
Sedangkan dalam kafe masih tertinggal tiga orang itu satu pria dan dua wanita, merek masih asyik mentap pasangan yang baru saja meninggalkan mereka.
" Mereka sekrng terlihat bahagia ya." celutuk Lili ditengah tengah keasyikan mereka meluhat Santi dan Ruben.
" Ya, mereka terlihat sangat serasi." jawam Rena menimpali.
" Sayang jangan memuji lelaki lain." kesal Jovan.
" Ahhh, maaf sayang." cicit Rena.
" Hemmmm cemburi buta aja kerjanya." ejek Lili.
" Namanya juga cinta, iya kan sayang." kata Jovan menoel gemas dagu kekasihnya.
" oekkkk. Jijik mata ini melihat bucinnya." kata Lili dengan praktek ingin muntah.
" sirik saja sih jadi cewek."
" Ih,, gk ya." bantah Lili.
" Makanya nikah sama Riko." tambah Rena yang membantu Jovan menggoda Lili.
" Kalian pasangan menyebalkan." cebik Lili.
" hahahahahah." kompak pasangan itu tertawa keras hingga beberapa pasang mata melihat kearah mereka tapi tidak di pedulikan.
" Udah aku pulang dulu." pamit Lili beranjak berdiri pergi meninggalkan pasangan kompak itu.
Lili yang sedang kesal dan berjalan tergesa, tidak lagi melihat sekelilingnya dan tak sengaja ia menabrak tubuh orang lain
Brukkkk...
" Kau tidak punya mata ya." bentak Lili yang emosi.
Tidak ada jawabn dari lawan bicaranya dan hal itu sukses membuat Lili naik pitam.
" Hei kau...!" tak sempat Lili melanjutkan ucapnnya yang ingin mengomeli lelaki itu, menjadi berhenti. " Eh, pak Ans. maaf pak saya tidak tau itu bapak." cicit Lili.
" Kalau bukan saya. Apa kau akan memakinya.?" tanya Ans menaikan satu alisnya keatas menunggu jawaban dari gadis itu.
" Gak gak pak. mana mungkin saya memaki seseorang. bapak salah paham." epak Lili.
" Kenapa kau masih disini.? sedangkan Nona Santi sudah pergi sedari tadi." tanya Ans.
" Oh tadi itu em..Aku masih bercerita dengan teman temanku." jawab Lili gugup.
" Kau asyik bercerta dan tidak bekerja selama setengah hari." ucap Ans datar.
" Itu tadi Santi bilang di sudah ijin sama Tuan Ruben." jawab Lili cepat.
__ADS_1
" Tapi kenapa aku tidak tau."
" Mana aku tau soal itu. Kan saya cuma mengikuti kemauan istri bos.
" Baiklah kalau seperti itu maka swbahai gantinya tani saya makan.!" titah Ans.
" Tapi pak..-"
" Tidak terima penolakan." tegas Ans.
" Baiklah kalau begitu." Lirih Lili.
Mereka pergi meninggalkan restoran. Tangan Ans refleks memegang jemari Lili dan menariknya untuk masuk kedalam mobil. Dan Lili pun hanha mengikutinya tanpa sempat protes.
" Loh kok masuk mobil lagi pak.? bukannya bapak mau makan ya." tanya Lili yang merasa bingung.
" Kita cari restoran lain saja." kata Ans
Lili tidak lagi menjawab, ia memilih diam memandang keluar jendela, sedangkan Ans di sepenjang mobil melaju, sesekali ia mencuri curi pandang kearah Lili dengan sorot mata yang berbeda dan yang tidak bisa diartikan oleh orang lain.
Mobil berhenti sebuah restoran yang besar dan luas nan mewah ala ala kelas atas. Ans turun dan di ikuti oleh, Lili yang merasa sangat minder, mengingat dia tidak pernah makan di tempat seperti ini.
" Pak, apa tidak ada tempat lain." Bisik Lili saat mereka mulai menginjakan kakinya di pintu restoran.
" Kenapa.? apa kau tidak menyukainya.? kalau tidak kita bisa mencari yang lebih bagu dari ini." tanya Ans dengan dahi mengrut tak mengerti
" Jangan.!" tolak LIli masih dengan bisikan yang membuat dia semakin dekat dengan tubuh Ans dan Ans sendiri bisa merakan sentuhan dan aroma khas dari tubuh Lili.
" Jadi kau belum pernah makan ditempat seperti ini.?" tanya Ans sembaari duduk dieja VOP yang sudah ia booking melalu recervasi via online.
