Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua, Rahasia


__ADS_3

"Di tempat yang cocok untukku dan Helena" jawab Ans asal.


"Ck, anak ini tidak bagus sekali menjawab orang tua" gerutu Bunda.


"Emang Bunda udah tua ya?" goda Ans yang dengan kekehannya.


"Tentu saja belum tua sekali" saut Bunda dengan cepat.


"Maka bunda tidak boleh berkata orang tua, jika tidak ingin di katai tua" jawab Ans dengan tawa yang sudah pecah karena Bundanya yang menggerutu di sebarang sana.


"Dasar anak ini! selalu saja menggonda Bundanya! awas saja jika datang ke rumah" omel Bunda.


"Kalau begitu aku tidak mau datang ke rumah, dan aku akan di rumah ku sendiri bersama dengan istriku" jawab Ans yang ternyata malah membuat Bunda sedih.


"Jadi kau tidak mau lagi bertemu dengan Bunda mu ini Ans" lirih Bunda yang membuat Ans diam seketika.


Ans menjadi tidak enak hati saat mendapati dirinya sudah keterlaluan menggoda Ibunya, dan itu benar benar membuat merasa sangat bersalah.


"Maafkan aku bunda, aku tidak bermaksud seperti itu" sesal Ans "aku janji untuk mengganti waktu maka sore nanti aku dan Helen aka ke rumah" lanjut Ans yang ingin menebus kesalahannya.


"Baiklah bunda tunggu" jawab Bunda dengan girang dan langsung memutus panggilannya.


"Ck, bunda seperti anak kecil saja yang mudah di rayu"


Ans tidak lagi mau membuang waktu, dia bergegas pergi meninggalkan kantor lebih awal agar bisa mengatakan pada Helena rencana mereka yang akan ke rumah orang tuanya, dan agar mereka bisa bersiap siap dan nanti tidak kemalaman


"Helen...!" teriak Ans yang kini sudah berada di dalam rumah.


"Kau sudah pulang?" tanya Helena yang sedikit heran kerena ini belum waktunya pulang.


"Iya, apa kau tidak suka?" tanya Ans dengan sedikit masam.


"Bukan, bukan seperti itu! hanya saja ini belum waktunya jam pulang kerja kan?"


"Iya kau benar tapi aku ingin pulang lebih awal" ucap Ans yang langsung mencium kening Helena kemudian beralih pada perut Helena.


Helena kembali lagi membeku mendapati Ans yang semakin berani padanya, bukan karena tidak suka tapi karena dirinya yang tidak bisa menahan gejolak perasaanya yang tidak karuan.


"Apa dia rewel?" tanya Ans yang tidak mempedulikan respon Helena.


"Tidak" jawab Helena singkat.


"Kita akan menginap di rumah bunda malam ini" ucap Ans yang langsung mendapat respon senang dari Helena.

__ADS_1


"Sungguh!"


"Iya karena pekan depan aku akan ke luar kota" hawab Ans santai.


"Untuk apa ke luar kota"


"Tentu saja aku ada urusan penting" jawab Ans yang tidak berniat untuk mengatakan pada Helena.


"Berarti kau akan meninggalkan aku lagi" lirih Helena.


"Mau bagaiman lagi" jawab Ans "sudah ayo bersiap ke rumah bunda" ajak Ans yang hanya di ikuti oleh Helena dengan perasaan kacau.


Entak kenapa setiap Ans akan meninggalkan dirinya untuk ke Luar Kota, rasanya dia sangat tidak rela.


Jika boleh, dia ingin sekali mengatakan pada Ans jika dirinya tidak mau di tinggalkan tapi mengingat belum ada kejelasan perasaan antara dia dan Ans membuatnya mengurungkan niatnya.


Ans dan Helena bersiap, mereka lebih dulu mandi disini saja dan untuk makan malam, mereka akan makan disana karena Helena sendiri sudah merindukan masakan mertuannya itu.


Dan hitung hitung untuk melepaskan rindunya pada ibu kandungnya yang jauh berada di Ibu Kota.


"Ayo berangkat" ajak Ans yang di angguki oleh Helena.


