Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Benarkah


__ADS_3

Orang tua Ruben Sudah sampai saat fajar mulai menampakan wujutnya, mereka langsung menuju rumeh yang ditempati Ruben. Sesampainya disana mereka tidak menemukan putra mereka.


" Tuan dan Nyonya besar sudah datang." ucap bi Asih yang sampai sekarang masih menunjukan semburat wajah sedihnya.


" mana Anak itu.?!" tanya Prelasetya tegas.


" Tuan muda tidak ada dirumah dari hampir satu bulan yang lalau seperti yang saya ceritakan semalam tuan." jawab Bi Asih menunduk.


" kurang ajar anak itu.!" umpat Prasetya.


" pah, sabar dulu. Kita bicara baik baik, dan kita tanyakan apa alasannya sebenarnya." saut mama Dila menenangkan suaminya dan tangannya mengotak ponselnya dan menghubungi putra semata wayangnya.


" Hallo ma." jawab Rubwn di sebrang sana dengan perasaan yang mulai was was.


" hallo sayang, kamu dimana.?" tanya mama Dila lembut.


" em,,em aku dirumah ma." jawab Ruben lagi.


" Dierumah mana nak, dan Irtrimu mana sayang ,mama ingin bicara.?" tanya mama dila seolah belum tau kejadian yang menimpa rumah tangga anaknya.


Ruben tidam tau mau menjawab apa, karna dia sendiri tidak tau keberadaan Santi dan apa yang dilakukan Santi saat ini.


" em,,Santi lagi didapur ma, buay sarapan." Jawab Ruben berbohong.

__ADS_1


Dan Prasetya yang mendengar itu seketika emosinya tersulut, bagaimana bisa anaknya masih beebohong tentang Istrinya. Tanpa menunggu respon istrinya Prasetya langsung merebut ponsel itu dan berkata.


" pulang dang jangan membuat papa semakin marah Boy." saut Praserya tegas dan dingin.


Glekkk.


Ruben menelan ludahnya kasar, jantungnya mulai berdetak tak karuan saat mendengar suara berat ayahnya, namun ia masih berusahan bersikap tenang.


" pulang kenama maksud papa.? ini aku sudah dirumah kami pah.? jawab Ruben pelan.


" papa bilang pulang sekarang, berarti pulang.! jangan sampai papa jemput paksa ditempatmu sekarang.! ancap Prasetya yang tau betul dimana keberadaan anaknya saat ini.


" Iya pah, aku pulang." jawab Ruben lesu dan langsung mematikan ponselnya.


Sampai dirumah Ruben sudah ketar ketir dan langkahnya berat menuju tempat orang tuanya duduk saat ini melihat tatapan kedua orang tuanya yang menatapnya dengan tataan yang berbeda.


" pa, ma. Kalian kesini kok gk ngabarin aku dulu.?" tanya Ruben basa basi.


Tanpa banya kata Prasetya berdiri dari duduknya dan


Plakk...


Satu tamparan keras mendarat dipipi Ruben yang membuat semua orang terkejut bakan Bi Asuh yang sedang meletakan cangkir teh ikut terkejut menyaksikan itu.

__ADS_1


" pah." ucap Ruben bersamaan dengan mama Dila.


" itu belum seberapa dari apa yang kamu lakukan pada istrimu dan juga pada kamu yang sudah kecewa dengan sikapmu." tegas Prasetya.


" pah jangan keras begitu." kata Dia sambil mengusap lembut lengan sang suami untuk meredakan amarahnya.


" lalu papa harus apa ma,? haruskah tersenyum dan mengatakan itu bagus dan harus ditingkatakan.? begitu.? sentak Papa Ruben.


" kita bicara baik baik pah. Boy bisa kau jelaskan pada mama dan papa kenapa seperti ini.? tanya Mama Dila dan menuntun anak dan suaminya untuk duduk.


Bukannya menjawab pertanyaan dari sang mama, Ruben malah berdecih dan berkata:


" jadi dia memberi tahu mama semuanya.? apa dia menjadikan kalian alat supaya aku menarik kembali gugatanku.? cih.. Aku tidak akan sudi.!


" Ruben.! jaga bicaramu.! Santi tidak pernah mengatakan apa apa pada kami dan kami tau ini semua dari bi Asih." sentak mama Dila yang mulai teelihat emosi.


Ruben terdiam mendengar ucapan mamanya, ia salah menafsirkan. Ruben berpikir Santi lah yang mengatakan pada orang tuanya tapi semuanya salah. Dan Ruben semakin terdiam saat kembali mendengar kata kata mamanya.


" kamu kenapa tidak bisa membuka hati untuknya,? apa kurangnya dia Ben.? tidak kah kamu melihat ada pancaran cinta diamatanya untukmu.? tidakkah kau bisa merasakan cinta dari setiap tindakannya.? mama saja yang hanya melihat sekilas bisa tau kalau ada cinta untukmu Ben, ada cinta.!" cerca mama Dila yang sudah mulai terisak mengingat kembali ketulusan sang menantu untuk mengambil hatinsang suami.


Bukan perkara sulit ia mencari tahu itu semua nya karna sebenarnya Bi Asis selalu melaporkan perkembangan hubungan majikannya ini, dan ia selalu mencoba bersabar dan berharap kelak hubungan keduanya membaik, tapi tak disangka harapnnya akan sirna sebentar lagi.


Sedangkan Ruben temenung dan melamun, pikirannya sedang berpikir keras akan ucapan mamanya.

__ADS_1


" Benarkah semua itu."


Bersambung.....


__ADS_2