
"Sayang sudah selesai nelponnya?" tanya Ans dengan berbaring dan mejadikan paha Helena sebagai bantal.
"sttt, jangan berisik, tidak enak dengan nona Santi" bisik Helena dengan telunjuk di depan bibirnya.
Ans berdecak mendapati respon istrinya, dia kesal sekali karena Helena lebih peduli dengan perasaan istri bosnya ketimbang dirinya sebagai suami, "rasanya aku ingin sekali mencekik pasangan itu"rutuk Ans dalam hati.
"Sayang...." rengek Ans karena tidak mendapatkan respon dari istrinya.
Dan lagi lagi Helena selalu memberi respon yang sama, menaruh telunjuknya di depan bibirnya membuat pria itu ingin sekali mengigit jari istrinya.
Dengan kesal Ans menarik ponsel miliki Helena dan berkata "hallo nono, maaf istriku tidak bisa bertahan lagi dia sangat ngantuk tapi segan untuk mengatakannya hingga kini dia tertidur"
"hei k-"
"Stttt diam sayang atau aku akan menghukummu" bisik Ans menyela perkataan Helena.
"Jadi Helena susah tidur ya? aduh maaf ya aju terlalu senang bisa memiliki teman baru jadi lupa waktu" ucap Anti tidak enak hai.
"Ck, kalian memang pasangan yang cocok selalu menyita waktu seseorang sesuka hati" rutuk Ans dalam hati.
"Tidak apa non, justru aku merasa tidak enak karena istriku ketiduran, ini semua karena tidak terbiasa tidur larut malam" ucap Ans "karena dia hanya akan bergadang denganku membajak sawah agar bisa dipanen" lanjut Ans dalam hati.
"Ohh, jadi Helena tidak bisa tidur larut ya? enak sekali dia tidak lembur karenamu! tidak seperti aku yanh terus saja dia buat lembur oleh tuanmu" ketus Santi yang langsung di sambut teguran dari Ruben di sebrang sana.
"Non belum tau saja, yang namanya pri mana bisa tidak lembur" batin Ans.
"Baikah nona, lebih baik layani tuan Ruben, jika tidak mungkin akan mengamuk nanti" ucap Ans.
Panggilan terputus dan Ans sudah di sambut dengan tatapan memangsa oleh istrinya, walau sedikit takut tapi dua harus melakukannya, "jangan memandangku begitu sayang, karena cantikmu bisa luntur" ucap Ans mulai melancarkan rayuannya.
"Ck, kenapa berkata begitu dengan nona Santi! dia akan berpikir jika aku tidak sopan padanya" ketus Helena.
__ADS_1
"Kenapa kau memikirkan perasaanya, tidak kah kau memikirkan persaanku juga sayang! aku juga membutuhkan istriku, dan aku tidak suka ada yang menyabotase waktu ku dengan istriku!" balas Ans tak kalah ketus.
"Dia itu istri tuan Ruben, jadi aku tidak saja jika berlaku tidak sopan" jawab Helena lembut.
Dia tidak ingin membuat suaminya kesal, karena bagaimana pun kalau boleh jujur dia juga merasa mengantuk tapi demi etika yang santun akhirnya dia meladeni istri tuan dari suaminya.
Ans mengelus pipi Helena dan menciumnya, "sayang tau kalau tuan Ruben juga merasakan hal yang sama, merasa kesal karena waktu istrinya tersita dan yang lebih parahnya lagi Nona Santi menyuruhnya menjagai kedua anak mereka!" ucap Ans yang tergelaj begitu kuat, karena tidak bisa tahan lagi mengingat pesan yang di kirimkan Ruben.
"Tau dari mana jika tuan Ruben juga seperti itu?" tanya Helena dengab kening yang mengerut.
Ans menunjukan pesan yang di dikirmkan Ruben, dan Helena hanya tersenyum membacanya, ternyata pria pria dingin ini bisa bucin terhadap istrinya dan hal itu membuat Helena jadi behagia seperti bunga yang sesang bermekaran.
"Jadi suamiku ini sudah bucin?" tanya Helena sengan senyum menggoda.
