
"Aku mau mandi dulu." ucap Ans yang tidak mau mempermasalahkan tingkah Helena.
Tidak ada jawaban dari Helena, dia masih asyik mengunyah rujaknya yang tinggal setengah lagi dan matanya fokus pada layar tv di depannya.
Tidak lama setelah itu, Ans kembali keluar dan mendekati Helena dan duduk tepat di samping Helena sembari memangku komputer miliknya di atas paha.
Helena tetap tidak bergeming, tidak merasa terganggu dengan kehadiran Ans yang sedang mengerjakan pekerjaanya.
" Apa kau sudah meminum susu dan vitamin hari ini?" tanya Ans seraya jarinya sibuk menari nari di keybord laptop nya.
" Hmm udah." jawab Helena singkat.
" Apa dia rewel hari ini?" lagi lagi Ans bertanya tetapi fokusnya tetap di depan lalptopnya.
" Ck kau kerjakan saja kerjaanmu tidak usah banyak bertanya padaku." ketus Helena.
Ans mengerutkan keingnya tidak mengerti kenapa tiba tiba Helena bersikap ketus seperti itu padangya.
" Ada apa.?"
" Tidak ada." jawabnya cuek.
" Apa ada masalah.?" lagi lagi Ans bertanya tapi tetap menatap benda yang ada di depannya
Seolah itu jauh lebih menarik di bandingkan dengan wanita hamil yang sudah menjadi istrinya.
" Kau bertanya padaku tapi matamu tidak memandangku sama sekali."
Ans berhenti dan menoleh ke arah Helena yang sedang memasang wajah masamnya, senyum tipis terbit di bibir Ans kemudian bergeser mendekat hingga merapat di samping Helena.
" Katakan apa kau sudah meminum vitaminmu? apa dia tewel hari ini?"
Ans mengulang pertanyaanya dan tatapannya kini fokus pada Helena, masih enggan untuk menatap balik dirinya.
Helena yang merasa Ans tidak lagi bicara mengalihkan pandanganya metapat Ans, tapi yang terjadi adalah.
Cup
Tak sengaja bibir itu beradu dan mengecup bibir Ans, hingga mambat keduanya memaku tidak bergeming.
Matak keduanya bersiborok, saling menelisik netra masing masing, degupan jantung Helena tiba-tiba saja terdengar karena terpoma dengan cepat.
"Ya Tuhan kenapa jantungku berdebar seperti ini? Apa yang terjadi." batin Helena
__ADS_1
Tidak jauh berbeda dengan Ans yang merasakan hal yang sama saat bibirnya lagi lagi kembali bersentuhan walau hanya kecupan singkat tapi ini benar benar memberi kesan bagi Ans.
" Maaf." cicit Helena setelah kesadarannya kembali.
" Ehm tidak masalah." jawab Ans datar.
Ans kembali melanjutkan pekerjaannya dan duduk di posisi seperti semula untuk menetralkan jantungnya yang tidak mengerti kenapa bisa seperti itu.
Karena yang Ans tahu dia mau menikahi Helena hanya karena semata-mata ingin bertanggung jawab bukan karena sebuah perasaan yang sering disebut karena cinta.
Tapi walau tidak ada cinta, tapi tetap As bersikap biasa tidak membatasi diri atau tidak menutup dirinya pada Helena, karena bagaimana pun dia harus berperan penting dalam masa kehamilan Helena.
Helena pun demikian, mau menerima tawaran pernikahan dengan Ans karena anaknya yang butuh Pertanggung jawaban dan nama serta memberi orang tua lengkap pada anaknya setidaknya sampai dia melahirkan.
" Aku mau istrahat." kata Helena yang langsung berdiri dari duduknya.
"Aku belun lama disini dan kau akan meninggalkanku." kata Ans dengan wajah datarnya.
" Ha."Helena melongo mendengar perktaan Ans yang tidak begitu ia pahami.
" Apa maksudmu?" tanya Helena.
" Kau istriku kan?'
" Apa jika suamimu datang kau mengabaikannya."
"Tidak, aku tidak mengabaikanmu." kata Helena merasa tidak mengabikan Ans.