" iya pak belum pernah." jawab Lili dengan kepala menunduk karna ia sangat malu mengatakan hal itu, dan dia pun tidak ingin berbohong untuk menjaga gengsinya.
" Bagus.! dan sekarang kau akan makan pertama kalinya disini dan jadikan itu pengalaman bersejarhamu." saut Ans asal.
" ha." Lili terbengong mendengar jawaban dari atasannya itu.
" udahlah tidak usah dibahas. Sekarang pesan apa yang kau mau." jawab Ans
" ta..pi saya gak tau pak mau pesan yang mana. apalagi harganya mahal mahal semua." jawab Lili mengiba.
" Ans yang melihat tatapan bingung sekaligus mengiba itu menjadi sedikit kasian, dan tanla banyak kata Ans memesan makananya beserta untuk Lili.
Selesai menyebut pesanan, mereka terdiam tidak ada yang berbica. Ans hanya menatap Lili dengan sorot mata yang tidak biasa di perlihatkan oleh seorang Ans pada wanita manapun.
" em..em ke..napa bapak melihat saya seperti itu" tanya Lili salah tingkah.
Ans tidak menjawab tapi matanya masih terua fokus pada LIli yang mulai gelisah karna dirinya. " gak usah Gr kamu. Aku lihatin kamu karna mua menilai kamu pantas tidak jadi sekretaris Tuan Ruben." kata Ans yang akhirnya buka suara
" ha.." Lili terkejut mendengar penuturan Ans. Aa dia tidak salah dengan. " maksud bapak apa." tanua Lili ingin memastikan.
__ADS_1
" Saya bilang mau melihat penampilan kamu pantas tidak jadi sekretarisnya tuanku." ulang Ans
" emangnya kemana asistenya yang dulu pak mbak mita itu.?" tanya Lili
" Di pecat." jawab Ans Singakt.
" lalu..."
" Stttt diam dan makan dulu." perrintah As yang melihat Lili ingin kembai bertanya padahal pesanan mereka sudah datang
Lili terdiam mengikuti perkataan sang bos.Mereka makan dalam diam dan sesekali pandangan mereka bertemu dalam pikiran dan pandangan yang berbeda.
Lili mandang Ans dengan rasa sungak dan segan, berbeda dengan Ans yang mencuri pandang pada Lili dengan alsan yang masih belum diketahui oleh orang lain bahkan author pun tak tau.
Selesai menyantap makanan, mereka kemabali lagi pada percakapan awal tentang nia Ans yang ingin menjadikan Lili sebagi sekretaria Ruben pengganti mita.
" Jadi saya putuskan besok kau akan menjadi sekretaria Tuan Ruben menggantikan posiai mita itu." kata Ans.
" saya pak.?" tanya Lili menujuk dirinya sendiri.
" memang siapa lagi ha." ketus Ans.
" Kenapa mesti saya pak.? kan banyak yang lain." tanya Lili ragu ragu.
" Karna kau sahabat nona dan dekat dengan nona, jadi kalau nona datang keperusahaan kau bisa menemaninya.
" ohhhhh.." Lili hanya ber oh ria yang membuat Ans sangat kesal.
" Kau paham tidaK." sentak Ans yang mebuat Lili terjolak kaget.
" pahanm pak." cicit Lili.
" Kalau paham katakan paham, jangan cuma oh ah oh ah saja kamu." kata Ans.
" Ikh bapak kok galak banget sih." cemberut Lili.
Ans tidak menjawab, tapi senyum tipis terbit di sudut bibirnya melihag ekpresi wajah Lili. Ia merasa ada sesuatu disana didalam dirinya yang mengatakan bahwa wanita didepannya ini memiliki tempat tersendiri disana.
Dan menjadikan Lili sekretaris Ruben dan alasan dia adalah sahabt dari Santi itu hanyalah alibi Ans saja untuk bisa memantau wanita itu,
Ya. Sekaj kemarin setelah kepulang mereka dari rumak milim Ruben dan saat Ans mengantar Lili kekontarakannya. Sejak saat itu ia merasakan ada yang berbeda dengan wanita didepannya ini.
' Ayo pulang." ajak Ans.
" Baiklah." jawab Lili.
Mereka pergi meninggalkan Restoran mewah itu, menuju kediaman masing masing dan tentunya dengan diantarkan oleh Ans.
Berambung....
__ADS_1
mampir yu kecerita taman kita...Kak endar agri 👇👇