
Kring kring kring
Bunyi ponsel milik Ans, membangunkan Ans dari tidur nyamannya, tanganya segera terulur dan mengambil ponsel miliknya.
"Sial, dia pasti mah buat aku repot!" umpat Ans.
"Ya" jawab Ans malas.
"Dasar bawahan tidak punya akhlak! berani sekali kau menjawabku dengan nada bicaramu yang seperti itu setelah kau mengambil cuti sesuka hatimu! apa kau mau membuatku bangkrut Ans!" teriak Ruben.
Ans menjauhkan ponsel dari telinganya, bemar benar membuat Ans sangat muak dengan sikap tuannya yang tidak pernah berubah, selalu memerintah dan marah marah tidak jelas.
"Jika kau marah terus maka kau akan cepat tua tuan" ucap Ans dengan santai.
"Apa kau bilang! beraninya kau mengataiku Ans!"
"Aku tidak mengataimu tuan, tapi mengatakan yang sebenarnya jika kau tua maka nona Santi pasti akan mencari orang lain" jawab Ans yang semakin membuat Ruben tersulut emosi.
"Kurang ajar kau! cepat temui aku! waktumu hanya dua jam" ucap Ruben.
"Maaf tuan, tapi saya berada du Surabaya" bohong Ans.
"Kau mau menipuku Ans! kau mau aku pecat agar kau tidak bisa menafkahi istrimu!" ancam Ruben.
"Ckck jangan mengamcamku tuan, karena uangku sudah cukup untuk menafkahi istri dan biaya kehidupan anak ku selama sepuluh tahun kedepan" jawab Ans yang sama sekali tidak takut akan ancaman Ruben.
"Lalu bagaimana setelah sepuluh tahun?" ejek Ruben.
"Maka sebelum sepuluh tahun itu, tuan akan melihat saya lebih kaya dari anda"
"Ansss.....! jangan membuatku marah karena aku tau kau berada dirumah mertuamu sekarang"
"Ans, jika kau kemari maka sekalian ajak Helena yaaa...!" teriak Santi.
"Kau dengar istriku ingin bertemu dengan istrimu" ucap Ruben dan langsung mematikan ponselnya.
Karena dia tau Ans tidak akan bisa menolak jika istrinya yang meminta, karena rasa segan pada Santi jauh lebih besar di bandingan dengan rasa segan pada Ruben.
Dan benar saja, Ans yang mendengar itu menarik napasnya dengan dalam dan membuangnya dengan kasar.
"Sayang..." panggil Ans dengan lembut.
Ans menyentuh pipi Helena dengan lembut, menyusuri setiap inci wajah wanitanya dan sesekali menciumnya dengan lembut.
"Sayang...."
Sekali lagi Ans memanggil Helena, mencubit gemas pipi, hidung dan dagu Helena, hingga membuat yang empunya wajah menjadi terganggu, menggeliat dengan manja di mata Ans.
__ADS_1
"Eughh"
"Bangun sayang, kita harus bersiap" ucap Ans.
Helena membuka matanya dan menatap wajah tampan suaminya dengan sempurna, tapi tak lama kemudian dia mengerutkan keningnya mendengar perkataan Ans.
"Kita mau kemana?" tanya Helena dan bergerak mengubah posisinya hingga menyamping dan mengahadap Ans.
Ans kembali mengusap pipi Helena, "kita mau bertemu tuan Ans, dan istrinya dia mau bertemu dengan istriku yang cantik ini" jawab Ans.
Helena semakin mengerutkan keningnya mendengar perkataan Ans yang mengatakan jika istri bosnya ingin bertemu dengannya.
"Kenapa ingin bertemu denganku?" tanya Helena.
"Karena dia mau mengenal mu sayang, dia mau berteman denganmu" jawab Ans, "dan apa kau tau? tuan Ruben memiliki baby twins" ucap Ans.
Helena yang mendengar jika atasan tuannya memiliki baby twins, sungguh jarang sekali orang bisa memiliki baby twins dan dia juga berpikir pasti anak anak tuannya sangatlah imut.
"Sungguh sayang, dia memiliki baby twnins? pasti mereka sangat imut" ucap Helena berbinar.
