rusak." lagi lagi jawaban dari lili sangat santai.


" Riko hanya menghela napasnya kasar dengan jawaban tidak bersalahnya Lili, dengan perasaan kesal, ia melajukan mobilnya menuju butik tempat mereka memesan baju pengantin mereka.


Sampai disana mereka sudah di sambut oleh karyawan dan bahkan pemilil butik itu pun turun tangan untuk menyambutnya.


" Selamat siang tuan, nona. Mari silahkan masuk."w


" Langsung ke urusanya saja, jangan lama lama." kata Riko dingin.


" Baik mari nona, kita langsung ke ruang ganti saja." jawab salah satu karyawan disana sesuai perintah pemilik butik


Tak Lili keluar dengan gaun pengantin yang sangat indah, menjuntai panjjng kebawah, manik manik permata yang menjadi penghias gaun itu, sungguh setiap orang akan terpana melihat gaun itu ditambah lagi pemakainya adalah seorang wanita cantik nan anggun, yanv semakin membuat kadar kesempurnaan didalamnya.


Tk terkecuali untuk Riko sendiri yang terpana akan kecantikan Lilo dalqm balutan gaun penganti itu, sejenak ia tertegun dengab pandangan memuja hingga suara teguran menyadarkannya


" Bagaimana tuan, apakan tunangan anda cantik." tanya pemilik butik dengan senyum menggodanya


" ehmm." Riko berdehem untuk menetralkan kegugupannya, karna ketahuan apalagi saat Lili melihat kearahnya. " emh, bagus.Yasudah cepat sepesaikan karna akh masih banyak kerjaan." jawab Riko memalingkan pandangannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2