Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Sudah Mulai Bucin


__ADS_3

Pagi pagi sekali terbangun dari tidurnya, melihat jam sudah menunjukan pukul lima pagi.


Santi melihat kearah suaminya yang masih betah dalam tidur lelapnya dengan lengan yang melinghkat di perut santi dan bibir tepat berada di pucuk kepalanya.


Perlahan Santi melepaskan pelukan suaminya dengan sangat hati hati agar tidak membangunkan Ruben, dan setelah terlepas ia segeta barlalu menuji kamar mandi membasuh wajah lalu keluar menuju kamar.


Sampai di dapur lagi lagi, Bi asih sudah ada disana mengerjakan apa yang menjadi pekerjaanya.


" Eh bi, udah bangun saja Sepagi ini." ucap Santi.


" iy non udah biasa." jawab Bi Asih dengan senyum ramhanya.


" Yaudah aku masak dulu ya."


" Silahkan non." jawab Bibi. " kayaknya nona bahagia sekali ya." lanjut bibi menggoda majikannya.


" hehehe....bibi bisa saja sih." jawab Santi malu malu.


" Ya..gak usah malu non, bibi maklum kok." kata Bibi semakin menggoda Santi. " namanya juga lagi anget angetnya." lanjutnya.


" ihhhh, bibi apaa sih. Gak usah godain aku lah." kata Santi semakin malu,


" Ya..ya.. Iya deh non. Maaf ya, lanjutkanlah masaknya." kata bi Asih akhirnya berhenti.


Santi mulai berkutat dengan pekerjaanya, pagi ini ia berencana untuk membuatkan nasi goreng seafood yang spesial untuk suaminya itu.


Selesai memasak, Santi membawanya kemeja makan menatanya dengan baik agar terlihat lebih berbeda dari hari hari biasanya. Selesai dengan itu, ia kembali menuju kamar berniat membangunkan suaminya.


" Mas... Bangun mas udah pagi nih, nanti telat." uacap Santi menoel noel pipi Ruben.


Bukannya bangun ruben malahan, menarik tangan Santi hingga mambuat istrinya terjatuh di atas dadanya dan kemudian memluknya dengan erat.


" Mas jangan gitu dong. Bangun lah mandi trus sarapan." bujuk Santi.


" morning kiss mana." kata Ruben dengan suara seraknya.


" ha.." Santi melongo tak langsung memberi yang diminta suaminya.


Cup..


Ruben mengecup bibir Santi, karna tidak ada respon dari istrinha saat ia meminta sehingga Ruben berinisiatif sendiri.


" Udahkan morning kissnya.? sekarang mandi ya." kata Santi


" Belum sayang. Yang tadi itu dari mas, dan sekarang darimu mana.? pinta Ruben.


" mas..Mas..."


Cup


Akhirnya Santi mengikuti kemauan suaminya untuk memberi morning kiss sesuao permintaan Ruben.


Ruben langasung melompat turun dari ranjang setelah memdapatkan vitamin penyemangat dari istrinya, sedangkan Santi hanya tersenyum melihat hal itu.

__ADS_1


Bergegas Santi juga turun dari ranjang menuju lemari pakaian suaminya, menyiapkan semua keperluan suaminya untuk dipakai nanti kekantor.


Lima belas menit kemudian, Ruben kembali dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya, rambut basahnya membuat dia terlihat sangat cool dan bertambah kadar ketampanannya di mata Santi.


Buru buru Santi memalingkan wajahnya yang sudah memanas karna melihat suaminya yang mengakibatkan pikiran nakalnya mulai berkeliaran.


Sedangkan Ruben, tersenyum licik dan yerlintas ide jail dikepalanya untuk mengerjai istrinya itu. Dengan langkah cepat Ruben menghampiri istrinya dan


Hap..


Ruben memeluk tubuh istrinya dari dalam dan mendusel dusel hidungnya di bahu santi yang sedikit terbuka karna model dasternya yang terbuka.


" Mas geli ih." ucap Santi.


" Mas suka sayang." jawab Ruben dengan tangan yang sudah menyelinap masuk kedalan baju tepatnya di balik bra milik Santi.


Tangannya mulai nakal memainya benda yanf sudah menjadi tempat faforitnya sejak semalam dan mulul yang mencium dan sesekali menghisap kecil sehingga meninggalkan bekas kissmark di sana.


" Jangan mas, nanti gak bisa lepas loh." tegur Santi.


" Tapi mas suka." Jawaban Ruben tetap sa namun sudah dengan nada merengek.


" Udah deh mas, pakai pakainmu." ucap Santi tegas.


" Tapi yank-."


" Pakai pakainmu." tegas santi sebelum Ruben kembali merengek.


" Tapi pakaikan." kata Ruben yang masih bisa menawar ucapan Santi


Setelah semuanya beres, keduanya pun turun untuk menyantap sarapan paginya tangan saling bertautan bergandengan tangan di sepanjang mereka menuruni tangga.


