
Ans yang di liputi rasa berasalah dan iba mendengae kondisi Helena berbeda dengan Pasangan yang ada diibu kota, pasangan yang sedang hangat hangatnya menjalani pernikahan yang bisa dikatakan sebenarnya bukan pengantin baru lagi.
Tapi bagi Riko dan Lili mereka seolah baru saja mengikat janji suci di altar dan itu sepertu baru saja terjadi kemarin. Karena apa? karena mereka baru ada yang nanya malam pertama.
Kenapa dianggap malam pertaman? karena mereka melakukannya berdasarkan keinginan dan kesadaran dari masing masing, pagi ini pun mungkin saja akan terjadi untuk kedua kalinya lagi bagi mereka setelah hampir satu minggu Riko berpuasa.
" Sayang...Udah bisa kan ya." Riko merengek manja di samping Lili.
Mereka saat ini sedang berada di dalam kamar, mengingat ini adalah hari libur, jadi ada waktu untuk berleha leha untuk mereka.
" Bisa apanya?" tanya Lili tidak mengerti.
" Ck kau ini." Riko berdecak sebal saat Lili tidak bisa tanggap dengab kemauannya.
" Jangan berdecak seperti itu. Katakan apa, jangan membuatku dongkol juga." ketus Lili
Riko langsung pucat mendengar perkataan Lili, bisa bahaya kalaymu hari ini berujung dan berakhir dengan pertengkaran, ekspetasinya untuk menacpai surga dunia bersama Lili bisa ambyar seketika.
" Hehehe sayang..Jangan ngambek ya." ucap Riko menampakan deretan gigi ratanya dan tangan milikknya di gunakan untuk menoel mesra dagu Lili.
" Kau tau? kau itu sudah berubah seratus delapan puluh derajat dari beberapa minggu yang lalu. Sarang kau lebih manja, mesum dan tidak tau malu." cibir Lili.
Riko tergelak mendengar penuturan Istrinya. Memang benar adanya kalau dia berubah, dia pun merasakan hal itu. Tapi apa itu salah? tentu saja tidak salah, karena dia melakukan itu semua hanya pada istrinya yang sudah halal dan bukan pada orang lain.
" jika aku manja, mesum dan tidak tau malu oada istri sendiri itu bukan dosa sayang....Kecuali jika aku seperti itu pada wanita lain maka baru tidak boleh."
" Coba saja kau lakukan itu pada orang lain." Kta Lili mendelik tajam melihat kearah Riko.
" Apa kau cemburu sayangku?" Riko tersenyum simpul saat melontarkan pertanyaannya yang membuat Lili menjadi kelabakan seperti baru teryangkap basah saja."
" Ti tidak. Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka milikku di menjadi milik orang lain juga."
" Iya benar, itu karena kau sangat menyayangi mililkmu itu kan."
Riko menaik turunkan alisnya bergantian karena senang menggoda Lili yang wajahnya kini sudah merah padam.
" Ck kau sangat menyebalkan.!" ketus Lili untuk mengalihkan rasa gugupnya.
__ADS_1
" Hahahahahaha" tawa Riko pecah melihat mimik Lili yang sangat menggemaskan itu.
Tanpa aba aba ia menyerang bibir istrinya dengan sedikit rakus. Jujur saja dia sudah tidak sabar sedari tadi tapi mau bagaimana lagi, jika dia memaksakan Lili maka takutnya akan gagal jadi inilah caranya menahan diri dan meladeni istrinya itu merocos saja.
Bibit itu masih saling beradu, Lili yang tadinya hanya diam kini mulai membalas serangan suaminya. tidak bisa di pungkiri kalau dia juga ternyata mulai menyukai setiap setiap sentuhan Riko pada tubuhnya. Bereaksi tanpa di komandoi.
........
***
Sementara pasien yang masih dirawat di rumah sakit karena kelelahan itu Masih betah menutup matanya, dan lelaki yang tidak lain adalah Ans juga masih berada di sana menemani Helena titik Bahkan ia tidak lagi berangkat ke kantor memilih untuk tetap di rumah sakit menunggui wanita itu bangun.
" Maaf. Maaf kan aku. mungkin kamu sakit hati dengan perkataanku." lilirh Ans yang duduk di samping brankar milik tempat Helena.
Lama menunggu, dan kantuk mulai menyerang Ans, akhirnya dia memilih untuk bangkit berdiri dan duduk di sofa yang ada di sana, menyandarkan tubuhnya dan menengadahkan wajahnya, kemudian menutup mata untuk iatrahat sejenak.
Beberapa menit setelah Ans tertidur, Helena terbangun, rasa pusing sedikit menyerang kepalanya." eunghh" Lili memegang keninya yang terasa pusing dan mengedipakan matanya berulang lali untuk menetralkan penglihatanya yang sedikit buram.
mencoba mengedarkan pandangannya menyapu seisi keruangan dan mengenali dimana Dia sekarang hingga akhirnya matanya tertuju pada objek yang ada tidak jauh dari tempatnya diarah sebelah kirinya.
