
Nara berjalan menuju kamar tapi dipertangahan tangga Nara berpapasan dengan Radith yang hendak turun dengan pakaian yang sudah berganti pertanda jika bocah itu sudah selesai membersihkan dirinya karena wajahnya yang juga sudah terlihat lebih fresh.
"Mommy..." panggil Radith.
"Kau sudah selesai mandi sayang?" tanya Nara.
"Sudah...Mommy mau ke kamar?"
"Iya sayang... Mommy sudah sangat gerah sekali" ucap Nara.
"Baiklah, ayo aku antar ke kar Daddy" ajak Radith menawarkan bantuan.
Nara mengangguk karena memang dirinya belum tau letak kamar Rajesh dimana mengingat saat dirinya datang sudah langsung diajak menjelajahi kamar putra sambungnya dan tidak ada membahas kamar mereka berdua ditambah lagi ada empat kamar dilantai dua membuat Nara jadi bingung.
"Boleh, Mommy juga bingung yang mana kamar Daddy"
"Loh Daddy tidak mengatakan pada Mommy? ckck apa apaaan Daddy itu" decak Radith.
"Kamu lupa Boy kalau saat Mommy datang kamu sudah memonopoli Mommymu ini?" ucap Nara mengingatkan Radith seraya langkah mereka terus melangkah menaiki satu persatu anak tangga.
Radith hanya menyengir kuda dengan tangan yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia baru ingat jika tadi ibu sambungnya belum istrahat dikamar mereka karena sudah langsung di boyong ke kamarnya sendiri.
"Hehehe.... lupa Mom kalau tadi Radith ajak ke kamarku" cengir Radith.
"Kamu ini ya... menggemaskan saja" ucap Nara dengan menggeleng pelan.
"Tentu saja aku menggemaskan, karena aku punya Mommy yang sangat cantik" ucap Radith berbangga.
Nara hanya mengacak rambut Radith yang tadinya sudah rapi kini sudah berantakan akibat ulah Nara membuat bocah tampan itu mencebik, pura pura merajuk pada Nara.
"Stop Mom....! ketampananku akan berkurang jika begini" seru Radith seraha menjauh dari jangkauan Nara.
"Hahahaha..... kamu masih sangat kecil Boy, sudah tau saja masalah tampan" geleng Nara.
"Aku sudah dewasa Mom..." bantah Radtih.
"Jangan dewasa sebelum waktunya Boy, Mommy tidak akan bisa memanjakanmu" ucapan Nara sukses memhuat Radith kembali mendekat padahal mereka sudah tiba di depan pintu kamar Radith.
"Aku tidak mau jadi dewasa dulu Mom, aku ingin dimanja sama Mommy" ucap Radith dan memeluk Nara, menggelapkan wajahnya di perut rata Nara.
"Mommy suka jika kamu jadi anak manis seperti ini" ucap Nara dan mengelus rambut Radith perlahan.
Ceklek
"Wow pemandangan yang bagus, tapi dalam rangka apa ini?" tanya Rajesh yang sudah berada di depan mereka setelah pintu kamar terbuka.
Nara maupun Rajesh melepaskan pelukan, kompak menatap Rajesh yang sudah terlihat lebih fresh karena baru selesai membersihkan diri.
__ADS_1
"Tidak ada" jawab Nara dan Radtih kompak.
Rajesh di buat melongo dengan kekompakan keduanya, sepertinya kejadian seperti ini akan sering terjadi apalagi nanti jika keduanya bersama, bisa bisa akan menjad sekutu untuk menyerang Rajesh.
"Baru beberapa jam bersama sudah pada kompak seperti ini" batin Rajesh.
"Sudah aku mau mandi dulu Mas, kalian lebih baik tunggu dibawah dulu sambil nunggu papa sama Mama juga" kata Rajesh yang langsung dijawab anggukan olehnya.
"Lihat saja pakaianmu di lemari sayang" kata Rajesh sebelum berlalu pergi.
Nara hanya menganggukkan kepalanya pertanda dia mengerti lalu memasuki kamar Rajesh yang juga akan menjadi kamarnya, matanya menyusuri setiap sudut kamar itu, terdapat banyak figuran dirinya dan suaminya disana serta ada foto pernikahan mereka yang baru saja semalam dilangsungkan dan kini sudah terpanjang rapi didinding kamar itu.
Sungguh suaminya bisa melakukan banyak hal hanya dengan satu kali hentikan jari saja, walau sebenarnya dirinya sudah tau akan hal itu jika uang penuh tapi tetap saja dia merasa tidak percaya.
Nara langsung menuju lemari berniat untuk mengambil handuk dan pakaiannya, dan lagi lagi dirinya dibuat tercengang saat memasuki ruang ganti, terdapat enam lemari tinggi yang berukuran besar berjejer rapi menempel didinding, ada lemari khusus untuk tas, sepatu dan juga pakaian mereka.
