
Kini mereka berdua berada di dalam mobil milik Riko, dangan Lili yang masang wajah masamnya.
Rupanya Lili masih sangat kesal pada Riko yang berbuat seenaknya, dan lagi Riko sengaja melakukan itu di depan Ans.
Lili sangat tau kalau sebenarnya Riko sengaja melakukan itu untuk membuat Ans marah dan cemburu karna berhasil menaklukan Lili dengan cara akan menikahinya.
" Jangan mamasang wajah seperti itu." kata Riko dengan wajah yang kini berubah dingin, sudah tidak seperti tadi saat berada di antara para klientnya yang penuh dengan senyum palsu yang ia paksakan
" Kenapa kau melakukan itu ha.!" bentak Lili.
" Jangan membentakku Lili." ucap Riko dingin.
" Kenapa ? kau tidak suka ha." teiak Lili.
" Jangan berteriak padaku Lili.!" bentak Riko.
Lili langsung terdiam mendengar bentakan daru Riko, apalagi sekarang ekspresi Riko yang sangat menakutkan.
" Ke..kenapa kau membentakku " cicit Lili.
Riko diam tidak menjawab, yang ia lakukan adalah melihat wajah Lili dengan intens dan sulit untuk di mengerti arti dari tatapan itu.
" Ke..kenapa kau memandangku seperti itu " lagi lagi Lili bertanya dengan tergagap, merasakan hawa dingin yang kian menusuk kulit.
" Kau jangan pernah mencoba untuk mendekati Ans lagi Lili atau siapa pun itu.! ini peringatan untukmu.!" tegas Riko.
" Kenapa.? kenapa kau melarangku seolah aku ini adalah milikmu."
" Bukankah kau akan menikah denganku,? otomatis kau adalah milikku." kata Riko penuh penekanan.
" Tapi kita tidak saling mencintai, dan pernikahan kita hanya beberapa bulan saja. Jadi kau tidak berhak untuk mengaturku." bantah Lili.
Riko menarik nafasnya dalam dalam, guna menetralkan nafasnya yang sudah mulai tidak beraturan karna menahan emosinya.
Riko sebenarnya tidak tau, kenapa ia bisa se emosi ini, dan ia tidak suka jika Lili masih memikirkan lelaki lain termasuk Ans.
" Kita menikah sementara pun, tetap kau adalah milikku untuk beberapa bulan. Dan aku melarang keras kau mendekati dan memikirkan kelaki lain. Dan jika kau mau, kau bisa memikirkanya jika kita sudah bercerai." tegas Riko.
__ADS_1
" Kau tidak bisa memaksakan perasanku Riko." sentak Lili.
" Aku tidak memaksamu perasaanmu. Hanya aku minta untuk kau menjaga nama baikku nanti setelah kita menikah, dengan cara menekan sedikit perasaanmu itu padanya." ucap Riko penuh penekanan.
" Padanya.?" tanya Lili menyerngitkan keningnya pertanda ia tidak mengerti siapa yang di maksud oleh Riko
" Tidak usah berpura pura bodoh dihadapnku.! aku tau kau menyukai Ans." sentak Riko yang tidak suka dengan ekspresi wajah Lili .
Lili seketika membungkan mulutnya dengan kedua tanganya mendengar penuturan Riko, bagaimana mungkin dia mengkalaim kalah Lili memeiliki perasaan pada Ans.
Sedangkan dirinya saja tidak tau apakah dia memang memiliki perasaan atau tidak terhadap Ans itu, karna ia masih sangat awam mengartikan perasaan apa itu sebenarnya
" Apa..apa maksudmu sebenarnya Riko.?" tanya Lili lirih
" Kau bertanya apa maksudku.?" tanya Riko dengan mengangkat sebelah alisnya keatas.
" Iy iya. Apa maksudmu mengatakan hal itu padaku,? aku sama sekali tidak memiliki perasaan padanya." ungkap Lili tergagap
" Hahahahahaha...Kau tidak perlu berbohong padaku Lili " bentak Riko. " Aku tau kau menyukainya dari caramu menatap kearahnya. Tatapan yang menyimpan puja untuk seorang yang spesial." ucap Riko dengan nada yang sedikit melemah dari bentakanya tadi.
Sungguh saat ini Riko sudah seperti kekasih yang sedang marah karna melihat wanitanya memuja dan mengidamkan lelaki lain. Ya Riko seperti laki laki yang sedang cemburu.
