
satu keluarga ditambah Rajesh makan malam dengan nikmat, dan seperti biasanya keluarga Saker akan sangat menikmati makanan yang tersaji karena kokinya adalah gadis cantik walau sudah paru baya, siapa lagi kalau bukan Naina sang Nyonya dalam Mension Saker.
Selesai dengan kegiatan makan malamnya, kini semuanya berkumpul di ruang keluarga termasuk Rajesh ikut kesana terlibat dalam obrolan ringan yang dilakukan keluarga Saker.
"Jadi katakan kenapa baru memutuskan kembali ke Mension, kenapa tidak dari kemarin mengingat pernikahan kalian yang tinggal beberap hari? dan kenapa juga harus ada kejutan pernikahan kalian dipercepat?" tanya Anan dengan nada menginterogasi.
Nara menelan ludahnya kepayahan, dia tau ayahnya butuh kejelasan untuk semuanya karena bagaimanapun keputusan tempo hari adalah satu bulan mendatang tapi karena inseiden kebodohan Nara yang masih menangisi mantan kekasihnya yang sudah jelas berhianat hingga menimbulkan sedikit pertengkaran dan berakhir dengan perdamaian dengan syarat pernikahan dimajukan.
Sedangkan Rajesh hanya diam, matanya sesekali melirik Nara yang sudah pucat atas pertanyaan sang ayah dan dia yakin jika calon istrinya saat ini sedang bingung akan apa yang harus dijelaskan.
"Ehm... aku yang menginginkan pernikahan kami dipercepat Ayah, aku hanya tidak mau ada orang lain yang mengambil kesempatan mendekati Nara dalam waktu satu bulan ini" alasan Rajes dan memang benar itulah alasannya hanya bedanya alasan itu sudah jelas ditujukan untuk menghindari satu orang.
Nara tercengang dengan jawaban Rajesh, dia berpikir mungkin Rajesh hanya sekedar mengarang cerita karena pada kenyataanya pernikahan keduanya dipercepat karena masalah yang ditimbulkan Nara dan seandainya saat itu ditolak mungkin saja berita yang didengar keluarganya pastilah berita yang mengecewakan apalagi jika disertai dengan alasannya.
"Kamu menyelamatkanku lagi Rajesh dan aku benar benar beruntung akan hal itu" batin Nara dengan terus menatap Rajesh yang duduk dihadapannya.
Sementara keluarga lain termasuk Lionel dan Martha yang mendengarnya hanya tertawa kecil karnea merekapun pernah ada diposisi itu, ingin segera bersama agar tidak ada orang lain yang berusaha menyelinap masuk dalam hubungan keduanya.
"Aku suka dengan pola pikirmu Boy, tapi apa semuanya bisa kau atur dalam waktu beberap hari lagi?" tanya Anan.
"Nara sudah setuju jika pernikahan kami sederhana saja agar tidak memakan banyak waktu dan kami bisa menikah sesuai dengan planning yang sudah kami rencanakam" kata Rajesh menjelaskan.
Anan bungkam, tidak tau harus berkata seperti apa lagi, jika ditanya ingin seperti apa pernikahan putrinya tentu saja ingin yang mewah dan tak terlupakan karena Nara adalah putri satu satunya tapi mengingat waktu yang sangat singkat akhirnya Anan hanya bisa menghela napasnya, toh pernikahan bahagian tidak bisa di ukur hanya dengan kemewahan dan kemegahan pesta pernikahan.
"Baiklah jika itu yang sudah menjadi keputusan kalian, asalkan putriku tidak keberatan dan bahagia menjalani semua maka sebagai seorang Ayah hanya mampu mendukung semua keputusan kalian" kata Anan pada akhirnya menyetujuinya.
"Yang dikatana Ayah benar, untuk apa pernikahan yang mewah dan megah jika nanti tidak ada kebahagian kedepannya, dan Ibu hanya berharap kalian bisa bahagain dan tidak saling menyakiti" kata Naina mulai mode melownya.
"Tentu saja, aku akan bahagia dengan menikahi gadis yang aku cinta, dan aku akan berusaha untuk membuat Tuan Putri kalian bahagia bersamaku dengan caraku, aku akan memperlakukannya sama seperti kalian, memujanya bahkan melebihi rasa cinta kalian walau aku tau tidak akan ada yang bisa melebihi cinta orang tua pada putrinya tapi aku akan berusaha untuk bisa menyetarakan itu semua" jelas Rajesh dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Satu kata yang dirasakan Nara saat ini adalah terharu. ya, dia terharu atas semua yang diucapkan Rajesh, dia sangat terharu karena pria yang akan menjadikan dirinya seorang istri adalah pria yang tidak mengandalkan hartanya yang memiliki pikiran sama dengan dirinya tentang harta yang tidak menjadi tolak ukur kebahagiaan seseorang.
