
Pasangan pengantin yang masih seumur jagung itu sudah selesai dengan kegiatannya, mereka kembali ke Villa dan rencana selanjutnya adalah kejutan Rajesh yang sudah pasti istrinya tidak mengetahui hal ini.
"Sayang...istrhatlah, kamu pasti lelah" ucap Rajehs.
"Aku ingin berkemas Mas, besok pagi pagi sekali kit harus berangkat bukan? jadi tidak ada waktu untuk istrahat lagi" ucap Nara.
"Nanti minta pelayan merapikannya, lebih baik kamu istrhat saja, lihat....wajahmu sudah nampak lelah" ucap Rajehs yang memperhatikan istrinya sedikit kelelahan.
"Tapi ini tanggung Mas..." Nara masih berusaha menolak halus perkataan istrinya, tapi bukan Rajehs namanya jika tidak memiliki banyak cara, jika dengan lembut tidak bisa maka kekuasan sebagai seorang suami akan dilancarkan.
"Jangan membantah suami sayang, tidak abik bagi seorang istri" ucap Rajehs dengan senyum liciknya.
Tentu saja Nara tidak lagi berkutik jika kata suami istri dilontarkan dan akhirnya Nara menurut, mendekat kearah Rajesh dan merebahkan dirinya disana lalu tidur dalam pelukan Rajesh yang tak lama langsing terlelap mungkin karena memang benar benar lelah.
"Dasar keras kepala, masih bilang tidak apa padahal lelah, lihat sekarag tidak lama sudah langsung terlelap" ucap Rajesh dan mengecup kening sang istri dengan saya dan lembut.
Setelah itu si suami langsung memerintahkan pelayan yang ada disana untuk merapikan kamar mereka, mengepak pakaian serta barang barang yang akan mereka bawa pulang dan tak lupa Rajesh terus berkirim pesan pada Manager restoran untuk mengetahui perkembangan sudah sejauh apa persiapan rencananya dan ruapnya semua sesuai rencannya dalam dia jam kedepan semua akan selesai dan kini tugas Rajesh adalah membuat istrinya tidur selama dia jam itu.
Rajehs ikut terlelap, dia berpikir untuk beristirahat juga selama dua jam itu sementara para pelayan melakukan pekerjaan mereka diruang lainya diluar kamar agar tidak mengganggu majikannya yang sedang tertidur.
Dua jam kemudian, Rajehs menggeliat membuka matanya perlahan dan melihat istrinya masih terlelap membuat pria tampan itu tersenyum lemhut melihat istrinya seperti itu, "kamu memang sangat cantik sayang dan aku sangat beruntung mendapatkan dirimu sebagai istrimi, hidup denganku selamanya hingga maut memisahkan kita kelak dan aku berharap kita segera memeliki keturunan agar menambah kebahagiaan yang aku miliki" gumam Rajesh yang masih betah menatap istrinya dengan tatapan penuh puja.
Tak jngin membuang waktu, akhirnya pria tampan itu bergegas membersihkan dirinya, dia sudah meminta pelayan untuk menyiapkan gaun yang akan dikenakan Nara malam ini sekaligus untuknya juga dan Rajehs meminta agar hanya diberikan kemeja saja dengan warna senada dengan pakaian istrinya.
Dan rupanya perintah itu dengan segera dilaksanakan para pelayannya terbukti hanya setengah jam kini pakaian itu sudah sampai ditangan sang tuan muda dan hasilnya sangat memuaskan dirinya, karena sesuai dengan seleranya.
__ADS_1
"Sayang....sayang.. bangun segralah bersiap?" ucap Rajesh dengan mengguncang pelamh tubuh istrinya.
"Kita mau menanam Mas? apa kita akan pulang sekarang?" tanya Nara dengan suara seraknya, kesadaran wanita itu rupanya masih belum kembali sehingga pertanyaan itu terlontar begitu saja
Rajesh terkekeh mendengar pertanyaan itu, dia tidak percaya istrinya bisa mengigau sepeeti ini, berpikir jika ini sudah pagi dan wakti saat Ida tidur tadi adalah waktu malam, " ini masih malam, jadi bagaimana mungkin kira sudah berangkat" kekeh Rajesh.
Nara mendengkus sebal karena ditertawakan istrinya, tubuhnya bergerak merubah posisi hingga kini dengan posisi bersandar, maranya memicing melihat penampilan suaminya yang sudah sangat rapi dengan kemeja berwarna biru Dongker membuat ketampanan Rajesh bertambah, apalagi tatanan rambut dan style Rajehs yang tidak biasanya.
"Mas mau kemana?" tanya Nara masih dengan tatapan menyelidik.