Terlihat sekali aura kebahagian di wajah keduanya. Dan ini adalh moment yang paling membahagiakan bagi orang orang dosekitar mereka. Contohnya seperti sekarang bi Asih tengah tersenyum bahagia melihat kedua majikanya sudah saling mencintai dan todal lagi mengikuti ego seperti yang sudah lalu.


" Semoga kalian bahagia selamanya tuan, nona." batin Bi asih.


Pasangan itu sudah duduk manis di meja makan, tidak lebih tepatnya Rubenlah yang dudul manis sedangkan Sedangkan Santi melayani suaminya.


Makan dengan diam dan nikamat, hingga koni Ruben sudah selesali dan pamit untuk berangkat bekerja.


" Mas berangka ya sayang." pamit Ruben. " dan jangan lupa bawa makan siangkh di kantor." lanjut Ruben mengingatkan istrinya itu.


" iya nanti aku bawain makan siang untuk mas." jawab Santi.


" Yaudah mas pergi." ucap Ruben setelah Santi mencium punggung tangannya dan ruben sendiri mencium kenig dan bibir Santi.


Setelah kepergian Ruben, Santi kembali kekamr membersihkan dirinya, Selesai dengan itu dilanjutkan dengan ia duduk santai di dalam kamarnya menonton acara kesukannya,


Santi larut dalam kegiatannya hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sepuluh siang, yang artinya sebentar lagi waktu makan siang akan tiba.


Santi segera mengakhiri kegiiayannya dan segera turin untuk membuatkaakan siang untuk suaminya, setelah selesai santi kembali lagi kekamar untuk membersihkan dan menyiapkan diri untuk berangkat.


Santi memesan taxi untuk ia naiki menuju perusahaan suaminya, sampai disana Santi langsung menuju ruangan suaminga tanpa kesulitan lagi seperti sebelum sebelumnya karna sekerang para karyawan sudah mengetahui siapa dia.

__ADS_1


Sampai didepan lift ternyata ia bertemh dengan sahabatnya Lili. " Lili..!" terial Santi.


" Santi.." teriak Lilin kalah nyaringnya Yang seketika membuat mereka menjadi bahan tontonan, tapi mereka tidak mempedulika akan hal itu.


" Gimana kabarmu." tanya Lili.


" Aku baik. Kamu bagaiman?"


Wajah Lili langsung terlihat muram saat ditanyai begitu, karna memang dia sedang kacau sakarang mengingat perjodohannya yang tidak dapt dihentikan lagi dan juga usulan gila dari Riko semalam.


Ya.Riko dan Lili dan Riko bertemu untuk membahas pernikahan itu dan juga usulan Riko yang gila menurutnya.


" Hei..! kamu kenapa." tanya santi


" Aku sedang tidak baik." jawab Lili lesu


" Maks-." belum sempat selesai, ponselnya sudah berdering, ada panggilan dari suaminya dan mau tak mau Santi harus menahan diri untuk bercerita dengan Lili.


"Aduh maaf ya Li. Aku masuk dulu ,suamiku udah nelpon nih..


" Iy baiklah, kapan ada waktu kita bicara." jawab Lili


Santi berjalan meninggalkan Lili menuju ruangan suaminya, ia tidak mau mang waktu takut nanti suaminya merajuk lagi.


Sampai disana Santi mengetuk pintu terlebih dahulu dan setelah ada sahutan barulah Santi masuk.


" Mas.!" panggil Santi.


" Sayang, kamu sudah datang." Sahut Ruben seraya berdiri dari kursi kebesarannya menuji sang istri dan membimbingnya duduk disoga yang ada disana.


" Mas sudah lapar, pengen makan." kata Ruben.


" Yaudah, ayo makan." kata Santi sambil membuka rantangan yang ia bawa.


Merema lagi lagi makan bersama dengab penub kebahagian dan kenyaman dal diri masing masing, bahkan sesekali mereka saling menyuapi satu dengan yang lain hingga tandas tak tersisa.


Selesai makan Santi berniat meminta ijin pada suaminya untuk menemui Lili sekaligus ijin untuk Lili tidak bekerja setengah hari


" emm,, mas aku mau minta ijin sebentar, mau ketemu Lili." ucap Santi harap harap takut tidal di ijinkan.


" Pergilah. Tapi dekat kantor saja " tegas Ruben.


" sekalian Lili ijin." pinta Santi dengan memasang wajah menggemaskannya.


" iya sayang...." jawab Ruben mencium gemas semua wajah Santi.


" makasih mas." kata Santi memeluk manja sang suami. " Yaudah aku keluar dulu ya " pamit Santi


" Ini." Ruben memberikan black cart nya pada Santi..


" gk usah ah mas, orang gk jauh kok mainnya." tolak Santi.


" Ambil atau tidak usah keluar." tegas Ruben.

__ADS_1


Mau tak mau pun Santi menerimanya dengan berat hati, dari pada tidak bertemu Lili lebih baik ia mengikuti kata suaminya, dan seyelah itu Santi keluar menemui Lili.


Bersambung.....


__ADS_2