
Waktu terus berjalan, tak terasa empat bulan sudah pernikahan Lili dan Riko berjalan. Awalnya semua berjalan seperti biasa, semua baik baik saja meski belum ada kata saling cinya tapi setidaknya mereka mengahargai dan mengambil peran masing masing dengan sangat baik dan sewajarnya.
Bahkan kalau mungkin pandangan orang lain yang melihat dari luar, bisa di katakan kalau mereka adalah pasangan yang saling mencintai, karena Riko yang sering menemani Lili berbelanja kebutuhan rumah, bahkan sesekali Lili akan mengantarkan makanan ubtuk Riko di kantor. Hanya menagantar atas permintaan sang tuan muda dan bukan kemauan Lili sebenarnya.
Tapi satu minggu terakhir ini, keadaan sudah tidak lagi baik, ada pertengakaran dan perang dingin diantara keduanya.
Saling diam tak berkata ataupun menyapa, Bahkan ada kesan tidak suka dan benci, itulah yang dirasakan oleh Lili. Tapi tidak dengan Riko yang melakukan itu karena terbawa emosi.
Flasback....
Satu minggu sebelumnya, Lili datang berkunjung di kediaman Santi dan Ruben untuk bertukar cerita dengan Santi yang sedang hamil tua. Tapi kebetulan sekali kedatangannya disana ternyata mempertemukan dia kembali pada Ans, lelaki yang sudah sempat mengisi hatinya dan bahkan mungkin sekarang pun masih terisi olehnya.
Terdiam melihat lelaki itu, apalagi saat mata mereka bersiborok walau hanya sebentar, karna Ans dengan cepat memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya.
" Liliiiiii." teriak Santi yang langsubg berdiri.
" Hai Santi." jawab Lili kikuk dengan situasi yang tidak tepat ini.
" Kau akhirnya datang, aku sudah bosan disini karena suamiku sibuk dengan sekretarisnya." Kata Santi dengan cemberut.
" Sayang, maaf ya. ini tidak lama lagi kok." Ruben menyahut saat mendengar keluhan istrinya.
" Sdahlah, kau urus saja itu dan aku akan bersama Lili saja." ketus Santi kemudian pergi meninggalkan Ans dan Ruben yang disusul oelh Lili.
" Sampai di taman belakang, mereka duduk berdua kursi yang ada disana. dengan tangan yang bergerak naik turun mengelus perutnya, santi duduk denga perlahan.
" Pelan pelan Santi.".Kata Lili membantu unttk duduk.
" Capek, cepat sekali aku lelah akhir akhir ini " keluh Santi.
" Sabar calmamud, nanti juga gak gitu kok."
" Calmamud.?" tanya Santi dengan dari mengerut tidak paham.
" Calon mama muda hahahahaha." Lili menjawab sambil tertawa melihat ekspresi bingun dan lucu Santi.
" Kau ya. Dari mana kau mendapatkan kata itu." kesal Santi.
" Hehehe, ngarang dong kan aku anak yang ikut tren." jawab Lili dengan jari terangkat keatas berbentuk huruf v.
" Kau ini. Oh ya bagaimana kau dengan Riko.?" tanya Santi
" Kami baik baik saja." jawab Lili senanya.
__ADS_1
" Lalu kapan akan menyusul seperti kami hm.?" Santi menggoda Lili.
Sedangkan Lili yang medengar itu, sedikit terbatuk, bagaimana mungkin Santi bertanta soal itu dan apa yang harus dijawab.
" Ntahlah, mungkin na nanti." jawab Lilu terbata, wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
" Jangan lama lama, biar anak kita bisa seumuran nanti dan kalau bisa kita jodohlan saja mereka, tapi usahakannya anaknya perempuan biar berjodoh gitu." Ucap Santi tiada henti.
" Aihss kau ini. Kenapa kau membahas anak sih." gerutu Lili untuk menghilangkan rasa kikuknya.
" Loh kenapa."
" Ais aku mau membahasnya dulu." tegur Lili yang kemudian membatin." bagaiaman aku bisa hamil kalau kami saja pisah kamar dan tidak pernah melakukannya."
" Apa kau baik baik saja dengannya Lili.? Apa kalian menjalani pernikahan ini dengan benar." tanya Santi penuh curiga.
