Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Canggung


__ADS_3

Lili dan Riko sudah dalam perjalana pulanh, dan sepanjang itu tidak ada yang membuak suara, mereka hanya diam. Riko sibuk menyetir tapi sesekali melirik kecil ke arah Lili, sedangkan Lili hanya memandang ke arah luar, dengan sesekali terisak kecil.


Sampai disana, Lili langsung melimpir kedalam rumah tanpa menunggu Riko, dan Riko hanya mengikuti dari belakang dalam diam.


Sampai di kamar, masuk ke kamar mandi dan tumpah sudah air mata Lili disana, dia tidak kuasa lagi, bagaimana pun dia terluka, sangat terluka. ingin sekali rasanya di ikut dengan As, tapi dia sadar dirinya sudah menjadi istri orang.


Sementara Riko, meremas kedua tanganya penuh emosi, ia marah mendengar tangisan Lili, bagaimana mungkin wanita itu menangisi pria lain didalam kediamannya.


" Kau benar benar merendahkan diriku Lili,! kau sudah menyinggung perasaanku. Kau harus diberi ketegasan mulai sekarang."


Dordordor...


Riko menggedor pintu kamar mandi dengan memburu, karna Lili tak kunjung keluar dari sana padahal sudah setejah jam yang lalu wanita itu masuk.


" Buka pintunya Lili, kenapa kau lama sekali." teriak Riko yang masih terus menggedor pintu itu.


Ceklek..


Pintu terbuka dan menampakan wanita dengan wajah datarnya dan mata sembabnya, tanpa ekpresi dan tanpa menyahut Lili langsung melewati Riko begitu saja, tapi kemudian berhenti saat Riko bersuara.


" Kenapa kau disini, apa kau tidak memilik kamar sendiri." kata Lili dingin


" Kenapa kau tidak memiliki sopan santun pada suamimu." kata Riko dengan menggertak giginnya menahan emosi.


Berhenti sejenak dan kemudian kembali berjalan tanpa menjawab, tapi lagi lagi langkahnya terhenti saat tangannya kali ini di cekal.


" Kenapa kau sangat tidak sopan Lili " Bentak Riko.


" Apa maksudmu ha." kata Lili tak kalah tinggi suaranya.


" Kenapa kau tidak menjawab ucapanku.! apa kau tidak mendengar perkataanku.!"


" Perkataan yang mana yang harus aku dengar dan aku jawab ha."


" Kau..! akh sudahlah. dengarkan aku sekarang Lili.! Mulai sekarang kau harus mengikuti aturanku, jika kau ingin keluar maka kau harus minta ijin padaku. Jangan keluar tanpa ijinku, sampai kau dikatai wanita murahan diluar sana yang bertemu dengan pria lain."

__ADS_1


" Kenapa kau mengatur hidupku.!" teriak Lili


" Karena kau berada di bawah pengawasanku dan kau adalah tanggung jawabku, jadi jangan membuat nama baikku jadi jelek didepan umum.


Lili tidak lagi mendebat, tapi wajah dan reaksinya bisa membuat Riko kalau wanita itu kesal dan keberatan tapu tidak punya daya. Terbukti dari kakinya yang di hentakan di lanatai dengan kasar.


" Yasudah kau keluarlah dari kamarku." usir Lili.


" Kau mengusirku dari rumahku sendiri.? kau tidak lupa kan kalau ini adapah rumahku" kata Riko dengan sebelah alis terangkat keatas.


" Aku tau ini rumahmu, tapi ini kamarku, jadi aku bisa mengusirmu dari sini." jawab Lili salah tingkah karena benar kalau ini adalah rumah Riko dan dia tidak punya hak sebenarnya.


" Aku tidak mau pergi." ucap Riko yang lansgung merebahkan dirinya dinkasur milik Lili.


" Hei.! kenapa kau malah tidur dikasurku." teriak Lili yang langsung melangkah menuju Riko dan menarik tangan Riko untuk bangun.


" Kau keluarlah." usir Lili.


" Tidak mau."


Riko dengan sigap manjadi alas badan Lili, dengan gerakan reflek tanganya melingkar dipinggang wanita itu, sejenak saling pandang, mencoba menyelami dalamnya tatapan satu sama lain.


satu detik, detik, dua detik, dan samapi beberapa menit pandangan itu tidak teralikan oleh keduanya, bahkan saat ini wanita cantik itu tengah merasakan jantungnnya terpompa sangat cepat dari biasanya, seakan dia sedang menguji adrenalinya.


Tidak jauh berbeda dengan Lili, Riko pun meradasan hal yang sama, jantung berdebar dua kali lebih cepat, bahkan bukan cuma itu jiwa lelakinya mendorong dirinya berbuat hal gila, lebih lagi bibi Ranum Lili yang merah seperti buah ceri sangat menggoda imannya.


