
"Ada apa?" tanya Riko yang sudah mengerti jila akan ada yang di sampaikan sahabatnya itu.
"Aku sudah menangkap pelakunya" ucap Ruben membuat Riko menatap Ruben dengan lekat.
"Kau sudah menangkapnya?" ulang Riko.
"Iya, aku sudah menyelidikinya dan ternyata kecelakaan itu di sengaja dan aku sudah menangkap pelakuanya kedua supir yang menyamar sebagai warga dan pekerja di pertamina itu" jelas Ruben.
Riko mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, mendengar perkataan Ruben membuarnya naik pitam, darahnya mendidih seketika siap untuk menghabisi siapa pun.
"Aku akan melenyapkanya Ben, aku tidak akan memberi pengampunan padanya!" ucap Riko yang penuh dengan kilatan amarah.
"Kau tenang saja, kau bisa melakulan apa pun pada mereka jika kau mau tapi setelah kau memulihkam dirimu" ucap Ruben sementara Riko hanya menganngukan kepalanya.
Tak lama kemudian, pintu ruangan Riko terbuka menampakan perawat dan dokter beserta istri yang terbaring di atas brankar dan putrinya yang berada dalam gendongan seorang perawat lainnya.
Mata Riko berbinar melihat putrinya rapi sekaligus sakit melihat istrinya yang berbaring lemah dengan beberapa perban dan teruama perman di kepalnya, "baringkan lebih dekat lagi padaku suster" pinta Riko yang dianggukan oleh petugas.
Dan anakya pun berbaring tidak jauh darinya, dan dia berada di tengah tengah para ratu hidupnya, dan senyum indah terbingkai di sudut bibir Riko sedang matanya berair karena haru.
Ruben memerintahkan semua perawat itu keluar dan setelah nya dia pun pamit pada Riko
untuk kembali ke rumah mereka membantu istrinya untuk mengurus kedua bayinya.
"Sayang....." panggil Riko pelan dan tangannya bergerak meraih jemari Lili untuk di kecupnya.
"Terimakasih sudah bertahan untukku dan putri kita" ucap Riko, "aku sangat bahagia melihat putri kita disini, cepatlah sadar agar bisa melihat putra kita juga" ucap Riko dan mencium jari Lili dengan hangat dan lembut.
Riko kini berbalik melihat putrinya, senyumnya mengembang melihat bibir putrinya yang mirip dengan Lili tapi wajahanya lebih dominan mirip dengan dirinya.
"Kamu cantik sekali sayang" gumam Riko tapi matanya terus satu arah tanpa teralihkan sama sekali dari putrinya.
Ceklek.
"Bagaimana? kau sudah melihat?" tanya mama yang datang bersama papa dan kedua mertuanya.
__ADS_1
"Sudah, ratu dan tuan putriku sangat cantik walau sedang tertidur" jawab Riko.
"Kau sudah menyiapkan nama untuk cucu mama ini?" tanya mama Lili.
"Sudah, dia akan di panggil dengan Miley, Miley Mahardhika" jawab Riko dengan tegas.
"Wahhh Miley, nama yang sangat cantik...mama suka dengan nama itu" jawab kedua oma itu.
"Welcome in world baby Miley...!" seru kedua mama itu yang tidak berhenti kehebohannya.
Sementara kedua kedua pria yang kini sudah berganti gelar menjadi opa itu hanya bisa menggelang dengan senyum bahagia mereka, karena memang mereka juga bahagia kedatangan penerus baru, walau perempuan tapi itu bukan masalah bagi mereka yang terpenting adalah adanya keturunan.
"Yasudah kalian istrahat, kami harus kembali untuk membersihkan diri lebih dulu dan nanti kami akan kembali lagi membawa makanan kesukaanmu" ucap mama.
Riko hanya mengangguk mengiyakan perkataan orang tua itu, matanya kembali menatap begantian istri dan putrinya yang benar benar menyejukkan hatinya mengobati amarah yang sempat memuncak karena ternyata tau jika mereka ternyata sengaja di buat mengalami hal ini dan pikirannya kini tertuju pada satu orang yaitu Janeth.