" Lalu apa ini? kau mau pergi di saat aku masih disini.?" lagi lagi Ans berkata seolah mau menyudutkan Helena.
Entah apa yang ada di pikiran pria itu, jika hanya untuk di temani kenapa harus berbasa basi seperti ini? kenapa tidak memintanya langsung.
" Tapi aku lelah."
" Kau tinggal duduk disini, dan itu tidak akan membuatmu lelah." kata Ans yang memilik banyak sanggahan.
" Kenapa aku harus disini sih? jangan bilang jika kau mau dekat dekat denganku." tebak Helena yang begitu percaya dirinya
"Kau benar sekali, aku ingin berdekatan denganmu yang bisa membuaat aku bisa dekat dengan anakku."
Ans masih memberi alasan, bahkan perkataan Helena membuat dia mendapatkan ide untuk bisa menahan Helena berada disampingnya yaitu anak mereka.
"Jadi kau ingin dekat dengannya?"
__ADS_1
Air muka Helena berubah redup saat mendengar perkataan Ans yang hanya menginginkan anaknya, tapi secepat mungkin dia merebah ekspresinya agar tidak ketahuan dengan Ans.
" Tentu saja untuk anakku, emang apa lagi? jangan berpikir yang tidak tidak." kata Ans tenang tapi merupakan ketegasan menurur Helena.
Helena bungkam saat mendengar perkataan yang merupakan ketegasan menurutnya, entah kenapa di dalam hati kecilnya dia merasa kecewa dengan pernyataan bahwa Asa ingin dekat dengan anaknya dan bukan dengan dirinya.
Duduk di tempat yang semula menemani yang Ans yang katanya ingin berdekatan dengan anak di dalam kandungan nya.
Sementara Ans tersenyum penuh kemenangan karena akhirnya dia bisa membuat Helena tetap berada dan duduk disampingnya tanpa tahu jika perkataannya sudah membuat hati gadis itu kecewa padanya.
Keheningan terjadi dan itu berlangsung sangat lama karena Ans yang masih saja sibuk dengan pekerjaannya dan Helena yang masih merasa tidak enak akan perasaannya.
" Aku sudah selesai." ucap Ans sambil meregangkan otot ototnya.
Tidak ada sahutan dari lawanya, membuat Ans akhirnya menoleh ke arah istrinya yang ternyata sedang sibuk begelud dengan pikirannya.
" Apa apa denganmu Helen"? tanya Ans yang menepuk pelan bahu Helena hingga akhirnya gadis itu tersadar
" Apa kau sudah selesai."
" Sudah. Ayo kita kembali ke kamar " ajak Ans
Helena menurut dan mengikuti langkah Ans, masuk ke dalan kamar mereka.
" Kita istrahat dulu saja ya." kata Ans yang langsung nerebahkan dirinya di atas kasur.
" Tapi sebentar lagi makan malam." jawab Helena.
" Nanti akan di bangunkan, kau tenang saja. ayo berbaring disini." ajak Ans.
Helena bergerak melangkah maju ke tempat Ans dan kemudian membaringkan tubuh.nya secara perlahan dan Ans langsung merngkuhnya memasukannya ke dalam pelukannnya.
Entah itu sadar atau tidak tapi yang jelas sikapnya benar benar membuat Helena terkejut tapi juga tidak bisa menolak pelukan dari Ans yang terasa sangat hangat itu.
" Kau istrahat saja, agar anak kita juga bisa istrahat seperti bundanya." ucap Ans yang membuat Helena semakin merasa sangat nyaman.
" Baiklah, tapi bangunkan aku nanti." jawab Helena yang tidak tau lagi harus berkata apa, sehingga hanya kta itu lah yang bisa di katakan.
Sementara Ans memejamkan matanya menikmati moment indah bersama Helena, ja merasa hatinya terasa sangat nyaman bisa tidur seperti ini dan bisa menghirup aroma naturak yang barasal dari tubuh Helena.
Entah seperti apa nanti kelanjutan rumah tangga mereka, Ans masih tidak mau memikirkannya yang penting menjalani untuk saat ini dulu.
Bersambung....
__ADS_1