Dia terkejut ternyata lelaki yang baru saja menghinanya tadi kini berada di sini bersamanya Dan mungkin saja sedang menunggunya bangun. mencoba untuk tidak menghiraukannya dan tangannya bergerak untuk meraih gelas yang ada di diatas nakas di samping ranjangnya, namun tangannya tak kunjung sampai, yang ada malah menimbulkan suara gesekan gelas akibat sentuhan jarinya yang tidak sempurna untuk meraih gelas itu.
" Kau sudah bangun?" Ans bangkit dengan cepat dan berjalan menghampiri Helena yang tidak menjawab pertanyaanya, padahal gadis itu jelas mendengar pertanyaan Ans.
" Biat ku bantu." kata Ans yang mengambil alih gelas itu dan menyodorkannya ke arah Helena.
Awalnya Helena ragu menerimanya namun karena tenggorokan yang sudah kering mau tidak mau pun akhirnya menerima gelas pemberian dan meneguknya hingga tandas tak bersisa.
"Terima kasih." ucap Helena yang enggan memandang wajah yang sedari tadi menatapnya dengan lekat.
"Sama-sama. "ucapan sayang masih terus menatap lekat ke arah Helena.
Ans bergerak dan kini duduk di kursi yang semula ia duduki kemudian kembali menatap Helena. "Bisakah kau menjawab pertanyaanku katanya Tapi aku ingin kamu menjawab yang sejujur-jujurnya.
"Jangan paksa aku untuk menjawab pertanyaanmu Tuan. Aku sedang tidak ingin menjawab pertanyaan dari siapapun dan apapun itu."jawab Helena Acuh dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"bisa kau tidak keras kepala." kesal Ans. "Apa susahnya menjawab satu pertanyaan dari ku." lanjut Ans.
__ADS_1
Tapi aku tidak mau menjawab pertanyaanmu! jangan memaksaku Tuan." Helena kesal karena pemaksaan dari Ans.
Ans menarik nafasnya dalam-dalam untuk meredam kekesalannya sungguh dia butuh kesabaran ekstra dalam menghadapi wanita keras kepala ini yang di depannya.
" aku mohon kali ini saja Jawab pertanyaanku." kata Ans melemah.
Mendengar suara Ans yang seperti itu membuat Helena memalingkan wajahya menatap wajah pria yang dulu dua kenal dalam keadaan yang tidak bail itu.
" Katakan."
"Katakan padaku apa Dia anakku? apa bayi yang ada dalam kandungan mu adalah anakku?" tanya Ans yang to the point.
"Aku sudah bilang ini bukan anakmu jadi jangan bertanya lagi Tuan." jawabannya masih sama seperti sebelumnya.
"katakan yang sebenarnya! kau tahu bukan jika aku mencari tahu kebenarannya dan Ternyata kau terbukti berbohong padaku, maka kau pasti tahu bukan Apa yang bisa aku perbuat dan siapa yang akan menjadi sasaran dari kemarahanku." kata Ans penuh dengan ketegasan dan aura dingin ketika mengambil alih tumbuh Ans.
Sungguh ia sangat marah karena merasa kalau Helena memberi jawaban yang salah padanya, entah kenapa dia sangat yakin jika anak dalam itu adalah hasil dari benihnya, harusnya dia senang karena dia tidak perlu bertanggung jawab, tapi hati kecilnya meolak keras akan hal itu tanpa tau apa penyebabnya dan kini dia sedang mengikuti keinginan hatinya yang kuat itu.
"Aku tidak berbohong." kata Helena tetap kekeuh.
" Baiklah tidak masalah jika itu jawabanmu."
Ans merogoh ponsel miliknya dan mengububngi asistennnya." tetap lanjutakan cari tau tentang wanita yang saya minta kemarin. pada siapa dia berhubungan selama lima bulan belakangan ini! apapun informasinua segera kabari, dan jika dia berbohong jangan beri ampun keluarganya." kata Ans penuh ketegasan dan keyakinan dalam ucapanya.
Sedangkan Helan sangat terkejut sekaligus takut mendengar perkataan Ans, dia tidak menyangka jika pria itu benar benar akan membuktikan ucapannya.
"Jangan! tolong janga. lakukan itu, jangan sakiti keluargaku. Aku aku sudah berkata benar."
Helana meraih pergelangan Ans memohon untuk tidak melibatkan keluarganya, air matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, mengalir deras tanpa bisa di cegah.
" Jika kau sudah jujur maka kau tidak perlu takut akan perkataanku bukan." jawab Ans yagg tidak mau berbelas kasih melihat air mata Helena.
Semua ini dia lakukan untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya, walau sebenarnya dia tidak tega melihat air mata gadi itu bertumpahan membasahi pipinya, kerena dia sudah begitu iba mendengar keadaan Helena dan dia tidak lagi mau menambahkan kesedihan wanita itu, namun apa boleh buat hanya itu cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan jawaban.
" Baiklah aku akan mengatakannya." ucao Helena yang akhirnya memilih untuk menyerah. Mungkin ini sudaa waktunya lelaki itu tau dan apa pun nanti hasil dari kejujurannya maka akn di terimanya walau Ans harus menghukumnya sekalipun kecuali jika Ans menyakiti bayinya maka itu tidak anak dia biarkan.
" Katakan."
__ADS_1
" Dia...dia anak mu tuan."
Bersambung....