"Tidak!" jawab Ans dengan wajah datarnya.
Helena kesal mendengar jawaban suaminya yang masih bebohon, tapi seketikan ide jail muncul di kepalanya.
Tidak bicara, Helena bergerak dan mengambil selimut dan bantalnyaz sementara Ans mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang akan di lakukan Helena, tapi sejurus kemudian matanya melotot kala menyadari satu hal.
"Tidak sayang.." jawab Helena dengan senyum lembutnya.
Ans bersanafas lega mendengar perkataan Helena tapi sejurus kemudian nafas lega itu kembali tercekat saat melihat Helena bergerak turun menuju pintu dan memutar handle pintunya.
"Sa sayang ka kau mau kembawa bantal dan selimut?" tanya Ans terbata.
"Mau tidur di diluar" jawab Helena asal.
"Kenapa sayang, ini kan kamar kita? ayo tidur disini" ajak Ans dengan cepat menghampiri Helena.
Helena memasang wajah sedihnya, berusaha mendramatisir keadaan "Untuk apa aku tidur dengan suami yang tidak mencintaiku" ucap Helena dengan mimik muka yang sudah mau mewek.
__ADS_1
"Hei kata siapa sayang?" aku cinta sama kamu, mana mungkin tidak"
"Tapi katanya tidak bucin?" tanya Helena menundukan wajahnya mulai mengeluarkan isak tangisnya.
Ans langsung merengkuh tubub Helena masuk dalam pelukannya, dia tidak akan bisa melihat istrinya bersedih apalagi menangis, rasanta bagai tertikam melati sakit sekali.
"Maaf sayang maaf, tidak ada maksud menyakiti perasaanmu, aku sangat mencimu dan aku tidak bisa melihatmu seperti ini, rasanya sakit sekali" ucap Ans.
Helena menyunggingkan senyum manisnya, sekarang saatnya menghuk suami tercintanya ini "kalau begitu kamu saja yang tidur di luar" ucap Helena tanpa beban.
Ans melotot mendengar permintaan istrinya bagaimana bisa dia tidur di luar dan tidak memeluk istrinya, bisa gila dia sepanjang malam "sayang jangan seperti ini, aku tidak mau tidur di luar"ucap Ans berharap Helena mau mendengarkannya.
Helena kembali memutar tubuhnya, "biar aku saja yang keluar"
"Sayang jangann..!" cegah Ans "baiklah aku tidur di luar"
"Disini saja, tapi di lantai" ucap Helena.
Mau tidak kau akhirnya Ans mengikuti perkataan istrinya, lagi pula masih mending, karena dia masih bisa tidur di satu ruangan dengan istrinya walau tidak satu ranjang.
Esok paginya Riko sudah bersiap siap untuk berangkat bekerja, setelah bersiap dan sarapan dengan di antar Lili Riko berangkat bekerja.
"Berangkat ya sayang" ucap Riko.
"Hati hati" jawab Lili.
Lili mencium punggung tangan Riko, dan bilas Riko mencium kening pipi dan berakhir pada bibir Lili, "Aku berangkat" Riko langsung melesat pergi menggunakan mobil miliknya.
Selepas kepergian Riko, senyum yang tadinya mengembang kini meredup dan menghilang seketika berganti dengan wajah datarnya, "Nanda laporkan apapun kegiatan suami ku hari ini, siapa yang keluar masuk menemuinya!" ucap Lili setelah menghubungin Nanda sekretaris Riko.
Baru kali ini wajah wanita cantik yang biasanya anggun, ramah dan manis serta menarik perhatian setiap yang melihat berubah seratus delapan puluh derajat menjadi dingin dan datar.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan, tapi kebohongan suaminya kemarin membuat dia banyak berpikir, dan mulai mengikis rasa percayanya pada Riko, sehingga memutuskan untuk menempatkan Nanda sebagai mata matanya di dalam kantor, melaporkan semua kegiatan Riko serta mengatakan siapa saja yang keluar masuk menemui Riko dan apa urusannya bertemu dengan suaminya.
Bersambung...