
Di dalam mobil keduanya diam, tiga orang penghuni mobil itu sibuk dengan pikiran masing masing.
Ans sibuk dengan pikirannya yang menebak nebak anak dalam kandungan Helenan adalah miliknya, Helena sibuk memikirkan cara bagaimana menghadapi Ans, sedangkan sang asisten sibul memikirkan bagaimana bosnya kenal dengan wanita cantik yang tengah hamil itu.
" Kembali ke rumah Miko!" titah Ans yang membuat Miko menginjak pedal rem mendadak yang menyebabkan baik Nas maupin Helena terjungkal kedepan.
Untung saja Ans sigap merentangan tangannya menahan perut Helena agar tidak terbentuk punggung kersi bagian depan, jika tidak mungkin saja perut Helena akan terbentur.
" Apa kau gi*a Miko!" bentak Ans yang melihay Helena meringis kesakitan memegang perutmya.
" Maaf maafkan saya tuan, saya tidak sengaja, karena perintah tuan yang mendadak." bela Miko.
" Jadi kau menyalahkan perintahku yang menyuruhmu putar balik begitu!"
" Tidak tuan, maafkan saya." Miko minta maaf, wajahnua sudah pucat takut jika Ans marah maka dia akan kehilangab pekerjaanya.
" Nona maafkan saya, maafkan saya nona." pinta Miko memelas."
" Tidak apa, lain kali lebih berhati hati."
"Kau tidak apa apa?" tanya Asns yang melihat Helena masih terus mengelus perutnya.
Spontan Ans mengulurkan tangannya menyentuh perut buncit Helena, dan seketika itu parasaan ada yang berbeda. Deg degan, hangat dirasakan Ans.
" Ya Tuhan perasaan apa ini?" batin Ans yang masih terus mengelus perut Helena.
jika Ans merasakan perasaan bahagia maka beda halnya dengan Helena yang mendadak wajahnya pucat tubuhnya mendadak kaku merasakan sentuhan tangan Ans di perutnya.
Rasanya sangat sulit untuk bergerak, bahkan untuk bernafas saja tidak mampu dilakukannya saking gugupnya. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap tindakan Ans saat ini. Karena jujur dia juga merasa ada sidikit kelegaan saat sang ayah dari kandungannya menyapa calon bayinya.
Tapi jika dia membiarkan Ans terus begini maka akan bahaya mungkin, jadi lebih baik ia mengambil alih kesadarnnya untuk menyingkirkan tangan Ans.
" Aku tidak apa apa tuan." jawab Helena serata menyingkirkan tangan Ans.
Ans tersadar dari tindakannya, ia kembali mengakan tubuhnya menghadap lurus kedepan dan berkata. " ehm, jalan Mik!" titahnya.
Kembali lagi Keheningan mengambil alih ruang itu, hingga mobil yang di tumpangi mereka sampai di halaman rumah Ans yang terlihat sangat luas dan besar, sungguh ruamah ini bekali kali lebih besar dari rumah petakan milik keluarga Helena.
__ADS_1
" Besar sekali." batin Helena yang sudah terlihat dari dalam mobil tempat dia duduk.
" Ayo turun." ajak Ans.
Perlahan tapi pasti Helena turun dari sana berjalan menuju rumah milik Ans. Tapi semakin lama semakin berat rasanya bagi dia untuk melangkah, dia berprasangkan jika sudah masuk ke dalam maka dia tidak akan bisa keluar lagi.
" Aku takut sekali. Aku merasa tidak akan bisa keluar lagi jika masuk ke dalam." batin Helena tanpa tau jika itu memang akan menajdi kenyataan nantinya.
" Hei! kenapa kau lama sekali." teriak Ans.
Helena mempercepat langkahnya saat mendengar teriakan Ans tanpa memperhatikan langkahnya lagi yang membuat dia hampir saja jatuh karena tersandung jika saja Ans tidak sigap menangkap pinggannganya.
Saling pandang, mata mereka sudah terkunci satu sama lain, bahkan sempat terlintas bagi mereka saling mengagumi kesempurnaan pahatan yang Tuhan ciptakan.
" Ya Tuhan dia sangat tanpan sekali, bisakah dia melirik aku yang hanya orang biasa ini." batin Helan. " Astagaa Helena apa yang kau pikirkan." sentak Helena dalam lamunanya."
" Cantik. Wanita yang cantik natural. Matanya benar benar menduhkan." batin Ans.
Lama mereka saling memandang hingga akhirnya Ans lebih dulu memutus pandangannya yang diikuti kesadaran Helena juga kembali.
