
Ruben beranjak dari duduknya ingin menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti mana kala mengingat ia tidak melihat Santi sama sekali disana semenjak ia datang, dengan cepat iautar langkahnya menuju dapur memeriksa keberadaan Santi tapi tidak memukannya.
Ia kembali memutar haluannya menuju tan belakang, namu lagi lagi ia tidak menemukannya, jantungnya mulai berdebar tak karuan, pikirannya sudah mulai berkecamuk takut takut santi telah pergi.
Dengan cepat ia berlari menuju kamar sang Istris untuk memastikan tebakannya ia erlari menuju kamar sang istri membuka paksa pintu itu dan ia tidak juga melihatnya disana.
Ia menggeledah seluruh isi kamar Santi hingga sampai didepan lemari. Ia membukanya dan...
Deg....
tubuhnya menegang, jantungnya seolah berhenti berdetak saat mengetahui sebagian dari pakaian istrinya tidak ada dan koper disamping lemari tidak ada.
Ia mengusap wajahnya kasar berkali kali membuang nafasnya dengan kasar, ia sama sekali tidak menyangka istrinya akan pergi secepat ini padahal ia masih memiliki waktu tiga hari lagi, dan itu membuat Ruben berpikir mungkin istrinya senang berpisah dengannya.
" aku tidak menyangka, kamu akan memilih pergi dari pada bertahan." gumam ruben pelan, kemudian duduk diranjang milik santi, ia mengusap usap kasur itu, mencoba meresapi kehadiran istrinya disana, menghirup dalam dalam wangi tubuh Santi yang tertinggal disana.
Sedangkan kedua orang tuanya hanya bisa melihat dari balik pintu, mereka bisa melihat putra mereka sebenarnya berat menjalani ini.
Mereka tau putra mereka sebenarnya memiliki cinta juga untuk istrinya, itu terbukti dari bahasa tubuhnya saat ini, tapi yang mereka tidak tau adalah kenapa putra mereka memilih jalan perpisahaan.
__ADS_1
Mereka memilih pergi dari sana, tidak ingin mengganggu Ruben gang sedah terlihat frustasi.
Sampai dieuang keluarga mama Dila mengeluh tak tau harus bertindak seperti apa.
" pah, kita harus bagaimana ini.?" mama dila sudah ikut sedih dengan keadaan ini.
" biarkan saja mereka selesaikan sendiri urusan mereka mah." jawab Prasetya.
" tapi apa papa tidak kasihan dengan anak kita.?" tanya mama Dila dengan nada sudah naik satu oktaf. Ia sama sekali tidak bisa melihat keadaan putranya kacau seperti itu.
" lalu kita harus apa.? kita tidak bisa berbuat apa apa sekarang, kita tidak tau keberadaan santi, dan ini juga semua kesalahan putramu yang bodoh itu.!" ucap Prasetya tak kalah kesalnya dengan sikap istrinya.
Mama Dila langsung terdiam, ia tidak lagi menjawab perkataan suaminya, karna memang benar semua ini karna kesalahan putra mereka dan lagi tidak ada yang tau dimana keberadaan santi sekarang.
Ya mereka adalah Santi, Jovan Dan Lili. Santi akan kembali kekotanya, dan dua saghabat itu mengatarkannya sampai dibandara. Berat sebenarnya untuk mereka berpisah tapi apa mau dikata, semua harus dilakukanya untuk melupakan masalahnya.
" aku pergi ya." ucap Santk melepaskan pelukannya.
" kamu hati hati ya Santi sayang dan jangan bersedih lagi." ucap Lili menangis.
__ADS_1
" ia, aku tidak akan bersedih lagi. Jawab santi berusaha tegar.
" kamu hati hati disana ya, kalau ada apa hubungi kami saja." kata Jovan memeluk Santi.
" Ia, trimakasih Van, aku pasti akan menghubungi kalian nanti, tapi tolong jangan ada bilang pada siapa pun kemana aku pergi saat ini." jawab santi.
" ia itu pasti," jawab Jovan yang tau keadaan Santi yang butuh waktu sendiri, sedangkab Lili masih belum ngeh terhadap maksud permintaan sahabatnya.
" loh kenapa kami tidak boleh mengatakan pada orang lain.?" tanya Lili bingung.
" aku tidak mau ada orang lain yang tau Li, karna aku ingin sendiri." jawab santi.
" tap.- belum sempat Lili menjawab, Jovan sudah membekap mulutnya
" mphhhmmm." Lli tidak bisa berbicara karna mulutnya dibekap.
" Sudah kau pergi saja, pesewatmu sebentar lagi akan take off." kata Jovan dengan tangan tetap berada dimulut Lili.
" baiklah, sampai jumpa." kata santi kemudia berbalik pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
" kau ini kenapa sih.!" sentak Lili saat tangan Jovan terlepas dari mulutnya
" karna kau tidak bisa diam, kalau Santi minta seperti itu berarti dia memang tidak ingin ada yang mengetahui keberadaanya.! tapi kau masih saja lola.!" ketus Jovan kemudian pergi meninggalkan Lili dan mengabaikan teriakan Lili dibelakangnya.