Perlahan tangan Riko bergerak naik keatas tepat di belakang tengkuk Lili, wajahnya terangkat dan tangannya mendorong kepala Lili untuk mendekatkan wajahnya. Semakin dekat dan semakin hingga


Cup


Satu kecupan akhirnya mendarat, hanya menempel saja dan tidak ada pergergerakan sama sekali tapi walaupun hanya seperti itu dan Riko yang sudah berpengalaman dalam hal berciuman sebelumnya tapi ia merasakan ada sensasi yang berbeda.


Rasanya sangat menghanyutkan perasaan, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh mulut tapi tindakanlah yang bisa menjelaskannya, terlihat dari keduanya yang memejamkan mata meresapi rasa yang baru dan asing itu.


Lili seketika tersadar saat tangan Riko berpindah mengelus halus punggunya, kesadaran kembali mengambil alih dirinya dan kemudina langsung berdiri dari tubuh Riko Dan disusul lelaki itu juga ikut tersadar.

__ADS_1


Lili salah tingkah, wajahnya sudah memerah dan terasa sangat panas, tidak pernah terpikir olehnya kalau akan berciuman dengan Riki dan beposisi seperti ini pula, berada didalam pelukan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.


" Ekhmm." Riko berdehem untuk menetralkan kegugupannya, karena dia tidak berbeda dengan Lili yang salah tingkah. Dia baru tersadar akan tindakanya, bagaimana mungkin dia mencium gadis itu, dan kenapa dia seakan terhanyut dalam buaian ciuman yang hanya menempel itu.


" Aku akan keluar." kata Riko dan langsung melesat pergi meninggalkan Lili yang menunduk salah tingkah.


" Iy.. Iya pergilah."cicitnya.


Setelah kepergian Riko, Lili mengelus dadanya. " Hufttt kenapa jantungku berdebar begini sih, dan kenapa juga aku saja di cium olehnya, ini kan ciuman pertamaku." kata Lili yang kini memukul mukul bibirnya, kemudian merebahkn tubuhnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Sementara di depan pintu, Riko menyandarkan punggungnya di dinding, tidak langsung pergi. " kenapa aku bisa kelepasan sih.!" rutuknya. " Tapi bibir nya sangat manis." lanjut Riko sambil menyentuh bibirnya dan membayangkan kembali moment yang baru saja terjadi itu.


Pergi menuju kamarnya dengan suasana hati yang sedang bahagia, seolah ribuan kupu kupu sedang menari nari di perutnya senhingga ia geli sendiri merasakan itu.


Malam itu mereka melewati kecanggungan, meski tadi masih sempag terjadi konflik tapi tidak membuat mereka menjauh, justru yang membuat kecanggungan itu adalah karena situasi yang tidak pernah pernah terpikirkan oleh mereka akan terjadi.


Keesokan paginya, Lili terbangun dari tidur yang membawanya kealam mimpi, duduk dan segera membersihkan diri, kemudian turun menuji dapur dan mulai memasak. Karena dirumah mereka ART nya akan datang setiap jam delapan pagi dan pulang jam enam sore, otomatis Lili lah yang harus memasak setiap pagi dan malam untuk mereka.


Bergelut dengan pekerjaanya hingga selesau, kemudian menatanya di meja makan, dan kembali lagi kekamar, tapi kali ini bukan ke kamarnya melainkan ke kamar Riko untuk membangunkan lelaki itu.


Baru beberapa anak tangga yang dilewati tapi harus terhenti saat melihat Riko menuruni anak tangga dengan keadaan yang sudah rapi. " Eh kau sudah turun.? mari sarapn dulu." kata Liku yang lagi lagi salah tingkah mana kala mengingat kembali kejadian semalam.


" Ehmm." Riko hanya berdehem sebagai jawaban, rupanya dia juga sangat gugup, bahkan alasannya bangun pagi karena ingin menghindari kotak komunikasi dengan Lili


Tapj sepertinya semesta tidak mendukumg idenya itu, karena sekarang Lili ada dihadapannya dengan penampilan yang menarik perhatiannya.


Pakaian rumahan yang sederhana, tidak kebesaran atau kekecilan, panjangnya hanya sebatas lutut, sangat pas untuk tubuhnya sehingga menpakan kakai jenjang Lili yang putih bersih dan putih itu sehingga terkesan sangat seksi bagi seorang Riko lelaki nornal.


Menggeleng kepalanya pelan guna mengusir pikirannya yang sudah mulai piknik kegununh dan lautan pantai. Berjalan melewati Lili begitu saja dan Lili mengikutinya dari belakang.


Mereka sarapan dengan nikmat dan diam, tidak ada percakapan sepanjang kegiatan itu, kemudian tak lama Riko berdiri dan pergi dari sama setelah berpamitan dangan Lili. " Saya berangkat." katanya yang tidak melihat kearah Lili.


" Bailah hati hati." jawab Lili pelan yang dibalas senyum kecil dari Riko atas perhatian Lili untuknya. Melanjutkan perjalananya menuju kantor dan meninggalkan Lili seorang diri.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2