Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Tidak tau malu


__ADS_3

masalah jika dia mendengarkannya, itulah pikiran RikoRiko beridir dari tempatnya dengan mata yang tajam ke arah Janeth, "Maaf tapi saya tidak membutuhkan Investor saat ini!" ucap Riko dengan tegas kemudian melangkah meningalkan Jeneth.


Tapi baru dua langkah kakinya mengayun melewati Janeth, kakinya harus terhenti saat mendengar perkataan wanita itu.


"Kau tidak bisa mempertahankan egoh mu Riko, pikirkan ribuan karyawanmu yang harus berhenti bekerja jika kau tidak melanjutkan lerja sama kita"


Tangan Riko tekepal kuat, matanya terpejam mendengar apa yang dikatakan Janeth yang ada benarnya, tapi jika dia menyetujui kerja samanya, bukan tidak mungkin Janeth akan memanfaatkan situasi.


"Aku tau kau tidak suka melihatku, tapi ini juga demi kebaikan kau dan perusahaanmu serta karyawanmu Riko" lirih Janeth.


"Tuan, tolong pertimbangkan lagi, aku yakin jika nona Janeth tidan tau apa apa, karena pengajuan kerja sama jauh sebelum musibah perusahaan kita terjadi" bisik Halim.


Riko menarik nafasnya dengan dalam, meredam emosi dan sesak di hatinya dan setelah merasa lebih tengan, Rimo berbalik san melangkah kembali duduk.


"Kita mulai rapatnya" ucap Riko dengan wajah datarnya.


Sementara Janeth mengunggingkan senyum kemenangannya, karena pangkah awalnya sudah berjalan dan kini langkah kedua untuk mendapatkan Riko akan segera di jalankan dan Janeth berharap ini akan berhasil, tanpa dia tau Jika Riko tidak mudah di tipu apalagi di rayu dengan iming iming kekayaan.


"Baiklah pak Riko mari kita mulai" ucap Janeth dan kemudian duduk tepat dihadapan Riko.


Riko mengalihkan tatapannya saat melihat Janeth dengan santainya duduk dan menyilangkan kaki di depan Riko sehingga memperlihatkan paha mulusnya, karena meja yang hanya sebatas alas sofa jadi bisa membuat orang yang berhadapan leluasan menatap keindahan gratis itu.


Tapi tidak dengan Riko yang merasa sangat jijik sekali, tidak sudi melihat tubuh wanita itu walau hanya sekilas saja, meskipun tidak bisa di pungkiri kalau saat dulu mereka berpacaran Riko pernah mencicipinya tapi yang pasti bukan Riko lah yang pertama.


Janeth pun hanya menyunggingkan senyum sinisnya melihat Riko yang tidak sudi melihat dirinya lagi padahal dulu Riko begitu menggilai tubuhnya "sebegitu tidak sudinya kah kau melihatku Riko, sehingga kau enggan menatapn ke arahku" batin Janeth yang merasa sakit sekalugus mencemooh.


"Sepertinya ada yang lebih menarik perhatian tuan Riko di arah lain dari pada menatap klient anda" sindir Janeth.


"Anda benar sekali nona, saya lebih tertarik menatap tembom dari pada manusia yang tidak bisa menjaga cara duduknya.

__ADS_1


Janeth terkekeh mendengar jawaban Riko yang terlalu jujur menurutnya, "bukankah orang yang tidak punya etika bersikap ini juga sudah pernah kau cicipi? bahkan bukan cuma sekali" sindir Janeth dengan tawa yang mengejek.


Riko mengepalkan ke dua tangannya mendengar sindiran Janeth, benar jika tidak bisa dipungkiri kalau hubungan mereka bukan hanya sebatas pacaran tapi sudah berkali kali naik ranjang, tapi Riko tidak lagi menginginkan itu bahkam dia tidak mau mengingat jika mereka pernah menjalin hubungan.


"Jaga bicaramu Janeth!" sentak Riko, "apa kau tidak punya malu? apa kau semurahan itu sehingga kau dengan gampangnnya berkata seperi ini, aku saja malu kenapa aku harus jatuh cinta dengan wanita sepertimu!"


