
"Sayang.....bantu pekein baju dong!" teriak Riko yang pagi ini kembali manja pada istrinya.
"Iya sebentar....!" sahut Lili yang juga ikut berteriak.
"Cepat sayang..Aku sudah terlamba!"
"Ck, kau selalu saja seperti itu!" decak Lili yang kini sudah berada di depan Riko.
Tangannya bergerak memasangkan kemeja Riko dan mengancingkannya, sedangkan Riko hanya menyengir mendengar ucapan istrinya.
"Jangan nyengir seperti itu! sangat jelek sekali!" ketus Lili.
"Riko langsung menutup mulutnya saat mendengar ucapan istrinya, sungguh sekarang ini mulut istrinya itu pedas akhir akhir ini.
"Sayang kenapa akhir akhir ini mulutmu pedas sekali, lebih pedas dari mulut tetangga!" kekeh Riko.
"Janga meledekku tuan, jika kau masih mau meronda!" anacan Lili.
"Kau selalu saja mengancamku dengan itu!" kesal Riko "memangnya kau tidak mau meronda lagi apa" ketus Riko.
"Tentu saja aku tidak mau, aku meronda dengamu karena kamu selalu saja merengek" jawab Lili asal.
Riko tersenyum mendengar jawaban istrinya yang tidak sadar jika dia pun tidak akan tahan jika tidak meronda walau memang benar pada awalnya Riko lah yang selalu meminta lebih dulu, tapi pada akhirnya Lili pun akan menikmatinya.
Terlintas ide jail di kepala Riko, dia ingin membungkam mulut Lili dan dia yakin kali ini Lili tidak akan bisa meledek dirinya lagi.
"Sayang..." panggil Riko.
Tangannya dengan cepat menarik pinggang Lili, dan merengkuhnya dengan erat, dia ingin melakukan pemanasan pada Lili agar dia tau jika bukan dirinya saja yang menginginkan kegiatan meronda.
"Ka kau mau apa sayang?" tanya Lili terbata.
Perasaan Lili mulai tidak enak, dia merasa jika suaminya akan melakukan hal yang baru saja mereka bahas.
"Tentu saja melakukan hal yang menyenangkan" bisik Riko tepat di telinga Lili membuat tubuh gadis itu meremang.
Aliran daranya berdesir begitu cepat mendapat perlakuan seperti itu, walau sudah biasa tapi tetap saja Lili masih merasa gugup dan malu.
"Jangan macam macam sayang!"
"Tidak! hanya satu macam dan itu adalah memakanmu!"
__ADS_1
Riko langsung membungkam bibir Lili, tangannya yang tadi bertengger indah di pinngang beralih meraih tengkuk Lili untuk memperdalam ciumannya.
Riko terus saja ******* bibir Lili, bahakn tangannya dengan gencar menyelinap masuk ke dalam baju dan meremas gunung kembar Lili dengan lembut.
Lili mengerang nikmat saat ujung miliknya di pelintir oleh Riko, kesadarannya kini sudah mulai tidak terkendali, dia menginginkan yang lebih.
Dengan penuh percaya diri Lili membalas perbuatan Riko, membalas ciuman yang memabukan dirinya, dan saat tangannya bergerak ingin membuka kambali kemeja suaminta tapi Riko langsung menghentikan kegiatannya.
Lili mengerutkan keningnya tidak mengerti kenapa terhenti, sedangkan Riko berusaha menyembunyikan senyumnya agar tidak di amuk oleh Lili.
"Kenapa?" tanya Lili.
"Bukankah kamu bilang tidak suka meronda?" goda Riko.
Wajah Lili memerah mendengar perkataan suaminya, dia baru sadar jika dia sudah terbawa suasana bahkan dengan percaya dirinya dia membalas ciuman yang ternyata Riko hanya menggodanya.
"Itu hukuan buat kamu agar tidak mengatai suamimu mesum lagi!" kekeh Riko.
Lili yang tadinya meroan merah berubah menjadi wajah kesal, dia kesal sekali karena ternyata suaminya hanya mempermainkannya dan gilanya dia sudah terlanjur terhanyut.
"Kau keterlaluan sekali!" ketus Lili dan pergi begitu saja.
"Sayang... Hei jangan marah begitu, aku hanya becanda...!"
