Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

Mama menapat wajah menantunya yang penuh dengan penyesalan itu. Tak bisa di pungkiri kalau saat ini mama tengan dirundung beebagai rasa. Sedih, sakit, takut dan khatir berbaur menjadi satu. Namum mama tidak bisa menayalahkan menantunya itu.


Mama Dila berjalan medekati Santi da memeluknya saaf tanganya sudah menggapai tubuh Santi.


" Ini bukan salahmu nak. Kamu jangan menyalahkan dirimu seperti ini. Ini semua sudah takdir Tuhan untukmu dan suamimu yang harus kalian lewati." ucap mama sambil mengelus lembut sang menantu


" Tapi mas Ruben emosi karna Santi mah. Dia marah karna perkataan Santi yang menyakitkan dia sehingga pergi dan melampiaskan emosinya dengan mengendarai mobilnya tak terkendali." aku Santi dalam pelukan mertuanya.


" ssttttt...Sudah.! jangan lagi menyalahkan dirimu. Ini semua karna keadaan yang mengakibatkan kesalah pahaman." tegas mama Dila.


" mama kamu benar nak, ini bukan salahmu. Jadi jangan lagi menyalahkan diri atas kejadian ini. Mending kita berdoa untuk kebaikan suamimu." ucap papa yang ikut angkat bicara, sedang Ans hanya menjadi pendengar bagi keluarga itu.


Beberapa menit berlalu lampu operasi yang menyala saat opersai berjalan kini sudah mati dan tak lama dokter pun keluar dari ruang Operasi.


Mereka yang melihat dokter keluar. Tanpa dikomandoi oleh siapa pun langaung menghambur mendekati sang dokter.


" bagaimana keadaan putra kami dok.?"


" Bagaimana keadaan Suami saya dok.?"


Mereka bertanya bersamaan dan secara bersamaan pula mereka sampai dan berdiri di hadapan dokter.

__ADS_1


Santi yang melihat itu meresa dejavu. Ia seperti kembali pada masa tiga tahun yang lalu dimana sang mantan kekasih berada diruang operasi karna kecelakaan juga.


Tiba tiba Santi merasakan ketakutan dalam hatinya. Ia takut sangat takut jika hal iti terjadi lagi maka ia akan kehilangan lagi.


" Katakan dok, bagaimana keadaan suami saya. dia baik baik saja kan.? jawab dokter jangan diam saja dong." desak Santi yang audah mulai gelisah.


" tenanglah sayang. Kita dengar penjelasan dokter dulu." Ucap mama mengelus tangan sang menantilu yang sedari tadi sudah meremas tangannya.


Mama sungguh memahami perasaan menantuya. Bahkan kalau boleh jujur, saat ini ia juga sedang merasakan hal yang sama seperti menantunya namun ia tetap mencoba tenang agar menantunya tidak semakin lemah karna ia juga lemah.


" Syukur. Pasien selamat dari masa kritsnya karna ia ditangani tepat waktu sehingga kami masih bisa menyelamatkan nyawa pasien.


Seketika kelegaan menyerang perasaan mereka yang mendengar penurutura dokter, tapi itu tidak bertahan lama karna dokter kembali berkata.


Mereka kembali sendu mendengar kelanjutan dari penjelasan dokter terlebih santi yang lagi lagi kembali menyalahkan dirinya sendiri .


" Tapi anak saya masih bisa sadar kan dok" tanya sang papa yang terlihat lebih kuat diantara mereka.


" Tentu saja tuan. Beliau masih bisa sembuh. Jadi kalian keluarganya ajaklah dia bicara karna dia bisa mendengar perkataan kalian sipaya kesdaraannya bisa kembali lagi di dunia nyatanya." ucap doketr menjelaskan.


" apa saya bisa menemui suami saya dok.?" pinta santi dengan tatapan memohon.

__ADS_1


" Tentu nona. Tentu saja bisa, tapi cukup satu dua orang saja ya dan jang terlalu lama karna takut mengganggu kesehatan pasien." jawab dokter dengan senyum ramahnya.


" trimakasih dokter.!". ucap Santi. " pah, mah. Bolehkan santi melihat mas Ruben" tanya santi pada kedua mertuanya.


" Tentu. Masuklah nal dan temui suamimu." ucap papa mengalah karna sebenarnya ia dan istrinya ingin sekali melibat keadaan putranya.


" Makasih ma pa." ucap santi tersenyum kemudian masuk kedalam ruangan suaminya.


Santi melangkah menuju tubuh suaminya yang saat ini berbaring diatas ranjang rumah sakit. Pelan dan pelan ia menuju suaminya dengan perasaan yang tak dapat dijelaskan lagi bagaimana hancurnya dia saat ini melihat suaninya yang tak berdaya itu.


" Mas.." Satu kata yang keluar dari bibi Santi. I memanggil suaminya dengan bibir bergetar. Meraih tangan sang suami kemudian menhecupnya lembut dan lama.


" maaf.. Maafkan aku mas. Maafkan aku yang membuat mas seperti ini. Andai saja aki tidak mngabaikan ajakan mas, andai aku tidak salah paham sama mas, dan andai aku mah ikut pulang bersmamau pasti saat ini mas aka bersamaku dan tidak akan berada disini. Hiks.."


Santi berkata dengan pelan diiringi segukan yang tiada henti karna ia benar benar tidak sanggup melihat keadaan suaminya.


" Aku mohon cepatlah bangun mas, aku janji aku tidak akan pernah marah lagi aku akan menuruti apa katamu mas, aku tidak akan pergi lagi darimu. Jadi cepatlah bangun."


Santi mencium kening Ruben dengan lembut kemudian mendekatkan bibirnya ketelinga Ruben dan berkata.


" Aku mencintaimu mas. Sangat mencintaimu jadi cepatlah bangun untukku.

__ADS_1


usai berkata itu santi berlalu keluar meinggalkan Ruben yang tak di sadari olehnya meneteskan air matanya tengah matannya yang tertutup


__ADS_2