Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Semua Sudah Berakhir


__ADS_3

" hei.! biar kujelaskan dulu padamu ak.-" lagi lagi perkataan Ruben kembali tertelan di tenghorokannya karna Santi kembali menyudutkanny.


" Kau mau menjelaskan apa lagi ha.! aku sudah melihat semuanya. Aku sudah melihat bagaimana pamanku memohon padamu dan tanteku yang sudah memelas didahadapanmu.! tapi kau hanya diam saja dengan keangkuhanmu itu." bentak Santi dengan jari sudah menunjuk kearah Ruben.


" Kau salah paham nak. itu tidak seperti yang kau lihat." kata Paman menenangkan Santi.


" Iya San, Suamimu tidak melakukan apapun pada kami. Tante yang salah padanya karna tante sudah memakinya tadi." ucap tante angkat bicara.


" Sudahlah paman. Jangan membelanya, dan paman tidak perlu takut padanya.Dia memang terlalu angkuh dan tidak punya perasaan, berbuat seenaknya dengan kekuasaanya." jawab Santi yang masih tidak mau mendengar alasan apapun.


" Dan kalau memang tante sudah memakinya harusnya ia tidak perlu mengancam kalian begitu karna bagaimana pun kalian adalah orang tua dan harus mengahargai itu.!" lanjut Santi yang kali ini menjawab perkataan tantenya.


" Cukup.!" bentak Ruben. " kenapa kau berkata tentang itu padaku.! kau tidak mengenal aku Santi. Kau tidak tau seperti apa aku yang sebenarnya. Kau tidak tau alasan kenapa aku seperti ini.!" teriak Ruben yang sudah tersulut emosi mendengar hujatan Santi padanya.


Seketika semua bungkam terdiam. Tidak ada yang membuka suara baik Santi maupun semuanya tidak ada menyahut perkataan yang penuh dengan emosi itu.

__ADS_1


Bahkan Ans pun enggan untuk ikut campur urusan kelurag Tuannya itu, meski sebenarnya Ruben tidak bersalah tapi apa yang bisa dilakukan kalau Santi tidak mau mendengar penjelasan orang lain.


"Kau harus tau Santi, aku datang untuk menjenmputmu bukan untuk menyiksa mereka apalagi itu adalah keluargamu yang juga menjadi keluargaku." lanjut Ruben. Sejenak ia beehenti dan menarik nafasnya dan kemudian kembali berkata. "Bahkan aku tidak tau kalau dia ( menunjuk kearah paman ) adalah salah satu karyanku di cabang kita ini." Lanjut Ruben masih dengan suara yang mulai turun namun masih terihay emosi itu belum mereda.


" Santi perlahan mengangkat lepalanya mandang kearah Ruben. Ia melihat tatapan yang penuh dengan amarah itu. Perlahan tapi pasti ia membuka suara berkata.


" Untuk apa.? untuk apa kau datang menjemputku. Bukankah kita sudah bercerai.? bukankah kau sudah kembali pada kekasihmu yang jalang itu.!" Santi kembali lagi dengan amarah diwajahnya setiap kali mengingat pertemuan terakhirnya dengan sang suami diamana sang mantan sedang memeluk suaminya.


" Aku tidak kembali padanya Santi, dan aku datang kesini untik menjemputmu pulang."


" Nak, selesaikan masalahmu dengan baik." ucap paman dengan tangan mengusap bahu Santi.


" Tidak.! tidak ada lagi yang harus dibicarakan antara kami Paman. Semua sudah berakhir saat gugatan itu dilayangkan." tegas Santi.


Ia menggigit bibir bawahnya saat mengatakan hal itu karna sesungguhanya jauh dalam lubuk hatinya ia sangat mencintai suaminya, namun amarah sudah mengusai kalbu hingga tak lagi berpikir akan akibat dari ucapannya.

__ADS_1


Semua tercengan mendengar ucapan yang terlontar dari bibir wanita cantik itu, tak terkecuali Ruben yang sangat syok mendengar kata istrinya namun lidahnya terlalu kaku untuk berucap.


Santi hendak memutar langkanya menuju kamarnya setelah beberapa lama hening. Dia ingin menumpahkan tangisnya disana, ia ingin menjerit disana karna sesuangguhanya kristal bening dan sesak dada sudah sangat menggrogoti hatinya dan ia sudah tak dapat bendung lagi.


Baru selangkah kaki mengayun, namun harus terhenti karna pertanyaan dari sang pujaan hati yang lagi lagi harus membuat ia semakin sulit bernapas.


" Apa kau tidak ingin pulang bersamaku.? apa semua benar benar sudah berakhir.? apa kau benar benar sudah memutuskan hal ini.? tanya Ruben lirih namun masih bisa didengar oleh semua orang disana. Tatapannya sendu dan memerah pertanda bahwa lelaki itu tengah terpukul dengan kalimat istrinya. Namun ekspresi itu jelas saja tidak dapat dilihat oleh Santi karna posisinya yang membelakangi Ruben.


" Tidak.! aku tidak akan pulang bersamamu. Kembalilah dan jangan menghabiskan waktumu pada wanita yang tidak berarti ini." setelah mengucapkan itu. Santi berlalu pergi menuju kamarnya dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.


Ruben yang mendengar perkataan Santi, Mendadak emosinya membuncah. Pkirannya kalut dengan nafas yang memburu ia pergi meninggalkan rumah itu menuju mobil yang terparkir di luar.


Ia menyeret paksa sopir dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, sedangkan Ans paman dan tante berlari menyusul Ruben keluar.


Tanpa pikir panjang Ans merebut kunci mobil paman dan menyusul sang Tuan dengan kecepatan yang tak kalah tinggi. Ia sangat tau kalau saat ini tuannya sedang tidak baik baik saja.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2