
"Sekeratrismu" beo Lili dengan mata yang sudah mendelik tajam ke arah Riko.
"Jangan menatapku seperti itu sayang" ucap Riko yang menelan ludahnya sedikit kepayahan "Dia hanya sekertarisku" lanjut Riko.
Lili dian tidak menjawab tapi tatapannya yang tajam belum juga lepas dari Riko, hingga mobil mereka tepat berada di depan gerbang di samping Tiara.
Pintu gerbang terbuka otomatis, seolah dia mampu mengenali siapa majikannya, memasukan mobilnya di dalam dan diikuti Tiara dari belakang.
"Selamat malam Tuan" sapa Tiara dengan senyum manisnya.
Lili yang melihat senyum manis Tuara di tambah tatapan memuja wanita itu terhadap suaminya membuat Lili siaga berada di samping RIko.
Tiara sendiri tidak menghiraukan keberadaa Lili seolah tidak terlihat dimatanya "Kenapa kau datang semalam ini Tiara?" tanya Riko menyerngitkan keningnya.
"Maaf Tuan, ada berkas mendesak yang harus Tuan tanda tangani" jawab Tiara yang masih setia dengan senyum niat menggodanya.
"Ck" Lili berdecak melihat tingkah sekretaris suamunya yang kecentilan ini, apalagi gayanya yang tidak menganggap dirinya ada.
"Kenapa tidak menelponku saja" taya RIko dengan wajah dinginnya pada Tiara.
Tiara mengumpat dalam hati melihat sifat tuannya yang tidak pernah bersikap hangat atau pun ramah padanya.
"Sayang...Apa masih jam kerja sekaran" tanya Lili dengan nada manjanya dan tangannya semakin erat menggait lengan Riko.
Riko mengalihkan mengalihkan perhatiannya menatap Lili dengan penuh cinta dan memuja "Tidak sayang, akan aku suruh dia pulang" jawab Riko dengan tangan yang mengelus pipi Lili dengan lembut.
Lili tersenyum penuh kemenangan saat mendengar Riko yang mauengusir sekretaris kecentilan itu, sementara Tiara? wajahnya sudah merah padam menahan kekesalannya melihat tingkah istri tuannya yang mau pemar kemesraan di depannya.
Lili melirik ke arah Tiara yang sedang menyaksikan kemesraan mereka, jelas sekali jika wanita itu sedang kesal sekarang.
"Tiara kau pergilah, ini sudah malam dan saya tidak menerima tamu!" ucap Riko tegas.
"Tapi tuan ini sangat penting" sergah Tiara.
Riko menatap Tiara dengan tatapan tajamnya, dia paling tidak suka jika di bantah dan apa wanita di depannya ini punya nyali sehingga berani membantahnya.
__ADS_1
"Saya bilang tidak menerima tamu!" ulang Riko dengan penuh penekanan dan tatapnya mulai nyalang melihay Tiara.
Tiara langsung menunduk melihat tatapak Riko yang terlihat mengerikan.
"Sudah sayang, mana tau penting" ujar Lili dengan tangan yang mengusap lembut lengan Riko yang membuat pria itu lagi lagi memandang ke arahnya.
"Tapi kita mau istrahat sayag, aku tau kamu pasti capek dan anak kita juga pasti capek di dalam sana" jawab Riko mengelus lembut perut Lili yang masih terlihat rata.
Tiara kembali terbakar api cemburu melihat semua sikap lembut Riko pada wanita yang bergelar sebagi istri dari tuannya.
"Tuan, ini tidak ada urusannya dengan nona, jadi biarakan saja nona istrahat lebih dulu dan Tuan periksa berkas ini dulu sebelum tuan tanda tangani.
Lili yang mendengar usulan Tiara langsung menatap Tiara dengan tatapan tajamnya sementara yang di tatap hanya merespon dengan semyum liciknya.
Tiara berpikir jika ide yang di usulkan akan dipertimbangkan dan di terima oleh Riko mengingat tuannya ini sangat pekerja keras.
Tapi ternyata semuanya di luar ekspetasinya, Riko sama sekali tidak menerima usulan itu "Jangan mengatur saya Tiara! jadi kau pulang karena saya juga butuh istrahat dengan istri saya!" ucap Riko yang memberi penekanan pada kata istri.