Dan lagi lagi Nara dibuat takjub walau dia orang yang berada tapi tidak sekalipun dia memiliki ruang seperti ini, didalam kamarnya disana hanya ada satu lemari besar khurus pakaian dan dua lemari berukuran sedang sebagai tempat tas dan juga sepatunya karena memang semasa pacaran dengan Reyhan, Nara tidak sekalipun berbelanja berlebihan karena untuk menjaga perasaan kekasihnya, kini dirinya memiliki semua itu tanpa harus repot berbelanja kesan kemari.
"Apa dia sudah menyiapkan ini jauh hari"? tanya Nara pada dirinya sendiri.
"Semua masih terlihat baru, dan rata bermerek" monolog Nara.
Tidak ingin terus berada disana dan tidak.ingin membuat keluarga barunya menunggu terlalu lama akhirnya Nara memutuskan untuk merogoh asal pakaian yang ada disana lalu memasuki kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Di ruang keluarga, dua pria yang berbeda geneari itu sedang asyik menonton berita, ya Radith bukan seperti anak lainnya yang hobi menontom kartu atau sejenisnya, tapi dirinya lebih cenderung suka menonton berita apalagi menyangkut perusahaan dan pasar saham, bahkan dia sudah bisa memahami dunia bisnis seperti ayahnya.
"Tontonanmu belum berubah Boy?" tanya Heru sang kakek.
"Kakek pasti sudah tau jawabannya" jawab Radith singkat dan kembali memusatkan perhatiannya.
"Dasar kau ini ya"
"Oh ya dimana Nara?" tanya Clara yang tidak menemukan keberadaan menantunya.
"Masih dikamar membersihkan diri" jawab Rajesh tapi matanya tetap tidak teralihkan.
"Ohhhh"
"Kita tunggu saja" ucap Heru.
"Iya, lagi pula sebentar lagi pasti dia akan datang" ucap Rajesh.
Akhirnya pasangan paru baya itu ikut bergabung, walau membosankan bagi Clara tapi dia tetap berada disana dan menonton sama seperti yang lainnya yang sedang terfokus pada televisi.
"Selamat malam.." sapa Nara yang kini sudah berada diruang keluarga.
"Malam..." jawab mereka bersamaan.
__ADS_1
"Maaf membuat kalau menunggu"ucap Nara.
"Tidak masalah"
"Tidak apa apa sayang"
"No problem Mom"
Keempa anak manusia itu menjawab bersamaan tapi memiliki kata sendiri untuk merespon membuat tersenyum merasakan kehangatan yang tidak jauh berbeda dengan rumahnya membuat Nara berasa berada dirumah sendiri.
"Sudah kita makan malam dulu" ajak Heru dan serempak semua beranjak dengan Rajesh yang merangkul punda Nara dengan mesra membuat gadis cantik itu menunduk malu, pasalnya bukan hanya mereka saja yang ada disana, ada mertua dan anaknya.
"Jangan begini Mas...malu dilihat" bisik Nara tapi justru sikapnya terlihat semakin mesra membuat kedua paru baya itu tersenyum karena ikut bahagia.
"Tidak masalah, mereka tidak melihat" ucap Rajesh ikut berbisik.
"Ckck... tidak melihat bagaimana? mereka punya mata Mas sama seperti kita" kesal Nara.
"Sudahlah tidak masalah" ucap Rajesh dan semakin menempelkan tubuhnya pada Nara.
Gadis cantik itu hanya bisa pasrah, percuma memberontak karena selalu akan gagal dan Rajesh memiliki seribu satu cara untuk menyanggah dan membuatnya tidak akan berkutik lagi.
"Wahhh makanannya menu baru ya?" tanya Clara yang memang baru kali ini melihat menu makanan baru, menu yang belum pernah dimasaknya karena memang kemampuan memasaknya yang tidak terlalu hebat.
"Iya...Mommy yang memasak" saut Radith yahh memang tau jika Nara yang memasak hanya saja tidak tau akan memiliki menu sebanyak ini.
"Wahhhh.....kamu pintar memasak sayang?" tanya Clara.
"Sedikit Ma.. aku hanya ingin memasak untuk kalian" ucap Nara.
"Kalau begini Papah akan menggemuk karena makan makanan lezat" ucap Heru membuat Clara mendengkus sebal.
"Jadi selama ini mama tidak pandai memasak begitu!" ketus Clara membuat Heru terkekeh.
"Mama pandai masak, tapi masaknya musiman" celutuk Rajesh.
Karena memang benar ibunya hanya akan memasak jika lagi mood dan keluarga yang lainpun tidak pernah mempermasalahkan hal itu selagi makanan tersedia di meja makan saat waktunya makan.
"Ckck... Mama abisnaya tidak sabaran berada disana karena teman teman arisan mama selalu mengganggu" alasan Clara.
"Hahahaha.... alasan Mama selalu seperti itu" ucap Rajesh.
"Mas...jangan seperti itu, lebih baik duduk dan makan saja" tegur Nara seraya mencubit gemas perut Rajesh membuat pria itu tidak lagi melanjutkan tawanya.
.
.
__ADS_1
Bersambung...