
Dua hari setelah Ruben sadar dari komanya, ia sudah diperbolehkan pulang karna kesehatannya yang pesat membuta kesembuhanyanya pun semakin cepat.
Santi membantu Ruben untuk beres beres karna mereka akan langsung kembali kerumah di kota Metropolitan kata orang orang.
Hanya Santi dan Ans yang ada disana sedangkan kedua mertuanya sudah lebih dulu kembali satu hari sebelummnya.
" Ayo mas, kita berangkat." ucap Santi setelah semuanya beres.
" Tunggu Ans dulu. Dia yang akan membawa koper kita." jawab Ruben masih belum beranjak dari sana malah ia menarik lengan santi yang berada tidak jau darinya agar mendekat dan duduk di sampingnya
" Mas." pekik Santi saat sudah duduk didekat Ruben.
" Sttttt. Jangan protes.! mas ingin seperti ini sebelun kembali kerumah.
" Tapi nanti kalau Ans datang bagaimana.?" tanya Santi.
" kalau dia ada. Ya tinggal lepas pekukan saja." jawab Rubem sakin mengeratkan pelukannya.
Santi tidak lagi mendebat suaminya karna ia tau percuma saja berdebat, toh suaminya tidak akan mau mdengar perkataanya.
ππππ
Mereka kini sudah sampai di bandara internasional. Ruben menggandeng tangan istrinya dengan mesra dan sesekali menciumnya.
Bukan saat ini saja Ruben melakukan itu, tapi sejak mereka melangkah keluar dari rumah sakit, di dalam mobil, pesat dan sekarang di bandara masih seperti itu.
" Mas, sudah dong." kata Santi yang merasa malu karna di perhatikan oleh orang orang yang melihat mereka.
" Kenapa kamu tidak suka.?" tanya Ruben dengan wajah masamnya. Ia berpikir mungkin Santi tidak menyukai sikap manisnya.
" Bukan.! bukan aku tidak suka, tapi kita dilihatin banyak orang mas." ungkap Santi berbisik didekat Ruben.
" Biarkan Saja." Jawab Ruben setelah ikut memperhatikan sekitar mereka.
Santi hanya mendesah pelan mendengar jawaban tidak peduli suaminya. Terpaksa ia haruabiarkan suaminya melakukan apa yang ia mau.
" Biarkan sajalah, dari pada nanti marah lagi dianya padaku. Mending ikuti saja apa maunya." Batin Santi mengikuti langkah Ruben dengan jari masih saling bertautan.
Sedangkan Ans yang melihat sikap aneh dan tak biasa tuannya hanya bisa menggeleng dan berbatin. " Dasar bos. Udah mulai kena penyakit bucin akut ini.
Mobil yang mereka tumpangi kini sudah memasuki halanma Rumah mewah itu saat matahari sudah mulai kembali pada peraduannya.
__ADS_1
Didalam sudah ada Mama dan Riko sahabat Ruben, Jovan dan Lili sahabat Santi untuk menyambut kepulangan suami istri itu.
" Selamat datang kemabli..." Teriakereka bersamaan saat pintu sudah dibuka oleh Ans untuk majikannya.
" wah.. Trimakasih ya." ucap Santi
" Trimakasih." ucao Ruben juga.
Mereka saling bersalaman dan berpelukan, setelah itu mereka oun masuk kedalam rumah untuk melanjutkan temu kangennya.
" Yasudah kita masuk saja ya, sekalian kita makan. Mama tadi udah masak yang banyak untuk kita merayaka kepulangan kedua pasutri ini." ajak mama Dila pada semuanya.
Mereka semua masuk menuju meja makan. Dan Ruben pun masih tetap menggandeng istrinya dengan sangat mesranya membuat mereka yang melihat itu merasa iri terutana Lili yang tidak bisa mengajal Santi berbicara karna tidak di beri kesempatan oleh Ruben.
Mereka makan dalam diam dan penuh nikmat, tidak ada yang berbicara sama sekali termasuk Lili yanv bar bar dan juga Riko yang biasanya akan heboh jika masakannya enak dan lezat.
Selesai makan mereka mengobrol di ruamg keluarga dan sesekali diiringai canda gurai dari masing masing pihak. Hingga tak lama Ruben merasa gerah sekali dan ingin membersihkan diri.
" Mah pah, semuanya aku dan santi pamit dulh kekamar mau mbersikan diri dulu." ucap Ruben yang niatnya ingin mengusir secara halus tamunya ini.
" Oh kebetulan mama dan papa juga akan pergi mengahdiri pesta rekan bisnis papa." jawab papa yang bisa menebak isi hati putranya.
" kalau begitu kami juga pulang " jawab Jovan langsung menarik tangan Lili meninggalkan rumah.