"Aku pasti akan memberi pelajaran padanya sayang, dia aka membatar mahal akan hal ini!" batin Riko dalam hati.
***
Dan saat Riko sudah terbangun dua hari sebelumnya dia sudah menghubungi Halim untuk menangkap Janeth walau harus mengeluarakan biaya yang mahal tapi tudak masalah baginya, asalahkan musuh yang sangat ingin dua hancurkan bisa mendapat ganjaran dari perbuatannya.
Dan kini Riko akan pergi menuju tempat yang susah di share oleh Halim tempat Janeth di sandra, tapi sebelum itu dia harus berpamitan pada istri dan putrinya dan menitipkan mereka pada para tetua.
"Tolong titip istri dan putriku!" pinta Riko dengan suara datarnya.
"Mau kemana nak?"
"Memberi pelajaran untuk orang yang sudah membuat kami dalam keadaan seperti ini, kebahagiaan yang seharusnya kami sambut tapi berganti jadi hari sulit bagiku dan putriku karena ulahnya!" tegas Riko.
Semua orang tercengang mendengar jika ternyata semua kejadian yang menimpa keluarga Riko adalah yang di sengaja, amarah tentu saja memuncak sama seperti Riko saat pertama kali mendengarnya.
"Pergilah! jangan beri ampun padanya!" ucap papa Riko.
"Tidak nak, biarkan yang berwajib yang melakukannya" cegah mama Lili.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjamin mah, memgingat yang di lukai adalah keluargaku!" ucap Riko.
"Siapa yang sudah melakukan itu nak?" tanya mama Riko
"Janeth!"
Saru jawaban yang membuat mereka tercengang, tidak ada satu pun dari mereka yang tidak mengenal Janeth bahkan orang Lili pun tau karena di beri tau oleh mama Riko.
"Pergilah dan jangan beri ampun pada wanita murahan itu! dia benar benar wanita murahan yang tidak tau malu!" ucap mama dengan emosi yang meluap, "atau biarakan mama ikut sayang, mama ingin memberikan pelajaran padanya" ucap Mama Riko tapi segera di cegah oleh papa muda itu.
"Tidak perlu ma, aku sudah menyiapkan kejutan besar yang akan menjadi pelajaran untuknya, dan aku yakin mama akan sangat menyukainya" ujar Riko dengan senyum liciknya.
"Baiklah kembali dan segera bawa berita memuaskan" ucap mama yang di anggukan oleh Riko.
Riko keluar dan melajukan mobilnya ke tempat yang di maksud oleh Halim, rasanya dia sudah tidak sabar untuk sampai dan memberi pelajaran pada Janeth membalaskan semua yang sudah dilakukan terhadap keluarganya.
Sampai di sana, surara langkah tegas itu mengudara terasa mengerikan di pendengaran setiap orang, dan begitu juga Janeth rasakan, dia ketakutan melihat Riko mulai melangkah dan mendekat padanya, karena dia sudah pernah merasakan bagaimana kasar dan kejamnya Riko.
"Ri Riko" gumam Janeth dang bibir yang bergetar.
"Sudah aku katakan bukan! jangan pernah mengusik keluargaku lagi tapi kau malah semakin berani melawanku dan membuat keluargaku dalam bahaya!" ucap Riko penuh penekana dengan tangan yang menarik kasar rambut Janeth membuat wanita dewasa itu menekik kesakitan.
"Maaf, maafkan aku Riko. Aku janji tidak akan melakukannya lagi tolong ampuni aku Riko"pinta Lili dengan bibi yang bergertar hebat.
"Sudah aku katakan tidak akan ada ampun untukmu! dan kau harus menerima hukumannku!"
"Jangan, jangan lakukan itu, aku mohon jangaj lakukan itu Riko!"
"Kalian gilir dia hingga puas dan jangan lupa rekam semuanya dan sebarkan luaskan, setelah itu kirim kembali dirinya jika masih bernyawa tapi jika tidak, buang saja jasatnya dihutan jadikan makanan najing liar.!"
.
.
Bersambung...
__ADS_1