
Janeth mengepalkan kedua tangannya menahan amarah saat mendengarkan perkataan Riko yang mengejek dirinya, benar-benar tidak memiliki harga diri lagi dirinya dihadapan Riko, dan hal itu tidak bisa dia terima.
"Jangan terlalu sombong Riko, jika kau lupa maka akan aku ingatkan jika wanita yang tidak punya harga diri ini pernah menjadi pemuas nafsumu, wanita yang tidak punya harga diri ini pernah membuatmu merasakan kenikmatan dunia! jadi jangan mengatakan aku tidak memiliki harga diri jika kau sama denganku, bergelud dengan wanita yang kau sebut murahan ini!" teriak Janeth.
"Maka aku katakan jika aku sangat menyesal karena mengenal dirimu, aku sangat menyesal kenapa aku harus menaruh hati pada wanita menjijikan seperti kau!" jawab Riko.
"Kau benar benar keterlaluan Riko!" bentak Janeth "aku pastikan tidak ada satupun yang mau berinvestasi di perusahaanmu!" ucap Janeth yang kini sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
Dia tidak lagi mengingikan Riko, tapi yang kini dia inginkan adalah melihat Riko jatuh ke titik paling rendah, diamana kehilangan segalanya maka itu tidak akan membuat Riko lagi, dan sepertinya rencana penyerangan terhadap perusahaan Riko akan di buat boom meledak di perusahaan itu agar merosot benar benar merosot.
"Ck, aku tidak takut dengan ancamanmu!" ucap dan pergi meninggalkan Janeth yang masih menahan amarahnya.
Brak brak prang prang
" Haaaa......! sia**n...! aku benci kau Riko, aku membencimu...!"
Janeth berteriak dan menghancurkan semua barang yang ada disana, bahkan piring dan gelas semua pecah akibat dirinya.
"Aku akan menghancurkanmu Riko! aku akan menghancurkan kesombongannmu itu!"
Riko berjalan keluar dengan langkah cepat, tapi baru saja dia keluar dari ruangan itu lagi lagi langkahnya terhenti melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya saat ini.
"Sayang..!" seru Riko.
Lili masih mematung tidak bergerak sama sekali dan juga tidak membalas pelukan Riki padanya, Lili masih sibuk dengan pikirannya.
"Sayang, kenapa disini?" tanya Riko yang kini melerai pelukannya.
"Kenapa? apa tidak suka aku disini karena mengganggu acaramu?!" tanya Lili dengan mata tajamnya.
"Tidak sayang, bukan itu maksudku" sangkal Riko, "aku hanya kaget ada urusan apa kemari"
"Aku kemari karena mau menemui suamiku yang sedangn bertemu dengan mantan kekasihnya!" ucap Lili dengan nada sinisnya.
Riko terkekeh mendengar penuturan Lili, dia tidak menyangka jika ternyata Lili bisa secemburu itu, tapi jujur saja Riko sangat senang mendapati Lili yang seperti ini.
"Aki mencintaimu sayang" ucap Riko mengecup kening Lili dengan mesra.
__ADS_1
"Jangan merayu! katakan kenapa kau menemuinya!" ketus Lili.
"Dia klientku sayang, dan hanya dia yang mau bersedia menyuntikan dana di perusahaanku" ucap Riko mengelus pipi Lili dan menciumnya tanpa sungkan dengan mata orang lain.
"Kenapa harus dia!"
"Karena saat ini hanya dia yang bisa membantuku sayang, tapi tenang saja aku tidak mau bekerja sama lagi padanya walau aku harus kehilangan semuanya" ucap Riko dengan wajah sendunya.
Lili meraih pipi Riko dan mengelusnya dengan lembut, sorot mata suaminya benar benar menyiratkan adanya beban dan masalah besar yang di hadapinya.
"Aku akan menceritakannya nanti tapi kita makan siang dulu, apa kau sudah makan sayang?" tanya Riko
"Belum, tadinya aku ingin makan siang berdua denganmu tapi bukan masakanku" ucap Lili.
"Jadi kau makan di luar? bagaimana jika kita makan disini saja?" tawar Riko.
"Jelaskan dulu masalah apa sayang?"