Setelah semua pergi kini tinggalah pemilik rumah yang melangkah pergi memasuki kamar mereka.. Ya, mereka sekarang akan tingga sekarang sesuai perkataan Ruben tadi saat diperjalan pulang.
" Mas mandi dulu ya gerah solanya." ungkap Ruben melanglah masuk kedalam kamar mandi
Lima belas menit kemudian pintu kamar mandi kembali terbuka menampakan seseora yang merupakan hasil ciptaan Tuhan yang hanya menggunakan handuk meliit di pingganya sedangakn dadanya di biarkan terekspos didepan Santi.
Santi menelan ludahnya kasar melihat pemandangan yang menggiurkan hasrat. Sungguh tak bisa di sembunyikan kalau Santi sangat tergoda melihar tubuh suaminya, meski dia sudah beberapa kali melihat tubuh suaminya saat sakit tapi itu tidak membuatnya bosan untuk melihat.
" Hei.! kau mandilah dulu. nanti kamu bisa kok menyentuh dan menikmatinya." goda Ruben dengan kerlingan genitnya.
Santu yang kepergok langsung beralari menuju kamar mandi untuk meredakan kegugupannya.
"aduhh...Kenapa aku samapi terpesona begitu sih." rutuk Santi pada dirinya sendiri.
Sedangak Ruben yang melihat tingkah istrinya tertawa terbahak, sunggu istringa sangat menggemaskan jika sedang malu begitu dan ide nakalpun langsung terlintas dibenaknya.
Lima belas menit santi sudah selesai mandi, dqn bodonya dirinya yang baru mengingat kalau dia tidak membawa baju gantinya kekamar mandi tadi.
__ADS_1
Perlahan kepelamya keluar melihat keadaan sekitar, memastikan kalau suaminya tidak ada di kamar, sedangkan Ruben yang tadi mendengar pintu terbuka langsung berpura pura tidur.
" huffff aman... Dia tidur." guman Santi pelan dan mulai menlangkah menuju walk in close untuk mengambil pakaian gantinya.
Baru saja tanganya membuka handle lemari, sebuah tangan kekar melingkar ditubuhnya dan hal itu sukses membuat Santi terlonjat kaget.
" Mas." pekik santi.
" Ssttttt Diamlah. Aku sedang memeluk istriku." bisik Ruben tepat di telinga Santi dan bibirnya menciup kilat dan sensual telinga Santi.
Santi merakan gelenyar aneh saat merasakan sentuhan bibir suaminya, perlahan ia membalikan badannya menghadap Ruben yang langsung disambut oleh ciuman bibir Suami.
Mereka berciuman mesra, dengan tangan kanan Ruben memeluk pinggang Santi dan tangan kiri memegang tengkuk istrinya sedangkan Santi yang sudah terbiasa dengan ciuman Ruben melingkarkan tangannya dileher Ruben.
Mereka berciumana semakin dalam dan intens, Santi membalas ciuman Ruben tak kalah ganasnya meski masih ada kekakuan tapi ia mengikuti naluri birahinya untuk memuaskan dia dan suaminya.
Decapan demi decapan semakin terdengar cepat dan menuntut, lidah mereka saling membelit berlomba untuk mencari kepuasan. Tangan pun sudah tidak tinggal diam, saling meraba saling mengelus dan saling meremas, terutama ruben yang sudah di liputi kabut gairah.
" Sayang,, mas pengen." ucap Ruben dengan suara serak menatap sayu istrinya yang juga menginginkan yang lebih dari ini, itu terlihat jelas dari reaksi tubuhnya.
Santi mengganguk sebagai jawabannya dan mendapat persetujuan dari istrinya Ruben kembali mel**at bibir istrinya dengan rakus tangannya sudah lebih aktif dari yang tadi.
Ruben menggiring Istrinya menuju Ranjang dengan bibir yang masih bertautan dan mengecap. Ia sudah benar benar tidak tahan lagi dan malam ini harus dituntaskannya.
Ruben menindih tubus istrinya dan bibir yang masih saling membelit, perlahan bibir itu berpindah kebawah dan kebawah hingga sampai pada gunung kembar istrinya,
Lidahya terjulur menyapu buah d*da Santi men***apnya dengan rakus dan tangannya meremas secara bergantian.
" ahhhhhh." Satu desahan lolos dari bibir istrinya dan hal itu semakin membuat gairah cinta Ruben semakin memabara dan bersemangat untuk memjamah semua tubuh Santi.
Ruben lagi lagi menurunkan kepalanya mencari tempat yang sebenarnya di sana, hingga kepalanya sampai di tengah tengah kedua paha Santi dan membenamkan kepalanya disana untuk merasakan rasa yang sesungguhnya.
Bersambung...
hehehe....
Tanggung ya....π
pasti sudah ada yang mulai haredang kanππ
Author juga mulai haredang nih, makanya dibuat bersambung dulu.π
__ADS_1