Begitu juga dengan Anan, Naina dan Lionel merasa terharu terhadap penuturan Rajesh, mereka merasa tidak salah pilih mempercayakan Nara pada Rajehs, seorang pria yang selain kesuksesannya mendunia tapi Rajehs juga merupakan pria yang sangat gantle dan bertanggung jawab terbukti dari Pria itu yang meminta Nara secara langsung dan terang terangan kepada mereka dan Anan menjadi teringat waktu itu, waktu dimana Rajesh berbicara denga keluarga Saker.
Flashback....
Rajesh sudah berada diacara pernikahan Lionel putra sulung dari keluarga Saker dan pada saat itu Rajehs datang sebagai tamu undangan kehormatan, wajar jika jadi tamu kehormatan karena memang Rajesh merupakan tamu VIP yang diundang keluarga Saker secara resmi dan khusus.
"Tuan RF.." seru Anan.
"Selamat malam Tuan Anan.." sapa Rajesh.
"Tuan RF, terimakasih sudah datang" kata Lionel sebagai mempelai pria.
"Tentu saya akan datang memenuhi undangan dari kalian, dan maaf Tuan Lionel saya hanya bisa memberikan tiket liburan untuk anda" kata Rajesh dan mengkode Leo agar memberikan barang yang dimaksud.
"Oh Tuan RF, seharusnya tidak perlu repot, anda datang itu sudah sangat membuat kami senang" kata Lionel.
"Baiklah terimakasih, dan saya terima hadiahnya" kata Lionel.
Mereka terlibat perbincangan hingga beberapa saat sampai akhirnya Rajesh membuat suara menyampaikan niatnya yang ingin berbicara dengan semua keluarga Saker.
Awalnya mereka sempat khawatir dengan permintaan Rajesh, khawatir dan berpikir mungkin sudah menyinggung pria sukses itu tapi setelah Rajehs meyakinkan mereka akhirnya keluarga itu mengiyakan.
"Baiklah, mari kita keruangan yang lebih sunyi agar bisa berbicara dengan puas" kata Anan yang dianggukan semua orang.
"Ada Tuan? kenapa meminta kami untuk berkumpul, apa ada sesuatu yang sudah menyinggung perasaanmu?" tanya Anan was was.
Rajesh yang melihat kecemasan di raut wajah semuanya menjadi tidak enak hati, padahal niat hati ingin meminta restu tapi malah membuat situasi tegang seperti ini.
__ADS_1
"Jangan terlalu tegang Tuan Saker, ini saya hanya ingin menyampaikan permintaan" kata Rajehs dengan senyumnya.
"Permintaan apa itu?"
Rajesh menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum mengungkapkan apa yang menjadi isi hatinya, "saya ingin mengatakan jika saya tertarik dengan Nara putri anda, dan saya ingin meminta restu terlehih dahulu untuk mendekati Nara serta restu untuk melamarnya jika sudah bisa mendapatkan hatinya nanti" kata Rajesh dengan lantang.
Semuanya saling pandang tak tertinggal rasa terkejut yang terukir diwajas semuanya, tidak ada angin tidak ada hujan bahkannkabar kedekatanpun tidak pernah terdengar tapi kini tiba tiba pria tampan yang sukses itu meminta restunya dan meminta putrinya dengan sangat gantel.
"Kenapa mendadak? bukankah kalian baru saja berkenalan?" tanya Anan tak mengerti.
"Tidak, aku sudah mengenalnya sejak satu tahun yang lalu tapi hanya aku yang sering melihatnya sedangkan dirinya tidak dan baru baru ini kami kenal itupun dia tidak mengenal namaku" jelas Rajesh membuat semuanya semakin tercengang tak mengerti dengan keadaan.
"Tapi bagaimana bisa Anda mengatakan menyukai putriku, sedangkan kalian tidak saling kenal?" tanya Anan yang masih tidak percaya, selain itu Anan tidak ingin sembarang memilih lelaki untuk putrinya walau itu berasal dari keluarga terpandang.
"Maka itu saya meminta restu, agar aku bisa mendekatinya agar nanti saat kalian menemukan aku sedang bersamanya kalian tidak marah apalagi berpikir hal buruk" jelas Rajesh.
Naina, Anan dan Lionel saling pandang, sebelum akhirnya pria paru baya yang paling tua diantara keduanya sekaligus penanggung jawab terhadap putrinya kembali berkata.
" Kami hanya memberi ijin tapi perihal dirinya yang ingin dekat denganmu atau tidak itu adalah urusan dan keputusannya dan apapun nanti yang menjadi keputusannya akan selalu kami hargai dan saya berharap jika seandainya nanti putriku tidak ingin mengenalmu maka kau harus menerima setiap keputusan putriku...!" tegas Anan.
"Anda tenang saja, saya pria yang memegang janji" kata Rajesh penuh keyakinan.
"Baiklah, ayo kita kembali...pasti tamu undangan menuggu" ajak Anan yang langsung diikuti semuanya.
Flashback off....
.
.
__ADS_1
Bersambung...