"Iya aku akan cerita setelah istri cantikku ini makan siang" ucap Riko menoel hidung Lili
Mereka pun menuju salah satu meja untuk menyantap makan siang sesuai dengan keinginan Ibu hamil itu, dan Halim sendiri memilih untuk makan di mejanya sendiri, dan bicara soal kerjasama sudah pasti Halim tau jawabannya kalau tidak ada kerja sama yang akan terjalin.
"Sayang...Apa kau suka rumahnya?" tanya Ans pada istrinya.
Saat ini pasangan yang satu ini sedang merebahkan diri atas rangnjang milik Helene yang kini lebih besar dari miliknya sebelumnya bahkan kasur Helena sebelumnya kini Ans sudah menggantinya dengan Springbad yang nyaman untuk istrinya yang sudah hamil tua.
Bukan hanya kamar dan perkengkapan milik Helena saja yang digantikan, tapi kamar Ibu, Nathan dan juga Dian sudah di renovasi termasuk isinya yang diganti dengan yang lebih nyaman lagi.
"Iya aku suak" jawab Helena singkat.
Ans yang meliht Helena tidak menanggapi dan fokus pada pada ponselnya menjadi kesal, dengan segera dia merebut ponsel dari tangan Helena dan menaruhnya sembarang tempat.
"Hei ponselku!" seru Helena.
"Apa! kau mau marah karena aku merebut ponselmu! ckck, keterlaluan sekalu kau jadi istri!" ketus Ans.
"Hei sayang, jangan marah! kau mau cepat tua dan jika kau tua bisa bisa anakmu tidak mau mengakuimu sebagai ayahnya nanti!" goda Lili.
__ADS_1
"Jangan menggodaku! aku tidak akan tergoda" Ans memalingkan wajahnya agar tidak melihat reaksi menggemaskan Helena.
"Sayang aku ingin tidur" ucap Helena.
Helena bersikap seperti itu karena tidak mau meladeni suaminya yang kini merajuk, karena kini itulah yang menjadi senjata Helena yaiti mengabaikan rajukka Ans.
Karena setelah merasa didiamkan maka dengan sendirinya dia akan kembali menempel pada Helena seolah tidam terjadi apapun.
Dan kini Helena pun menggumakan cara ampuh dengan dalil nama anaknya maka Ana akan menurut dan berhentk merajuk karena mengusap perut Helena adalah kegaiatan yang paling disukak oleh Ans.
Dan benar saja dugaan Helena, Ans yang tadinya merajuk seketika mencerah wajahnya dan senyum manisnya merekah, dengan gerakan cepat Ans bergeser dan menempel pada tubuh Helena dengan tangan yang mulai bergedak teratur mengusap perut.
Helena tersenyum mendapati suaminya ya tidak perlu di minta dua kali langsung melakukannya, " terimakasih sayang" ucap Helena dengan senyum manisnya.?
Ans, menganggung sebagai jawaban dia jiga sangat senang melakukan hal ini untuk Helena, karena menurutnya ini merupakan kegegiatan yang menyenangkan dan elusan tanganya bisa membuat dirinya lebih dekat dengah calon anak mereka.
"Oh ya sayang kapan jadawal kontrolmu?" tanya Ans di sela sela kegiatannnya.
"Minggu depan"
Helena berpindah posisi, dari posisi yang menyandar di kepala kursi kini beralih dia menyandarkan kepalanya di dada bidang Ans yang langsung di sambut dengan kecupan hangat dari Ans.
"Kamu belum belum mengantuk sayang?" tanya Ans.
"Sebentar lagi, oh ya kapan kita kembali?" tanya Helena.
"Apa kau tidak suka jika berada disini?' jawab Ans malam balil bertanya.
"Senang! aku sangat senang tapi suamiku ini hatus bekerja bukan? jadi aku tidak boleh egois" jawab Helena.
"Kamu tau? aku juga tidak betah disini, karena apa? karena aku harus menahan diri untuk untuk mendangar desahanmu" bisik Ans dengan senyum nakalnya.
"Apaan sih" ucap Helena dengan rona wajah.
"Yasusah kita tidir sayang" ucap Ans yang di angguki Helena.
.
__ADS_1
Bersambung...