"Tap-" Tiara masih berniat ingin membujuk, tapi semuanya terhenti saat mendengar perkataan Riko.
"Jangan tuan! saya sangat membutuhkan pekerjaan ini" seru Tiara dengan wajah memelasnya.
"Maka jaga sikapmu! dan pergi sekarang!" usir Riko tanpa perasaan.
Riko menarik tangan Lili menuntunnya menuju rumah meninggalkan Tiara yang memberungit kesal "Awas saja tuan, aku pasti akan mendapatkanu!" geram Tiara kemudiannpergi meninggalkan rumah Riko dengan membswa perasaan kesal.
"Sayang..Kenapa kamu bersikap seperti itu?" tanyanya asal dia ingin bertanya yang tentu saja sudah di ketahui Lili alasannya.
"Karena aku tidak mau jika ada orang lain yang mengganggu waktuku bersamamu" jawab Rko menoel lembut dagu Lili.
"Tapi kan hanya untuk tanda tangan?" tanya Lii dan kali ini mereja sudah berada di dalam kamar.
"Kamu benar, tapi aku tetap tidak suka ada yang bertamu di waktu malam apa lagi jika perempuan, dengan alasan apa pun itu!" tegas Riko.
"Baiklah sayang, aku hanya bertanya saja" jawab Lili.
__ADS_1
Lili memeluk tubuh Riko yang di sambut baik oleh pria itu, memeluk juga dan sesekali mencium lembut pucuk kepala Lili.
"Bersihkan dirimu dulu agar bisa istrahat" ucap Riko dan menggiring Lili duduk di depan cermin, kemudian membanbantu Lili menghapus make up yang ada di wajah istrinya.
Lili kemabali merasa terpesona dengan sikap suaminya yang tiada habis sikap romantisnya, sejak di restoran tadi hingga kini di dalam kamar mereka, Riko masih membuat seorang Lili tidak bisa lepas dari pesonanya.
Selesai dengan itu mereka istrahat, tidak ada kegiata meronda karena harus menjaga calon bayi agar tetap aman, walau sebenarnya Riko menginginkannya tapi dia harus bisa menahan dirinya.
***
Ke esokan paginya, Ans sudah bersiap siap untuk kembali ke Surabaya, dia mengemasi barangnya dengan tergesa dan kasar.
Padah seharusnya masih tersisa satu hari lagi dirinya berada disana, tapi Ans sudah tidak mau lagi karena sesuatu telah terjadi.
Ans tidak peduli jika Ruben harus marah padanya, yang jelas dia sudah tidak mau lagi berada disana di hotel dan kota yang sama dengan Via.
Selesai dengan semua itu Ans menggeret kopenya keliuar, dan bertepatan dengan itu Via juga keluar dari kamarnya dengan menggeret kopenya juga.
Sepertinya waktu ini sudah sangat di prediksikan oleh gadis itu, agar bisa terus bersama dengan Ans.
Ans menghentika langkahnya, menatap dengan tajam wanita yang baru saja keluar dari dalam kamar itu, sementara yang ditatap hanya memasang wajah tak bersalahnya bahka dia membuat seolah sedang tertekan dengan keadaan.
"Kau rupanya sudah mengatur sedemekian rupa menjadi serba kebetulan ya!" ucap Ans sinis.
"Apa maksudmu Ans? aku tidak mengerti apa maksudmu" kata Via dengan wajah sendunya.
"Apa yang tidak kau mengerti? aku tau kau berbohong! dan ingat aku tidak akan pernah mengampunimu jika kau berani berbohong padaku!" ucap Ans dengan penuh ketegasan.
"Dan aku tidak pernah berbohong Ans, kau harus bertanggung jawab untuk apa yang sudah kau lakukan!" teriak Via dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
"Aku tidak akan oernah tersentuh dengan air matamu Via!" bentak Ans " aku akan membuktikan jika aku tidak pernah menyentuhmu" ucap Ans kemudian pergi meninggalkan Via.
Via tersenyum licik, karena dia sudah mengatur semuanya, mulai dari A sampai Z bahkan untuk menyerang Helena pun sudah dia atur karena baru saja mendapat kabar bahwa ada pion yang bisa ia gunakan.
Bersambung...
__ADS_1