"Bukan aku, tapi kita" jawab Rajesh singkat.
"Kita? memangnya ada apa? kita mau kemabar?" tanya Nara tidak mengerti.
" Emm... kebetulan rekan bisnis aku rupanya berlibur disini juga bersama istrinya dan dia mengajak aku untuk makan malam bersama dengannya dan dia memintaku memanwa istrimu yang cantik ini" ucap Rajehs beralasan.
"Setauku tidak ada yang bertemu dengan kita deh rekan bisinismu" gumam Nara.
"Astaga....istirku ini sangat teliti, tidak bisa dikelabui rupanya" jerit Rajehs dalam hati.
"Emm...memang tidak bertemu, tapi daj mengirim pesan lewa email dan jangan tanya dari mana dia tau keberadaanku karena tentu saja informasinya dari Leo" jelas Rajesh langsung mengatakan hal itu karena dia bisa melihat istrinya yang masih tampak bingung.
"Ohh" Nara mengangguk merasa alasan suaminya masuk akal, tapi sebenarnya Nara tidak perlu menaruh curiga karena pada kenyataanya suaminya keluar dengan mengajak dirinya dan sudah pasti apapun itu nanti dirinya juga akan tau.
Nada jadi menggeleng sendiri mengingat kelakuannya yang seperti itu, tidak sadar karena sudah lebih dulu terpesona dengan suaminya membuat otanya menelan mentah perkataan suaminya tanpa mau berpikir lagi.
__ADS_1
Bagaimana mau berpikir lagi kalau didalam otanya sudah dipenuhi dengan wajah tampan dan pesona suaminya yang semakin hari semakin terlihat sempurna Dimatanya dan itu membuatnya wanti wanti akan gadis gadis penggoda diluar sana sehingga wanita cantik itu harus bisa pasang badan menghalau segala penggoda yang mendekat.
Nara membersihkan tubuhnya dan setelah itu Nara menggunkan gaun yang diberikan pada Rajehs padanya tampan protes dan itu membuat Rajesh sangat menyukai hal itu, " aku suka kamu jadi wanita yang penurut dan itu terlihat sangat manis sayang" ucap Rajesh tapi tidak dihiraukan oleh Nara.
Baginya suaminya itu hanya menggombal walau tak bisa dipungkiri jika sebenanya juga dirinya tersipu akan gombalan sang suami tapi tetap dipendam agar tidak digoda terus terusan oleh Rajesh suaminya.
Nara Makai gaunya dan memoles wajahnya sedikit agar tidka terlihar pucat, bagaimanapun Nara harus menjaga harga diri suaminya, dia harus menjaga penampilannya agar tidak diolok oleh para kolega sang suami apalagi jika kolega Rajesh memiliki istri yang jiwa sosialitanya tinggi.
Rajesh melirik jam di pergelangan tanganya, tidak biasanya wanitanya berdandan lama seperti ini tapi dia masih diam saja tidak mau protes atau apapun itu karena dia sadar istrinya jarang sekali berdanda tapi mungkin karena bicara koleg bisnis tentang pertemuan ini membuat Nara berdandan lama pikir Rajesh dan memang itulah yang terjadi.
Nara meraih sepatu dan tas tangannya tanganya yang sudah jelas itu bukanlah barang dengan kualitas murah karena tidak mungkin Rajehs membiarkan istrinya menggunakan barang murahan, dia selalu memilih barang branded dengan kualitas yang sangat baik untuk istrinya.
"Ayo Mas..." ajak Nara setelah keluar dari ruang rias.
Rajesh mengalihkan perhatiannya, dia terpana dengan kecantikan wanitnya yang sangat luar biasa padahal itu hanya riasan Sanga tipis bahkan hampir tak terlihat tapi tetap saja aura kecantokan Nara sungguh mampu memabukan Rajehs dan selalau berhasil mengalihkan duaninya.
Ingin sekali Rajehs mengurung istrinya didalam kamar saja karena tidak rela jika ada mata lain diluar sana yang akan menatap wanitnya tapi dia sadar, semua rencananya akan gagal jika melakina hal itu.
"Ayo kita berangkat" ajak Rajeah setelah menyadarkan dirinya dari memabukan yang diberikan Nara.
"Ayo"
Keduanya saling bergandengan tangan, bertautan dengan mesra dan berjalan beriringan menuruni anak tangga Villa yang tidak terlalu banyak itu menuju mobil dan segera meluncur ke tempat tujuan yang Nara sendiri tidak tau dimana melainkan hanya Rajesh yang mengetahi hal itu.
.
__ADS_1
.
Bersambung...