Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Menuju hari kelahiran


__ADS_3

Hari hari sangat cepat sekali berlalu, hingga kini kandungan Santi sudah memasuki usia yang ke sembilan bulan, dan selama sembilan bulan itu ada banyak hal yang sudah dilewati pasangan muda ini, semakin semakin bertambah besar cinta mereka, bahkan Ruben semakin memanjakan Santi dan semakin posesif terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan istrinya.


Seperti sore ini tepat akhir pekan, Santi tiba tiba saja ingin pergi jalan jalan sore sekitar halama rumah, dan Ruben dengan sigap menemani istrinya


" Mas, aku pengen jalan sore deh ah." kata Santi manja.


" Emang kamu kemana hem.?" tanya Ruben dengan tangan mengelus lembut pipi istrinya dan mencium kening itu dengan lembut.


" Mau keliling halaman komplek saja sih mas." jawab Santi


" Tapi masih ada kerjaan sayang dan lagi kamu akan capek nanti." jawab Ruben dan kembali fokus pada kerjaannya.


Santi mencebikan bibirnya mendengar jawabn dari suaminya, dia pikir mungki Ruben akan menemaninya tapi ternyata itu adalah respon yang sangat menjengkelkan.


" Ikhh, kesal." kata Santi dengan sedikit menghentakan kakinya dan suaranya menyerupai bisikan tapi Ruben masih bisa mendengarnya.


" Jangan di hentakan sayang kakinya nanti kami dan anak kita kenapa napa loh." Ruben mengingatkan Santi tapi tatapannya tidak teralihkan dari laptop milikkya.


Karna kesal Santi memilih peri dari sana meninggalkan suaminya yang tidak bergeming dari pekerjaanya. Santi pergi dengan merengut kesal.


Ruben yang melihat tingkah istrinya hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan, sungguh Santi yang dulu dikenalnya sudah berubah seratus delapan puluh derajat dari yang sebelumnya.


Segera Ruben menyingkirkan berkasnya dan menutup laptop itu, lalu menyusul istrinya yang sampai saat ini masih saja menggerutu tidak jelas


" Dasar suami gak peka, gak sayang sama istri.! lebih pentingin kerjaan ketimbang istrinya. Awas saja nanti kalau minta jatah, aku gak akan mau kasih." itu lah gerutuan Santi sepanjang perjalanan dari kamar menuju ruang tengah tanpa tau kalau Ruben terus saja mengikutinya dengan senyum kecilnya.


" Bi Asih,,,bibi..." Santi berteriak memanggil pembantu rumah tangga itu.


" Iy nona." Jawab Bi Asib teegopohbhopoh menuju tempat Santi


" Temani aku jalan sore bi." kata Santi dengan nada kesal.


Bi Asih mengerutkan keninngya bingung, tidak biasanya majikannha ini minfa ditemani karna pasti ada suaminya yang siaga menemaninya.


Lebih bingung melihat ekspresi Santi yang terlihat kesal dan Ruben yang sedang senyum senyum dibelakang Santi.

__ADS_1


" Bibi kenapa diam saja.! bibi tidak mau ya." kata Santi dengan bibir yang sudah dirucutkan kedepan.


" Iya bibi tidak akan ikut." Ruben yang menjawab pertanyaan Santi


Santi menoleh kebelakang memicingkan matanya menatap tajam suaminya


" Kenapa." ketus Santi.


" Karena ada suamimu yang akan menemani dan menjagamu sayang " Jawab Ruben denvan tangan menangkup kedua pipi Santi yang masih saja cemberut itu.


" Bukannya tadi bilang banyak kerjaan, ya sana urus saja kerjaanmu itu " usir santi yang masih saja kesal


Ruben terkekeh melihat tingkah istriya yang seperti anak kecil saat merajuk. " Kamu dan anak kita lebih penting sayan. Dan mas bicara seperti tadi karena mas tidak mau kamu capek sayangku." tutur Ruben dengan lembut menatap bola mata Santi yang memancarkan kekesalan dengan mata teduh miliknya.


Seketika Santi dibuat terpana olehnya, opeh mata pujaah hatinya yang begitu membuai hati, seolah terhipnotis oleh mata itu, Santi menurut saja saat Ruben menggiringnya keluar dari rumah.


