
" Kamu tidak sakit kan sayang?" tanya Lili sembaru menempelkan punggung tangannya ke kening Rikom
" Sakitlah" ketus Riko " Kamu gk tau kalau aku muntah muntah dari tadi." lanjutnya.
Lili menghela napasnya mengelus dadanya untuj meredakan kekesalannya terhadap sikap Riko, dia harus benar benar sabar mengingat Riko yang sedang tidak baik baik saja.
" Yasudah ayo kita cari yang kamu inginkan." ajak Lili pada akhrinya.
Riko berbinar mendengar perkataan Lili yang mengatakan akan mencari makanan yang di inginkannya, Riko sudah seperti anak lima tahun yang girang karena akan di belikan mainan oleh bundanya.
" Ok ayo." ajak Riko penuh antusias.
Mereka kini berada di dalam perjalan mencari makanan yang di inginkan Riko, sudah ada beberapa yang mereka temui tapi Riko menolaknya dengan beberapa alasan.
Ada alasannya bapak penjualnya terlihat garanglah, tidak ganteng dan yang lebih parahnya adalah Riko mengatakan jika dia mau makan yang dimasak oleh ibu ibu yang cerewet.
Bagaimana dengan Lili? jangan di tanya lagi bagaimana dirinya, bukan main kekesalanya saat mendengar semua keluhan dan keinginan Riko yang di luar nalarnya.
Bagaimana bisa mereka mencari makanan yang di buat oleh ibu penjual yang cerewat, lalu apa hubungannya dengan dia yang bisa makan dengan nikmat.
" Itu sayang ada di sana coba pinggirin dulu." ucap Lili yang melihat ada penjual di pinggian jalan lagi tapi masihemiliki tenda senagai tempat makan.
" Aku tidak mau, sepertiya ibu itu tidak cerewet." jawab Riko menolak.
Mendengar jawaban Riko bukan main emosinya langsung tersulut, kesabarannya habis sudah tidak bisa lagi untuk di tahan.
" Sebenarnya apa maksudmu ha!" teriak Lili " kau mau mempermainkan aku Riko, kau benar benar keterlaluan." kata Lili dengan wajah yang sudah merah padam karena marah.
Riko terjangkit kaget mendengar teriakan Lili padanya, tidak pernah dia melihat Lili seperti ini.
Apa mungkin permintaan Riko sudah keterlaluan sehingga Lili mangatakan kalau dia keterlaluan? kalau bisa dia juga tidak mau makan di pinggiran seperti ini karena itu bukan dirinya sekali.
" Kamu marah sama aku sayang."
Pertanyaan bodoh yang keluar dari Riko bukannya membuat Lili meresa tapi malah semkain tensinya naik, kenapa suaminta ini bisa bodoh seperti ini sekarang.
Bukankah Riko terkenal pintar, tidak jauh berbeda dengan sahabatnya Ruben suamai darti teman baiknga Santi.
" Kau pikirkan aja sendiri." ketus Lili.
__ADS_1
" Sayang...Jangn begitu." lagi lagi Riko sangat menyebalkan menurut Lili, karena apa? karena Riko yang merengek seperti ini padanya.
Menarik nafanya dengan dalam dan menbuangnya perlahan, kemudian matanya menatap tajam ke arah Riko dan hal itu sukses membuat Riko menelan ludahnya kepayahan.
" Dengarkan dan ini merupakan ketengasan tidak ada penawaran apalagi penolakan." tegas Lili.
" Ap apa itu sayang?" tanya Riko terbata.
" Kita akan makan disini dan kau tidak bisa lagi menolaknya! jika mau menolak maka siapkan dirimu untuk tidur diluar selama sebulan." tegas Lili yang sudah bersedekap dada.
" Apa!" Riko sangat terkejut mendengarnya, bagaimana bisa dia tidak tidur selama satu bulan dengan Lili, hanya sebentar saja pun dia sudah tidak tahan.
" Jangan sayang.." rengek Riko dengan tangan meraih lengan Lili
" Jika kau tidak mau, maka turuti saja apa yang aku katakan." tegas Lili.
Riko pasrah menerima keinginan istrinya, dari pada nanti dia tidak tidur bersama Lili lebih baik dia mengikuti saja.
