
Santi kini sudah berada di depan pintu ruangan Ruben, jantungnya kembali berdetak dan tangannya gemetaran terulur untuk membuka kenop pintu itu. Samar samar ia mendengar suara wanita didalam ruangan suaminya dan itu semakin membuat jantungnya terpompa lebih cepat dari normalnya.
Dengan mengumpulkan keberanian dan mencoba menguatkan hatinya, ia membuka pintu dan..
Deg.....
Santi membeku ditempatnya, tubunya mendadak lemas, matanya sudah menganak sungai siap untuk mengalir membasahi pipinya melihat suaminya sedang berpelukan dengan wanita lain di dalam ruamgannya.
Apalagi saat suamainya menatapnya tanpa dengan tatapan tidak bersalahnya, apalagi suaminya tidak bereaksi sama sekali.
Tanpan menunggu lama Santi berlari keluar dari ruangan Ruben, ia mengabaikan semua mata yang memandangnya, bahkan saat Riko memanggilnya pun ia mengabaikan panggilan itu.
Santi kini berada di taman. Disinilah ia menumpahkan semua keluh kesah dan rasa sakitnya.
" aakkhhhh,, hiks hisk...Kenapa.? kenapa kamu lakukan ini.? apa ini alasanmu berpisah dariku.?! apa karna wanita itu yang dulu pernah menyakitimu,? hiks... hiks... Kamu jahat..! kamu jahat Ruben prasetya..! aku membencimu..!" teriak Santi frustasi di sela isak tangisnya yang sudah duduk bersimpuh di taman.
" kenapa keadaan tidak pernah bisa sesuai dengan yang aku inginkan,? aku sudah berusahan melakukan yang terbaik tapi kamu.? kamu masih saja mau membuangku,! aku masih saja tidak berharga dimatamu.! aku...Aku harus bagaimana lagi.? hiks...hiks..." jerit santi sambil memukul mukul dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1
Sedangkan Jovan masih berlari mencari keberadaan Santi berada karna hingga ia sampai di taman dan menyaksikan dari tempat ia berada yang tidak jauh dari tempatnya.
Flashback....
Jovan menunggu di dalam mobil karna ia tidak mau berdebat dengan Riko yang tadi menatapnya dengan tatapan membunuh itu, namun tak sampai lima belas menit, Jovan melihat Santi berlari sambil menangis keluar dari lobi.
Saat Jovan turun dan ingin mengejar, ia kembali berpapasan dengan Riko.
" apa yang sahabat lo lakuin ke santi ha.?!" terika Jovan marah.
" jangan tanya ke gue.! karna gue pun kaget lihat santi menangis dan beralari seperti itu." balas Riko marah.
" kalau sampai Santi kenapa napa, maka gue gk akan tinggal diam. Sampaikan pada Sahabat lo itu." tegas Jovan kemudian kembli melangkah, sedangkan Riko hanya bisa berdecih dengan ancaman Jovan.
Flashback off*.....
" kenapa kamu masih menagisinya sih." gerutu Jovan saat sudah sampai di samping Santi, ia membantu santi untuk berdiri dan menuntunya duduk di banku taman itu.
__ADS_1
" Van.. hiks...hiks...Dia jahat,, dia jahat van, Dia menyakiti perasaanku." adu Santi kepada Jovan dengan masih tergugu.
Jovan miris melihat kekacauan sahabatnya, ia tidak tega melihatnya. Dia menarik santi kedalam pelukannya dan mengusap usap bahu Santi untuk menenangkannya.
" Sudah, sudah tidak perlu menangis, kalau memang perjalanan dan perjuanganmu sampai disini maka kamu harus ikhlas menerima semuanya." ucap Jovan menghibur.
" mungkin kamu bukan untuk dia dan dia bukan jodoh untukmu, mungkin Tuhan sudah menyiapkan semua yang terbaik untuk kalian. Dan jika perpisahan adalah jalan terbaik maka kamu harus bisa menerima hal itu dengan berlapang dada," ucap Jovan lagi.
" tapi apa salahku.? aku sudah berusaha yang terbaik tapi dia tidak melihat itu semua." ucap santi masih terisak kecil.
" ya,,,mungkin itu juga tuhan yang hendaki agar kalian berdua tidak sama sama sakit. Dan tuhan memilih kamu saja yang sakit dan Ruben bahagia ha...ha...ha.." ucap Jovan di selingi candanya.
" ish kamu menyebalkan.!" ketus santi mencebikan bibirnya.
" udah dong gk sudah ngambek begitu, nanti makin jelek loh. Udah jelek tambah jelek." ucap Jovan kembali tergelak melihta raut wajak Santi yang sudah kesal.
Ternyata tanpa mereka berdua sadari ada mata yang menyaksikan canda tawa keduanya hingga ia kembali pergi dari sana....
__ADS_1
Bersambung....