Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Pasagan Ans Helena


__ADS_3

"Ibu tidak pernah menyangka ini akan terjadi pada putriku!" ucap Ibu di tengah isak tangisnya.


"Maafkan aku Bu, ini salahku aku yang bertanggung jawab atas semua ini mohon ampuni aku bu!" ucap Ans yang langsung menjatuhkan lututnya di hadapan Ibu.


Ibu sangat terkejut, dan segera ia merih tubuh Ans menuntunya untuk kembali duduk pada posisi semula "Apa yang ibu perbuat lagi jika susab seperti itu, ibu hanya berharap jangan pernah sakiti putri ibu, dia sudah banyak berkoban untuk kami" ucap Ibu sembari terus saja menangis.


"Aku berjanji tidak akan pernah menyakitinya bu, aku bersumpah di hadapan ibu!" ucap Ans dengan yakin.


"Baiklah, ini sudah siang lebih baik makan siang bersama saja dulu, tapi maaf ya jika tidak seperti selera kalian" ucap Ibu tidak enak hati.


"Tidak apa bu, oh ya siapa namamu?" tanya As pada Nathan.


"Nathan!" jawab batan dengan wajah datarnya.


Ans tau kenapa adik iparnya bersikap seperti itu, tidak ada saudara yang tidak akan terluka mendengar kisah memilukan saudara lainnya, tapi Ans tidak masalah akan hal itu karena memang dia pantas untuk itu.


Tapi dia akan tetap menarik perhatian Nathan agar mau memanfkan dan menerima dirinya "bisa minta tolong, bantu ambil barangku di bagasi?" ucap Ans.


Nathan tidak menjawab tapi dia bergerak dengan malas memenuhi permintaan Ans saat melihat lototan mata ibunya.


"Maafkan Nathan ya nak Ans" ucap Ibu


"Tidak masalah bu, oh ya kenapa Dian? bukankah adiknya istriku ada dua?" tanya Ans mengerdarkan pandangannya.


"Dian sedang bantu bantu di rumah tetangga" jawab Ibu menundukan wajahnya.


Ans mengerutkan keningnya mendengar perkataan ibu mertuanya, dia jadi bertanya tanya apakah uang yang dia kirim kurang sehingga harus bekerja pada orang lain.


"Apa uang di kirim istriku kurang bu?"


"Tidak, tidak kurang bahkan uang itu sangat lebih tapi ibu tidak bisa menggunakan uang Helena dengan boros dan lagi adik adiknya harus bisa merasakan bagaimana susahnya cari uang" ucap Ibu menundukan kepalnya.


Ans meraih tangan wanita paru baya itu "Bu, istriku mengirimkan itu bukan untuk disimpan atau di sayangkan, tapi untuk keperluan adik adiknya, apa ibu mau membuat istriku bersedih karena kerja kerasnya tidak di hargai dan di gunakan oleh keluarganya?"


"Tidak, bukan begitu! tolong jangan katakan pada Helena tentang itu, mulai besok ibu akan menggunakannya" pinta Ibu.

__ADS_1


"Ini barangmu kenapa banyak sekali? apa kau akan menginap disini?" tanya Nathan dengan datar.


"Tidak, dan ini bukan barangku" jawab Ans dengan senyum yang di buat sehangat mungkin.


"Lalu untuk siapa semua ini nak Ans?"


"Iya ini untuk siapa?" timpal Nathan.


Ans mulai membuka paperbag pertama yang berisikan ponsel, lalu menyerahkannya pada Nathan yanh di teriman dengan wajah bingunnya.


Seketika wajah datar Nathan berbinar menjadi cerah saat mengetahui jika yang diberikan padanya adalah ponsel yang selama ini diidamkan olehnya, "ini untukku?" tanya Nathan memastikan.


"Iya ini untukmu dan yang satu untuk Dian" jawab Ans.


"Tidak nak Ans, kau tidak boleh memberikan mereka barang itu, terlalu mahal nak, bagaimana jika uangmu habis, bukankah istrimu sedang hamil?"


"Tidak aku tidak akan kehabisan uang hanya karena membelikan mereka ponsel, aku masih memiliki cukup uang untuk keperluan istriku"


"Ibu....!" teriak Dian.