"Hahaha....sudahlah Riko, aku juga tidak mau mengatakan hal ini jika mulutmu tidak tajam dan menyakitiku" jawab Janeth dengan tawa renyahnya.


"Bisa kita mulai meetingnya nona?" tanya Halim dengan sopan tapi penuh penekanan.


Halim tidak suka dengan Janeth apa lagi pembahasan Janeth yang mengungkit masala lalu sehingga menunjukan sekali jika dirinya adalah wanita murahan.


"Baiklah silahkan!" ucap Janeth dengan nada sombongnya.


"Saya yang akan menjelaskannya tuan" ucap Halim dan langsung mengambil alih pekerjaan Riko yang sedang tidak mood.


Halim menjelaskan semuanya, dan Riko yang masih enggan melihat Janeth sedangkan wanita itu masih berusaha untuk menarik perhatian Riko agar mau menatap ke arahnya.


"Bisa tinggalkan kami?" tanya Janeth.


Janeth merasa ini sudah waktunya menjalankan rencana keduanya, tapi dia hanya ingim bicara berdua dengan Riko agar bisa leluasan lagi dalam berkata.


Halim menatap Riko dan pria yang menjadi atasanya itu mengannguk menyetujuj permintaan Janeth sehingga mau tidak mau Halim pun meninggalkan kedua orang itu walau sebenarnya berat untuk dia.


"Katakan!" ucap Riko dengan suara datarnya dan janhan lupa wajahnya yang tidak ada ekspresi sama sekali.


Riki sangat tau jika Janeth pasti memiliki rencana yang akan merugikan dan membuat dia berada dalam pilihan yang sulit, karena Janet adalah tipe wanita yang akan selalu mencari keuntungan.


Janeth tersenyum "kamu ternyata tidak lupa dengan karakterku ya Riko, kau selalu tau jika ada hal penting dan menari yang ingin aku tawarkan padamu".

__ADS_1


"Jangan basa basi denganku, cepat katakan apa yang kau mau!" bentak Riko.


"Astaga Riko, kau pemarah sekali ya sekarang" kekeh Janeth.


Riko menarik nafasnya untuk meredamkan emosinya, jika saja yang dihadapannya ini seorang pria maka sudah pasti dia akan menghajarnya sampai tidak berdaya lagi.


"Jangan memancing amarahku Janeth, jika kau tidak ingin terluka!" ancam Riko.


"Tidam Riko, aku tidak memancing amarahmu, aku ingin menawarkan sesuatu yang menguntungkan untukmu!" ucap Janeth.


Riko diam tapi mata tajamnya memandang ke arah Janeth, menunggu kelanjutan perkataan lawan bicaranya.


"Kita akan menjalin kerja sama dan aku akan menyuntikan dana seberapa pun kau inginkan, tapi dengan satu syarat! hanya satu syarat yang aku ajukan padamu" ucap Janeth sengaja memutus ucapannya.


Riko mengangkat sebelah alisnya mendengar perkataan Janeth yang terputus, dia penasaran tali dia juga bisa menebak jika itu pasti akan menjebak dirinya tapi tidak masalah jika dia mendengarkan dulu syarat itu.


"Katakan!"


"Mudah saja, jika kau mau maka semua akan beres, dan aku pastikan prosesnya tidak akan lama, besok pun bisa kau dapatkan dan kembali mengelolah perusahaanmu" ucap Janeth.


"Ck, wanita ini benar benar membuatku muak!" decak Riko.


"Kau harus menjadi kekasihku lagi Riko, dan setelah perusahaanmu normal maka nikahi aku dan jadikan istri keduamu" ucap Janeth dengan penuh keyakinan.


"Hahahaha, itukah syaratnya? menjadi kekasihmu lagi dan kemudian menikahimu dan kau menjadi istri keduamu?" tanya Riko dengan tawanya yang tidak berhenti.


"Tentu! tentu saja, karena aku juga tidak mau menjadi wanita kejam jika menyuruhmu menceraikan istrimu yang sedang hamil itu.


"Kau benar benar wanita murahan Janeth, kau dengan tidak tau malunya menawarkan diri menjadi simpananku!" ejek Riko.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2