Seketika Riko tersadar dari sikapnya yang memang sudah sedikit keterlaluan mengekang dan menyudutkan Lili.
" Jangan mimpi kamu. Memangnya untuk apa aku cemburu padamu ha.! sudah ada wanita yang aku cintai di hatiku, jadi kau jangan ke GR an." ucap Riko kemudian melajukan mobilnya menuju butik untuk mencari gaun pengantin merekan.
Sedangkan Lili memilih tidak lagi bersuara, matanya lebih terfokus melihat pemandangan di luar jalanan.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka, hanya keheningan yang mengambil kendali didalam mobil itu.
Tapj sesekali Riko akan mencuri pandang melirik Lili yang masih betah membungkam mulutnya.
Sampai di butik, Riko turun lebih dulu dan hendak membuka pintu untuk Lili. tapi sayang, Lili sudah lebih dulu turun dengan membuka pintu mobil sendiri
Melihat itu, Riko hanya menghela napasnya pelan melihat sikap Lili yang masih saja diam. Entah kenapa Lili begitu sulit untuk menerima kenyataan bahwa mereka akan menikah meski tidak saling mencintai tapi Riko hanya ingin mereka menjalaninya sebagimana seharusnya.
Lili masuk kedalam Butik tanpa menghiraukan Riko yang berusaha berjalan bersisian dengannya, hanya lirikan kilat yang ia berikan.
__ADS_1
" Selamat siang tuan, nona. Selamat datang di butik kami." sapa pelayan butik.
" Saya ingin bertemu dengan pemilik butik ini. Saya sudab membuat janji dengannya tadi pagi." ucap Riko dengan tanyan kanan di masukan didalam saku celana
" Em baiklah tuan, noan mari silahkan masuk. Saya antarkan menemui bos saya." ucap pelayan mempersilahkan
Riko tidak menjawab, tapi mengikuti pelayan tersebut tanpa mengajak Lili. Karna ia tau Lili pasti akan mengikutinya.
Benar saja Lili juga mengikuti langkah Riko menuju tempat diaman pemilik butik berada .
" Selamag siang, ada tamu, katanya sudah membuat janji." kata pelayan pada pemilik butik
" Ohh, suruh masuk saja itu pasti pak Riko." jawab pemilik butik.
" Selamat sore " sapa Riko di ikuti Lili dengan anggukan sopan.
" Oh pak Riko, silahkan duduk pak."
" Baiklah. Oh saya tidak akan lama, saya ingin kau langsung pada pekerjaanmu." kata Riko dengan wajah datarnya.
" Ohhh baik pak. Ini saya ada beberapa desain gaun pengantin, silahkan pilih yang bapak ibu inginkan." katanya sambil menyodorkan beberapa lembar kertas berisikan desain gaun pengantin.
" Riko mengambil kertas itu dan menaruhnya di atas pangkuan Lili. " lihatlah mana yang menurutmu bagus." titah Riko.
Lili tidak menyahut bahkan ia tidak menyambut kertas yang di berikan Riko, karna hatinya masih benar benar tidak mood karna sikap Riko hari ini, yang membuat di bertanya tanya.
Riko meremas sedikit keras jemari Lili sehingga si pemilik tersentak kaget. Sontak saja Lili mengalihkan pandangannya menatap tajam Riko, namun hal itu tidak dapat membuat seorang Riko menciut.
" Lihat dan tentukan apa yang ingin kau kenakan di hari pernikahan kita." titah Riko tegas.
Mau tak mau Lili mengambil kertas itu dan melihat sekilas dan menunjuk asal ke arah kertas itu. " yang ini saja." kata Lili memujuk kertas di hadapannya tanpa melihatnya lebih dulu.
" Wahh, nona pandai memilih gaun ya." ujar pemilik itu. " ini adalah gaun yang rencananya akan saya buat satu saja dan tidak ada jiplakan atau sejenisnya dan anda akan menjadi pemiliknya." lanjutnya.
Lili hanya dian dengan senyum kikuknya, karna sebenarnya ia tidak tau kalau pilihanya adalah salah satu koleksi terbatas.
Sedangkan Riko hanya mengangkat sudut bibirnya melihat Lili yang salah tingkah. " baiklah segera selesaikan urusanya karna saya masih ada kepentingan lain." ujar Riko dengan melihat jarum jam tangan mahalnya
__ADS_1
Semua urusan telah selesai, mulai dari pengukuran badan biaya panjar dan lain sebagainya. Dan sekarang mereka pergi dari butik menuju kediaman masing masing..
Bersambung....