" te tentu saja kami menjalaninya dengan baik dan sungguh sungguh." jawab Lili tergagap, ia tidak mau kalau Santi tau masalah rumah tangganya yang tidak jauh berbeda dengan Santi dulu.
" Benarkah.?" tanya Santi dengan Alia terangkat keatas.
" Tentu saja." jawab Lili cepat.
" Baiklah. Dan cepatlah punya anak. Kalian harus berusaha lebih giat lagi." ucap Santi terkekeh.
" Sayang.! panggilan Ruben yang ditunjukan pada Santi.
Mereka menoleh secara bersamaan, tapi arah pandangan yang berbeda, santi memandang kearah suaminya sedangkan lili menoleh kearah lain yaitu Ans.
" Mas sudah selesai.?" tanya Santi saat ruben sudah berada tepat dihadapannya.
" Iya sudah dan mungkin besok atau lusa Ans sudah akan pindah.
Terkejut. Itulah ekpresi yang di tunjukan lili saat ini. Sungguh dia terkejut mendengar hal itu, meski memang selama empat bulan ini mereka tidak bertemu, tapi tidak disangak banyak hal yang sudah terlewatkan olehnya.
Ans hanya diam melihat keterkejutan Lili, baginya sudah tidak ada lagi urusannya dengan wanita itu semenjak kejadian malam itu, dimana lili lebih memilih riko dari pada dirinya.
" Oh ya.? lalu siapa yang akan menggantikan Ans mas.?" tanya Santi.
" Sudah ada orang yang akan menggantikan saya nona." Kali ini Ans lah yang menjawab.
" Lalu apa ada yang akan membantumu disana.?"
" Itu juga sudah ada nona." sahut Ans.
__ADS_1
" Ohh..." jawab Santi ber oh ria.
Lili hanya diam mendengar pembicaraan yang ketiga, tidak ada niatan untuk menyalip pembicaraan itu, dia sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga tidak lagi mendengar teguran Santi.
" Lili lili Woi lili." tegur Santi dengan suara yang mulai nyaring tepat ditelinga Lili.
" Aduhhhh Santi gak usah berteriak dong." kesal Lili karena kaget akan terialan Santi.
" habis kamu melamun sihh." jawab Santi dengan santainya.
"Aiss siapa yang melamun sih." elak lili. " Oh ya aku pamit pulang dulu ya udah mau soalnya." pamit Lili yang langsung pergi.
Sampai didepan rumah, ia merogoh tasnya dan meraih ponsel miliknya, kemudian mengetikakn seseuatu. " temui aku taman." isi pesan lili yang ternyata dikirimkan pada Ans.
Sedangkan Ans setelah kepergian Lili, kembali berbicara pada Ruben, dan sekalian untuk pamit pulang ke Surabaya nantinya.
" Kalau begitu saya pamit pulang tuan." pamit Ans setelah urusannya selesai
" Baiklah, kamu hati hati."
Ans berjalan dan saat sudah sampai di mobil ia merogoh saku jasnya dan melihat notifikasi pesan yang tadi masuk. Ia yakin kalau itubpesan dari Lili.
" Ck, untuk apa lagi ingin bertemu." As berdwcih saat mendapati pesan itu, bukan karena dia sudah tidak cinta lagi tapi dia sudah tidak mau lagi berursan sama wanita itu.
Ans kini sudah sampao ditaman tempat yang dimaksud Lili, dari jauh dia bisa melihat kalau Lili sedang termenung entah apa yang di pikirkan.
" Ekhm. Ada apa.?" tanya Ans to the poin.
" Duduklah dulu."
" Ada apa Lili.? jangan membuang waktuku, karna aku banyak urusan." kata Ans dingin sambil melihat jam mahal yang melingkar pergelangan tangannya.
" Benar kau akam pergi.?" tanya Lili sedih.
" Iya. Saya akan pergi." jawab Ans tegas dan yakin tanpa tau kejutan apa yang akan di temuinya disana.
" Kau sudah memikirkan semua dengan matang Ans.?" tanya Lili lagi yang secara tidak langsung menghalangi Ans.
" Tentu saja dan kau jangan lagi temui aku." kata Ans tegas kemudian pergi meninggalkan Lili yang membisu mendengar perkataan Ans.
Bersambung.....
LIKE,KOMENT,VOTE,RATE, HADIAH. sangat author butuh dari kalian🙏🙏
__ADS_1