Sepanjang makan Lili tidak berbicara sedikitpun bahkan saat menungkan nasi dalam piring Riko pun wajah Lili masih terliihat masam, dan Riko mebiarkan saja seolah tidak ada masalah.
"Aku berangkat ya sayang!" ucap Riko.
Saat ini keduanya susah berada di teras dan Lili walah pun kesal tapi dia tetap mengantarkan suaminya sebagai wujut patuhnya pada Riko.
"Nanti aku akan pulang cepat untuk periksa kandungan kamu, agar kita tau perkembangan anak kita"
Lili meraih tangan Riko dan mengecupnya, sedangkan Riko mengecup kening Lili dengan lembut dan kemudian menarik wanita itu masuk dalam pelukannya.
"Maafkan aku sayang yang sudah menggodamu" ucap Riko lembut dan mencium pucuk kepala Lili dengan tangan yang mengelus lembut punggung istrinya.
Lili tersenyum mendengar perkataan Riko yang meminta maaf padanya, dia pikir Riko tidak peduli akan kekesalannya karena sepanjang sarapan tadi Riko tidak berkata apalagi membujuk Lili.
"Aku pikir kau tidak akan peduli dengan kekesalanku" jawab Lili dengan senyum manisnya.
"Tentu saja aku peduli, apa pun tentangmu aku selalu peduli dan tidak akan pernah mengabaikan itu" jawab Riko melerai pelukan mereka agar sedikit longgar.
__ADS_1
"Terimakasi sayangku.." ucap Lili dan mengecup singkat bibir Riko.
"Aku berangkat, dan akan pulang cepat untuk kontrol kandungamu" ucap Riko yang sekali lagi mengecup kening Lili kemudian pergi meninggalkan Lili.
"Miko, apa kau tau tempat liburan untuk pasangan?" tanya Ans.
Saat ini Ans sudah berada di ruangannya setelah adegan salah paham, dan saling bermaafan lalu berkelana mencari kenikmatan hingga pagi ini yang lagi lagi sangat membuat Ans bahagia.
Tidak bisa di ungkapkan lewat kata, tapi setiap orang yang berpapasan dengannya pasti akan tau kalau pria itu sedang jatuh cinta.
Dan itu memang benar, Ans sedang hatuh cinta, jatuh cinta pada wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri.
"Untuk apa tuan menanyakan itu?" tanya Miko mengerutkan keningnya.
"Aku mau mencangkul disana!" jawab Ans asal.
"Untuk apa tuan?" tanya Miko polos.
Ans menggeram kesal melihat asistennya yang terlihat begitu bodoh dalam hal seperti ini "Kau memiliki kekasih Mik?" tanya Ans asal untuk melampiaskan kekesalannya.
"Tidak tuan" jawab Miko masih dengan wajah polosnya.
"Pantas saja kau tidak tau, rupanya kau tidak memiliki kekasih!" sindir Ans.
"Lalu apa hubungannya mencangkul dengan kekasih tuan?"
Ans semakin tersult emosi mendangar pertanyaan konyol bawahannya, dengan kesal Ans berkata "aku ingin bercinta dengan istriku disana dan kau harus mencari tempat itu untuk kami!" teriak Ans.
"Ohhh, begitu? baiklah saya akak mencarinya." jawab Miko yang baru paham.
"Dapatkan segera! dan saya akan pergi dengan istriku selama seminggu dan perusahaan kau handle dengan baik" ucap Ans.
Wajah Miko mendadak murung mendengar perkataan Ans, dia harus memikiul beban perusahaan selama seminggu dan itu karena tuannya yang ingin mengahabiskan waktu dennan istrinya, lalu apa kabar dengan nasibnya.
" Kenapa! kau tidak suka!"
Penekanan Ans sukses membuat Miko kikuk karena Ans bisa membaca mimiknya yang seperti orang malam.
"Tidak tuan! sama sekali tidak!" elak Miko " saya permisi tuan" pamit Riko yang langsung pergi meninggalkan ruangan Ans.
Sementara setelah kepergian Miko, sang tuan kembali pada lamunannya, membayangkan wajah istrinya yang begitu manis menurutnya.
__ADS_1
"Benar benar manis" gumam Ans.
Bersambung...