" Ayo turun." ajak Lili.
Dengan penuh keterpaksaan Riko menyeret langkahnya dan mengikuti Lili yang sudah lebih dulu turun menuju warung yang dimaksud oleh Lili.
" Ehhh neng mas ayo mau makan ya di sini? ayo duduk duduk disini neng mas, makanan disini enak enak loh dijamin gak bakal nyesal deh makan disini." pemilik warung yang ternya ibi ibu terdengar begitu heboh menyambut kedatangan mereka.
" Bukankah ini seperti yang kau cari sayang? baru datang saja sudah heboh." ejek Lili menyembunyikan wajahnya yang tersenyum agar tidak ketahuan dengan pemilik warung.
" Ho Iya sayang, pasti ibu ibu ini cerewet" Jawab RIiko penuh semangat.
" Neng..Mas.. Ayo duduk disini masih kosong kok." lagi lagi suara pemilik warung terdengar cempreng di telinga Lili saat mendengar suara itu.
Berbeda dengan Riko yang menyambut dengan penuh semangat dan tangannya terulur meraih lengan Lili dan mengajaknya duduk di tempat yang sudah disediakan oleh pemilik warung.
" Terima kasih Bu" ucapnya yang langsung duduk dan diikuti Lili.
" Mau pesan apa mas?"
" Dini ada ayam geperek yang paling pedas tidak?" tanya Riko dengan antusias.
" Tentu saja ada Mas" jawabnya " dan bukan cuma ayam geprek saja yang kami sediakan, masih ada banyak lagi ikan lele ada, bebek goreng ada, mau yang bagaimana di goreng geprek, rendang juga kami sediakan?" ceroco pemiliknya.
__ADS_1
Lili mengusap kupingnya yang terasa panas mendengar ocehan ibu itu, sungguh jika dipilih maka dia tidak akan mau datang kemari mendengar ocehan itu.
Berbeda dengan Riko yang menanggapinya dengan serius mendengar semua penjelasan pemilik warungnya tapi walau akhrinta dia trap pada pilihannya.
" Sepertinya enak enak semua ya bu?".
" Ho iya tentu saja enak, di jamin gak akan nyesal deh mas." jawabnya dengan gaya yang begity percaya diri.
" Tapi saya tetap pesan ayam geprek saja, kalau yang lain nanti saja jika aku mau lagi." jawab Riko.
" Kalau neng nya mau apa?"
"Saya sama saja tapi jangan terlalu pedas." jawab Lili.
" Iya bu jangan terlalu pedas nanti anak kami kenapa napa." timpal Riko sekenanya.
" Oh ya istri mas ini sedang hamil?"
" Ha...Kamu ngomong apa sih sayang." tegur Lili yang merasa Riko ngelantur.
" Hehe, entah kenapa aku merasa seperti itu sayang." jawab Riko cengengesan.
" Maaf ya bu, suami saya ngelantur ngomongnya." kata Lili yang merasa malu.
" Tidak apa apa neng doakan mudah mudahan bisa cepat hamil, oh sebentar ya ibu mau siapkan makanan spesial untuk kalian." ucapnya kemudian berlalu pergi meninggalaab Riko dan Lili.
" Sayang, entah kenapa aku merasa kamu akan hamil deh." kata Riko setelah tinggal mereka berdua saja.
" Kok bisa kamu berpikir begitu sayang?" tanya Lili mengerutkan kening.
" Kurang tau, tapi aku mau aja berkata begitu" jawab Riko sekenanya " Sudah kita makan saja." lanjut Riko saat melihat makanan mereka datang
" Ini mas neng ayam geprek spesial untuk kalia." ucap ibu pemilik warung.
" Trimakasih bu." ucap mereka bersamaan.
Pasangan itu mulai melahap makanan yang di idamkan Riko, bahkan pria itu terkesan terburu buru seolah akan ada yang merebut milikya, walau pedas tapi dia tidak peduli akan hal itu.
" Pelan pelan sayang, gak akan ada yabg rebut itu punya kamu." tegur Lili yang melihat Riko makan dengan terburu.
__ADS_1
" Enak sayang jadi nagih gak bisa di rem" jawab RIko dengan mulut yang penuh dengan makanan."
Bersambung...