
Ans dan Helena beserta Jenn duduk berpingan, formasi di meja makan yang sudah berlangsung selama dua bulan ini semenjal dulu Jenn berusia delapan bulan.
Bukan tanpa alasan Ans mau membuat formasi duduk untukakan seperti itu, karena Helena akan sibuk menyuapi Jenn dan Ans sendiri sibuk menyuapi dirinya dan Helena sendiri, karena dia mau mereka bertiga saralan di waktu yang sama, tidak boleh ada kata nanti nanti lagi.
Seperti saat ini, Helena sibuk menyuapi Jenn dengan bubur sadangkan Ans menyendokan makanan ke dalam mulutnya dan Helena secara bergantian, terlihat romantis bukan pasangan yang satu ini.
"Buka mulutnya dulu bun" ucap Ans menyodorkan sendok di depan mulut Helena.
Helena pun tak banyak protes ia mengukuti apa yang dikatakan Ans, makan dengan di suapi dengan tangan suaminya walau sebenarnya ini untuk mereka bisa sarapan bersama tapi bukankah secara tidak langsung menciptakan momen romanti bagi pasangan itu yang kini sudah mulai jarang bermesraan, bahkan untuk menciptakan kenikmatan dunia pun harus menunggu Jenn tertidur pulas.
Selesai dengan itu semua, mereka kini sudah berada di depan rumah mengantarkan Ans yang akan berangkat bekerja, "Ayah pergi dulu" ucap Ans dan mendaratkan kecupan hangat di kening istri dan anaknya.
"Hati hati ayah" jawab Helena menirukan suar Jenn yang ternyata ikut membeo ucapan ibunya.
"Ti ti yah" suara menggemaskan Jenn membuat Ans dan Helena tertawa gemas dan langsung mendaratkan ciuman hangat keduanya di pipi kiri kanan Jenn.
"Gemesnya anak bunda"
"Anak ayag makin pintar"
Sementara Jenn hanya tertawa cekikikan mendapat serangan seperti itu dari keduanya, tapi itu tidak berlangsung lama karena tawanya langsung berganti dengan tangisannya yang sudah tidak suka dengan keadaan.
"Cup cup cup sayangnya bunda, udah udah jangan nangis ya sayang"
Helena menenangkan Jenn dengan mengekus punggung balita itu dan mengayun ayunkan tubuhnya agar Jenn ikut terayun, "siapa yang bikin dede nangis? ayah ya? iya nak hm? ma terayun, "siapa yang bikin dede nangis? ayah ya? iya nak hm?"
"Loh kok ayah sih bun?" tanya Ans tidak terima, "pasti bunda kan nak? iya kan bundanya yang nakal" balas Ans yang tidak mau di salahkan.
"Udah ih ayah, jangan nyalahin bunda dong, sana berangkat gi, keburu mewek lagi putrimu" usir Helena.
"Yasudah ayah pergi dulu ya dan jangan lupa makan siang ayah di antarkan sama bintang kecil ini" pamit ulang As dan ciuman pun kembali di daratkan kemudian pergi meeninggalkan pelantara rumah dengan mobil mewahnya.
"Iya ayah hati hati, nanti siang pasti Jenn antar makan siang ayah" jawab Helena dan kemudian kembali masuk untuk bermain dengan putrinya.
Setelah puas bermain dan Jenn sudah muali mengantuk, waktu juga sudah menunjukan pukul sepulu siang, dengan segera Helena beranjak untuk membuatkan makan siang suaminya serta memanaskan bubur Jenn yang sudah di masak tadi pagi
"Bi, tolong kamu beres beres dekat kamar ya, biar dengar kalau Jenn bangun" pinta Helena saat sudah tiba di dapur.
__ADS_1
"Baik nona"
Helena muali berkutat dengan dapurnya, dia memasak makanan kesukaan suaminya karena du yakin pasti akan di protes lagi nanti jika bukan makanan kesukaanya yang tersaji di depannya, setengaj jam kemudian semua selesai bahkan sudah di susun dalam rantang dan bertepatan dengan itu Jeen terbangun, dengan segera Helena menuju kamar untuk memandikan bayi cantiknya.