Dian bingung mencerna ucapan ibunya kakak ipar siapa yang di maksud Ibunya "Nak Ans suami dari kakamu Helena" ucap Ibu yang membuat Dian sangat terkejut.


"Bagaimana bisa bu?"


"Nanti ibu jelalskan ayo kita makan dulu" ajak ibu menyeret paksa putri bungsunya yang kesusah melangkah.


"Ini untukmu" ucap Nathan menyodorkan kotak ponsel pada Dian.


"Apa ini?"


"Buka saja jangan banyak tanya, nanti kau akan menyesal jika tidak ambil" ucap Nathan dengan cuek.


Dian mengambil dan membukanya, wajahnya sama seperti Natham dari bingung dan kini berubah girang karena mendapatkan ponsel keluaran terbaru yang pastinya bukan main harganya.


"Ini benar untukku?" tanya Dian memastikan.

__ADS_1


"Tentu saja, karena aku juga punya" ucap Nathan seraya menampakan miliknya.


"Wah ini dari kaka ipar? kaka banyak uang rupanya ya, bisa belikan kami ponsel semahal ini" ucap Dian yang masih sibuk membolak balikan serta mengotak atik ponselnya.


"Sudah nanti main ponsel, ayo kita makan suang dulu kasihan kak Ans yang pasti kelalahn dari Surabaya"


Akhirnya mereka menuruti dan makan siang bersama, walau terlihat sederhana tapi ternyata bisa menggoyang lidah Ans yang makan begitu lahap.


Selesai dengan itu, Ans langsung pamit pulang dengan alasan Helena yang tidak tau perihal kedatangannya disini, dan waktu sudah sore Ans harus segera samapi kerumah sesuai jam pulang kantor.


"Hati hati nak Ans, salam untuk putri Ibu" ucap Ibu saat Ans menyalami dan mencium punggung tangannya.


"Iya bu, pasti aku sampaikan" jawab Ans "mana mungkin aku sampaikan yang ada Helenku akan mengetahui kedatanganku kemari" batin Ans.


Flashback Off...


"Sayang kenapa kamu belum bersipa?" tanya Ans.


Ya, Helena sengaja memperlambat gerakannya mengemas barang yang akan mereka bawa ke runah ibunya, karena dalam hatinya masih sangat wanti wanti mengingat perutnya yang tinggal satu bulan lagi akan melahirkan tidakah itu akan membuat Ibunya bertanya tanya nanti.


"Apa kita harus kesana hari ini juga?" tanya Helena.


"Tentu saja, sesuai dengan rencana kita" ucap Ans "jangan takut sayang, percayalah jika Ibu tidak akan marah apalagi kecewa padamu" ucap Ans memberi ketenangan.


"Baiklah tapi jika ibu marah padamu, aku harap kau tidak tersinggung sayang" ucap Helena.


Ans ingin sekali tersenyum mendengar perkataan Helena, bagaiman bisa ibu mertuanya marah padanya jika dia saja susah berhasil mendapatkan hati semua anggota keluargannya hanya modal sogokan dengan kedua adik iparnya dan permohonan ampun pada ibu mertuanya maka semua beres.


"Aku tidak akan marah, tapi aku akan memohon pada ibumu agar dia tidak memarahimu, bahkan jika ibumu mau memukulku maka akan kuberikan tubuhku asalkan tidak memarahi istri cantikku ini" ucap Ans dengan kekehanya.


"Aku tidak mau!" tolak Helena "aku tidak mau jika suamiku terlukan, lebih baik kita kembali jika Ibu tidak memaafkan kita dari pada harus melihatmu di pukuli oleh Ibu"


Ans tergelak mendengar perkataan Helena, "itu tidak akan tejadi, sudah bersiap kita harus segera berangkat" ucap Ans yang di angguki oleh Helena.


Mereka susah dalam perjalan menuju kediaman rumah Helena, dan sepanjang perjalan Helena selalu meremas jemarinya, dia sangat cemas jika ibunya tidak bisa memasafkan perbuatannya apalagi jika tidak mau lagi mengakui dirinya sebagai anak.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2