"Sudah ayo kita bersiap"
Mereka bersiap dan setelah itu sarapan bersama dengan ibu dan adik adiknya yang ingin ke sekolah dan juga kampus, setelah selesai dengan itu, pasangan itu langsung melesat pergi meninggalkan Kediaman Helena setelah berpamitan dengan Ibu.
"Selamat pagi menjelang siang tuan, nona" sapa Ans setelah sampai di kediaman Ruben.
Ruben menatap Ans dengan tatapan tajamnya sedangkan Santi girang mendapati Ans membawa istrinya "astaga Ans....! ini istrimu?" tanya Santi dan langsung berdiri menyambut tamunya.
"Ayo duduk Helen, kamu pasti lelah kan?" tanya Santi.
"Terimakasih nona" ucap Helena.
Helena duduk tepat di sebelah Santi sesuai dengan arahan dari istri majikannya itu, sedangkan Ruben masih tidak melepaskan tatapan tajamnya terhadap Ans,
Sementara Ans sendiri pun biasa saja, dia tidak merasa terintimidasi dengan tatapan itu karena apa? karena dia sudah terbiasa sejak dulu dengan tingkah laku Bosnya semena-mena.
"Apa tuan akan tetap menatap saya seperti itu?" tanya Ans.
"Ckck, kau sangat menyebalkan sekali!" ketus Ruben.
"Sayang, jangan memarahi Ans di hadapanku! mataku sakit melihatnya!" tegur Santi dengan mata molototnya.
Nyali Ruben langsung menciut melihat kegarangan istrinya, sedangkan Ans menahan tawa menyaksikan wajah memelas tuannya.
"Jangan menertawakanku Ans! atau aku akan memberimu pelajaran!" ancam Ruben.
"Sayang....!" tegur Santi dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Iya sayang" jawab Ruben dengan cengirannya.
"Ajak saja bawahanmu ini ke ruang kerja, jangan mengganggu ku dengan Helena!" tutah Santi.
Mereka melanjutakn semua kegiatan masing masing, Ruben dan Ans yang membahas pekerjaan dan Santi Helena yang bermain dengan si kembar.
***
Sementara di perusahaan lain, Riko sangat kualahan menghadapi perusahaanya yang semakin merosot sedangkan pelakunya belum di temukan hingga kini.
"Akhhh....!"
Brak brak
Isi ruangan Riko berantakan karena ulahnya sendiri yang melampiaskan emosinya pada barang barang yang ada disana, semua lembaran berkas berhamburan dan berserak di lantai.
"Tuan!" seru Halim tapi terhenti melihat ruangan Riko yang seperti kapal pecah.
"Jangan bicara jika bukan berita yang menyenangkanku Halim" ucap Riko.
"Pelakunya sudah di temukan tuan, dan sekarang berada di gudang tua tengah hutan" ucap Halim.
Mendengar ucapan Halim, Riko langsung bergegas melangkah keluar, tujuannya kali ini adalah gudang tua yang di maksud Halim.
Perjalanan mereka memakan waktu satu jam karena memang terletak di pinggir kota, dan di sana sudah ada beberapa anak buah yang diutus Halim untuk menjaga incaran mereka mereka.
Smpai disana, Riko melangalh dengan tidak sabarnya, menuji gubuk tua tempat orang yang sudah menghancurkan perusahaanya.
"Jadi dia pelakunya?" tanya Riko.
Tatapannya tajam menatap pria yang tidak berdaya itu, sepertinya sebelum kemari anak sudah lebih dulu anak buah Halim memberi pelajaran padanya.
"Lepaskan aku!" teriak orang itu.
"Katakan apa tujuanmu!" tegas Riko.
"Cih, aku tidak akan mengatakannya!" jawab orang itu dengan nada sombongnya.
Bugh
Satu pukulan Riko layangkan saat mendengar jawaban pria itu, sia tersulut emosi karena masih memiliki keberanian menantang dirinya sedangkan tenaganya saja tidak berdaya.
"Kau masih beranian menantangku! baik tidak masalah.
"Ck, siapa kau kenapa aku harus menakutimu! aku hanya akan patuh pada orang yang memberiku uang!" jawabya dengan berteriak.
Riko mengangkat alisnya mendengar penuturan pria yang ada didepannya ini, ternyata pria itu hanya membutuhkan uang saja dan barulah dia akan mengakui semuanya membuat Riko menyunggingkan senyum sinisnya.
__ADS_1
.
TBC