Mereka mulai berjalan meninggalkan rumah mereka menuju kediaman orang tuannya dan sepanjang perjalanan Helena banyak diamnya.


Rupanya dia masih galau karena perkataan Ans yang dikatakanya saat dirumah tadi, dan Ans sebenarnya tau hal itu, tapi dia membiarkan saja karena ini akan dijadikan kejutan untuk Helena.


"Bunda..!" seru Helena setelah mereka sudah sampai di depan rumah orang tuan Ans.


Helena berjalan dengan cepat menuju mertuanya dan hal itu membuat Bunda Ayah dan Ans khawatir takut Helena tersandung sesuatu.


"Hati hati Helena...!" teriak Mereka bersamaan.


Helena langsung berhenti mendengar teriakan ketiga orang itu, dengan nyengir dia berkata "maaf Bunda aku terlalu bahagia"


"Tapi kesenanganmu bisa membahayakan anak kita Helen!" ucap Ans dengan wajah yang sedikit marah akan kelakuan Helena.


"Maaf" cicit Helena meremas kedua tangannya, takut melihat Ans yang marah padanya.


"Sudah! jangan marahi menantu Bunda Ans" tegur Bunda " ayo masuk sayang" ajak Bunda menggiring Helena masuk ke dalam rumah.


Ans dan Ayah mengikuti dua wanita yang beda generasi itu "oh ya Helen.. Kemana kalian akan pergi pekan nanti?" tanya Bunda yang membuat Ans langsung berjalan mendekat untuk mencegah Bundanya mengatakan niatnya lada Helena.


"Pergi? kami tidak akan pergi ke mana mana Bunda" jawab Helena polos.

__ADS_1


"Tap-".


"Maksud bunda, aku ke luar Kota mana pekan nanti, iya kan Bunda?" ucap Ans mengedipkan matanya pada Bunda sebagai kode untuk menghentikan Bundanya.


Bunda yang tau maksud dari Ans langsung berakting " Iya itu maksud Bunda sayang" ucap Bunda.


"Aku kurang tau Bun, tanya Ans aja langsung" jawab Helena yang kembali muram.


Bunda yang melihat menantunya muram sebenarnya tidak tega, tapi mau bagaimana lagi, ini demi kelancaran rencana putranya.


"Sudah! Bunda sudah buatkan cemilan kesuakaan mu, ayo ikut Bunda" ajak Bunda.


Helena dan Bunda ke dapur sedangakan dua pria itu memilih untuk duduk di ruang keluarga menunggu para wanita datang membawakan cemilannya.


.


.


.


"Sayang...Bangun! ini sudah malam"


Lili membangunkan suaminya yang masih setia berbaring di atas ranjang mereka.


"Sebentar lagi sayang" jawab Riko dengan mata yang masih terpejam.


Lili tidak lagi memaksa membangunkan Rko, tapi Lili berjalan keluar kamar menuju dapur untuk memasak menu makan malam mereka


Disana sudah ada asisten rumah tangga yang sudah lebih dulu berkutat di dapur.


"Apa yang bibi masak?" tanya Lili.


"Ini non" jawab Bibi menunjuk isi wajan.


Lili mendekat untuk melihat apa yang sedang di masak wanita paru baya itu lalu berkata "biar aku saja bibi yang memasak"


"Tapi non, tidak boleh capek capek" jawab Bibi


"Tidak capek kok, aku ingin memasak untuk suamiku bi"


Bibi yang tidak bisa menolak keinginan majikannya akhirnya pasrah dan membiarkan Lili mengambil alih pekekerjaannya dan dia sendiri memilih untuk membantu memotong sayur atau apa pun yang di ingkan tuannya.


Lili berkutat dan fokus pada masakannya untuk menu kesukaan Riko berikutnya, sangkin fokusnya dia tidak sadar lagi jika Bibi tidak ada lagi di dekatnya dan di gantikan dengan suaminya yang tiba tiba memelukya dari belakang.

__ADS_1


"Sayang...." panggil Riko lembut.


Bersambung...


__ADS_2