" Sayang kalau kamu lelah, kita istrahat saja ya." kata Ruben saat mereka sudah berjalan lumayan jauh dari rumah mereka.


" Bentar lagi mas aku belum berasa lelah." jawab Santi dan tetap melanjutkan jalannya dengan tangan saling bertautan mesra.


Ruben tidak lagi berkomentar, ia hanya menurut saja perkataan istrinya dan sesekali menghapus peluh di wajah Santi.


" Kenapa senyum senyum terus hemm.?" tanya Ruben dengan tangan mengelus pipi Santi, ia bertanya karna sedari tadi Santi hanya senyum senyum saja.


" Aku hanya bahagia mas, bisa menikah sama kamu." jawab Santi.


" Mas juga sangat bahagia sayang, bisa menikah dengan wanita terbaik seperti kamu dan mas lebih bahagia lagi karna kita akan memiliki buah cinta kita." Kata Ruben serara mengelus perut buncit Santi


" Aduhh.." Santi meringis kecil saat merasakan gerakan didalan perutnya


" Kamu kenapa sayang apa dia menendang dengan sangat kuat .?" Ruben terlihat khawatir melihat istrinya yang meringis.


" Gak apa mas, hanya sebentar aja kok sakitnya, mungkin dedenya juga senang karna sebentar lagi bisa bertemu ayah bundanya." jawab Santi yang ikut mengelus perunya.


Ruben tersenyum kemudian sedikit membungkuk menciup perut istrinya dengan lembut dan lama. " Dede udah gk sabar ya mau ketemu ayah sama bunda hemm.?

__ADS_1


" Iya ayah, dede sudah tidak sabar lagi " Santj menjawab dengan menirukan sura anak kecil


Ruben lagi lagi dibuat tersenyum merasakan kebahagiaan yang tidak terkira olehnya. " Kalau dede mau ketemu ayah dan bunda, dede jangan nakal didalam perut bunda hatus anteng ok " kata Ruben lagi lagi mengajak si calon anak berbicara.


" Ok ayah, dedek gk nakal kok."


Senyum jelas sekali terlihat dari kedunya,senyum kebagiaan akan cinta dan juga yang sebentar lagi akan memiliki buah hati.


" Yasudah, ini mau gelap kita pulang sekrang ya sayang." kata Ruben.


" Iya , aku udah lelah " jawab Santi


Mereka kembali kerumah dengan tangan kembali bertautan mesra, berjalan beriringan pelan dan hati hati agar istri dan anaknya tidak kenapa napa.


Sampai dirumah, mereka langsung memasuki kamar, kemudian istrahat sejenak sebelun nanti turun lagi untuk makan malam.


Ruben sendiri duduk di tepi ranjang, tanganya bergerak menggapai kakai istrinya lalu memijitnya pelan pelan.


" Makasih ya mas." ucap Santi dengan senyum manisnya


" Ini tidak gratis sayang." jawab Ruben dengan senyum mesum dan kerlingan nata genitnya.


Sedangkan Santi hanha berpura pura tidak tau arti dari kode suaminya. " memangnya mas minta dibayar sama aku.?" tanya santi sok lugu


" Tentu saja sayang, mas minta bayaran." jawab Ruben yang kali ini tangannya sudah merambat ke paha istrinya dan mengelus elusnya.


Santi mengingkirkan tangan suaminya, dan kemudian membali bertanya. " berapa sih bayarannya mas.?" tanya Santi sombong.


" Mas tidak butuh uangmua, kamu lupa siapa suamimu ini hemm." kata Ruben yang langsung menabarak bibir istrinya dengan bibirnya.


" Ini yang mas mah sayang, bukan uangmu." Lanjut Ruben setelah melepaskan ciumannya dan tanganya menunjuk semua bagian tubuh istrinya dan berakhir di area yang selalu menjadi jalan menuju surga dunia.


" Nanti malam mas, waktunya tanggung." Jawab Santi yang tidak pernah bisa menolak keinginan suaminya.


" Baiklah nanti setelah makan malam mas akan mengabsen tubuhmu apa ada kekurangan atau tidak." jawab Ruben dan langsung bangkit berdiri diikuti santi yang sudah malu akan perkataan Suaminya.

__ADS_1


Bersambung...


Mungkin satu atau dua bab lagi akan tamat ta gaesss dan berlanjut dengan yang baru😍😘😘


__ADS_2