"Uhhhh cantiknya bunda sudah bangun ya? pas banget kita mau berkunjung di kantor papa, yuk kita mandi dulu" ucap Helena sembari mengangkat tubuh Jenn dari kasur empuk milik mereka.
"Sekarang waktunya kita man..."
"ndi" sambung Jenn.
"Pintar anak bunda"
Sepanjang sesi mandi Jenn tidak henti hentinya bermain air, dia sangat suka dengan air, kadang memukul mukul air sehingga terciprat mengenai mukanya sendiri, bahkan tak jarang bundanya ikut terciprat karena kegiatannya.
"Sudah siap, ayo saatnya pakai baju!" seru Helena sembari membalut tubuh Jenn denban handuknya.
Helena dengan cekatan memakaikan pakaian Jeen dan setelah selesai dia memakai pakaianya sendiri lalu bergegas turun untuk menyuapi putrinya terlebih dahulu agar tidaj rewel karena lapar, Helena ingin nanti siang dia hanya melayani suaminya saja bahkan jika perlu Helena akan menyuapi suaminya, pokoknya dia ingin fokus pada Ans tanpa harus terbagi dengan kebutuhan Jenn.
Ibu dan anak itu sudah menuruni anak tangga siap untuk berangakt setelah sebelumnya tadi berbelok menagambil rantangan di meja makan, "bi...kamu berangkat ya, nanti kalau ada yang datang bilang kami tidak dirumah" ucap Helena.
"Baik nona"
"Selamat siag bu Helena" sapa karyawan yang berpapasan dengannya di lobi perusahaan
"Siang"
"Selamant siang catik..."
"Siang juga tante cantik" jawab Helena menirukan suara anak kecil sementara Jenn hanya bisa tertawa.
Helena berajalan terus menuju ruangan suaminya dan sepanjang jalan pun tak hentinya pada karyawan menyapa dan sedekali tanpa tau malu langsung mencubit gemas pipi Jenn membuat gadis kecil itu memekik geram dan justru itu malah menjadi sebuah hiburan bagi mereka.
"Ayahhh...!"
Helena langsung nyeloyor masuk dalam ruangan Ans tanpa mengeruk terlebih dahulu pintunya, karena memang sudah biasa juga Helena keluar masuk perusahaan terutam ruangan suaminya.
"Ehh bunda dedek" seru Ans saat tau jika yang datang adalah kedua bintang hatinya.
__ADS_1
Dengan segera Ans menghampiri kedua wanitanya, dan mendaratkan kecupan hangat di kening pipi dan bibir istrinya, begitu pun dengan bintang kecilnya mencium kening pipi dan bibir.
"Ayah belum keluar dari ruangan kan?"
"Belum kok tenang saja bun" jawab Ans yang tau maksud dari pertanyaan istrinya masalah kuman yang akan menyebabkan penyakit.
"Yaudah kita makan siang dulu"
"Bunda belum makan siang?" tanya Ans dengan kening yang mengerut.
"Belum"
"Kenapa? biasanya bunda makan dulu sebelum kesini?"
"Pengen makan siang bersama ayah saja siang ini"
"Ohhh ayah senang sekali mendengar hal itu"
Mereka menuju sofa dan Ans memangku Jenn sementara Helena sendiri membuka rantangan satu persatu dan menaruhnya di piring agar mudah bagi mereka makan.
"Makan yah"
"Tapi suapin ya, ayah ingin di suapin sama bunda, jarang jarang kan kita romantisan seperti ini" ucap Ans disertai kedipan nakalnya.
"Iya bunda suapin"
Helena mulai menyuapi Ans yang asyik dengan putrinya bergatian dengan menyuapi dirinya sendiri, "bunda nanti kalau ayah cuti, kita akan berkunjung ke rumah ibu" ucap Ans su sela sela kegiatan makan mereka.
"Benarkah?"
"Tentu, jadi tunggu saja kabar baik dari ayah"
.
.
Bersambung...
__ADS_1