Gugup, canggung tentu saja mereka rasakan terlebih-lebih Helena yang merasakannya, jantungnya mendadak maratonan saat berdekatan dan bersiborok dengan Ans.
Entah kenapa Ans marah melihat Helena yang tidak berhati hati, apa dia lupa dengan keadaannya yang sedang hamil. Bagaimana bila dia terkatuh dan terjadi apa apa pada kandunganya.
" Maaf tuan." cicit Helena.
Tidak ada lagi sahutan dari Ans, karena lelaki itu memilih untuk kembali berjalan memasuki rumahnya, dan Helena mengikutinya dari belakang dengan perlahan dan tangan yang tersangkut di atas perutnya.
Sampai di ruang tamu, Ans menjatuhkan bokongnya disana, dan Helena berhenti tidak jau dari tempatnya, masih dalam posisi berdiri.
" Kenapa masih berdiri di situ? duduklah."
Helena seperti bocah yang mengikuti perintah bundanya langsung duduk tanpa di perintah dua kalo oleh tuan rumah.
" Katakan!"
" Ha" bingung, tentu saja Helena bingung atas permintaan Ans yang tidak detail itu.
__ADS_1
" Kakan itu anak siapa." ulang Ans yang menjelaskan maksudnya.
Helena baru paham kalau itu yang diinginkan Ans, tapi jawaban apa yang harus dia berikan. Perlu banyak pertimbangan bagi Helena untuk memberi jawaban, karena ketentuan nasibnya dan keluarganya ada pada jawabannya.
" Anak siapa pun ini, yang pastinya bukanlah anak anda tuan." Helena menjawab setelah dia mengumpulkan keberaniannya.
" Ck, jadi dia bukan anak ku." Ans berdecak mendengar jawaban wanita yang ada di depannya ini, entah kenapa ada rasa terluka di hatinya saat mendengar jawaban Helena. Tapi bukan berati dia akan percaya begitu saja, dia akan berusaha mencari tau kebenarannya.
"Benar sekali Tuan ini bukanlah anak anda." jawab Elina dengan tenang.
"Jadi Ternyata bukan cuma aku yang oernha tidur denganmu? apa setelah aku adalah lelaki lain lagi? kau menjajakan tubuh hanya demi uang lagi. Dasar perempuan murahan! "bentak Ans tersulut emosi.
Helena tersentak kaget bukan karena bentakan, melainkan karena perkataan Ans yang mengatakan Dia perempuan murahan. sakit? tentu saja sakit bahkan Helena sampai mengigit bibirn bawahnya untuk menenangkan rasa sakit yang bergejolak di hatinya.
Herlina tersenyum sinis. oh tidak lebih tepatnya senyum pahitnya ditunjukkan, memandang wajah Ans yang terlihat memerah.
"Kenapa Anda harus marah tuan" Bukankah Jal**g memang seperti itu? Bukankah Memang karena uang mereka rela melakukan apapun? lalu apa yang membuat anda marah?" tanya Helena dengan bibir bergetar.
Ingin rasanya Helena berteriak mengatakan kepada lelaki itu bawa anaknya dikandungannya Adalah anaknya, bawah setelah berhubungan dengannya ia tidak pernah lagi berhubungan dengan lelaki manapun Bahkan dia terkesan menutup diri termasuk kepada Daren yang sudah sangat baik kepadanya.
Berarti tidak ada alasan Bagiku Untuk bertanggung jawab."kata Ans dengan senyum sinisnya yang tidak mempedulikan Mimik Helena yang sudah sangat terluka.
"Iya. anda tidak perlu bertanggung jawab, jikalau pun ini adalah anak tuan, Saya juga tidak menginginkan pertanggung jawaban dari anda. karena apa? Karena Anda sudah membayar saya. jadi tidak perlu untuk bertanggung jawab!" tegas Helena.
Ans tersentak kaget mendengar perkataan itu. Apa maksud dari wanita ini mengatakan Jika sua tidak menginginkan pertanggung jawabannya. Apa sebenarnya itu adalah anaknya, tapi Helelena tidak ingin dirinya bertanggung jawab, tapi kenapa dia bebuat seperti itu? apa karena uang yang sudah di berikannya saat itu.
Sibuk dengan pikirannya hingga dia tak sadar jika Helena sudah berlalu pergi dari hadapannya usai memberikan ketegasan tadia kepadanya, hingga akhirnya kesadarannya kembali saat Mico menepuk pelan bahunya.
" Tuan." panggil Miko.
" Eh iya ada apa?" tanya Ans. " Kemana Helena?" lanjutnya.
" Dia sudah pergi tuan." jawab Miko.
" Ahk sial." umpat Ans.
Bersambung...
__ADS_1
maaf ya segini dulu🙏🙏🙏