
Riko yang pusing memikirkan bagaimana cara menaklukan hati Lili memilih berdiri dari kursinya dan menyambar jas yang tersampir di tangan kursinya dan juga tasnya bergegas pergi meninggalkan ruangannya menuju parkiran tempat mobilnya.
Mengemudikan mobilnya sendiri tanpa sopir ataupun asistennya dan sepanjang perjalanan pikirannya tidak luput dari memikirkan Bagaimana cara agar bisa berdamai dengan Lili hingga mendadak dirinya menginjak rem mobilnya mendadak sehingga mengahasilkan suara decitan ban dari mobilnya.
Rupa rupanya dia melewati sebuah toko bunga, berpikir sejenak apakah dan akhirnya ia memutuskan untuk membeli bunga mawar untuk Lili.
" Saya mau membeli bunga. " kata Riko setelah dia sampai di toko bunga tersebut.
" Bunga yang mana yang Tuan inginkan?"
" Em em Saya menginginkan bunga sebagai lambang permintaan maaf sekaligus lambang perasaan saya terhadap istri saya. "ucap Riko ragu-ragu.
penjaga toko bunga tersebut hanya tersenyum melihat sikap pelanggannya yang ragu-ragu dalam menyampaikan keinginannya." mau satu tangkai saka atau dibuatkan buket bunga?"
"saya mau buket Bunga tapi harus sesuai dengan yang saya katakan tadi." pinta Riko.
" Baiklah tuan, tunggu sebentar."
Riko menunggu sambil matanya melihat-lihat jenis-jenis bunga yang ada di depannya dan tak lama setelah itu penjaga toko bunga kembali dengan membawa buket bunga yang didalamnya adalah bunga tulip.
"Ini Tuan bunga yang Anda iniginkan sudah jadi."
"Bunga apa ini namanya?"
"ini bunga tulip Tuan yang melambangkan permintaan maaf sekaligus perasaan terhadap pasangan anda." jelas Pelayan toko bunga.
"Berapa harganya?"
" Tiga ratus ribu saja Tuan." jawab pelayan toko.
" Baiklah saya permisi." kata Riko setelah ia meyerahkan tiga lembar uang pecahan seratus pada penjaga toko itu.
Kembali dirinya mengudikan mobil dan sepanjang jalan dia harap harap dan penuh harap kalau Lili akan luluh dengan langkah awal yang dilakukannya.
Sampai di halama rumah miliknya, Riko menarik nafasnya untuk membuang rasa gugup dalam dirinya. Lucu memang berasa dia sedang menghadapqi sidang saja bertemu dengan Lili.
" Semoga saja ini berhasil." gumam Riko menyemangati dirinya.
__ADS_1
Berjalan dengan cepat menuju rumah, membuka pintu saat sudah sampai di teras dan bertepatan dengan itu Lili juga membuka pintu.
Saling terkejut karena tidak menyangka akan bersitatap seperti ini dan refleks Riko menyembunyikam bunga dibelakang punggungnya.
" Apa yang kau sembunyikan?"
" Em,em ini untukmu."
" Bunga?" tanya Lili dengan wajah yang berbinar melihat bungat tulip yang dibawa Riko.
" Iy bunga untukmu perminta maafku untukmu."
" Bungan tulip?" lagi lagi Lili mengulang katanya tapi kali ini menyertakan nama bungannya. karena jelas saja Lili tau lambang dari bunga ini.
" Iya bunga tulip, kata penjaga tokonya itu sebagai lambang perminta maafku untukmu."
Mendadak air muka Lili berubah muram, dia pikir Riko ada tujuan lain, ternyata hanya ingin mendapatkan maafnya tapi bukan untuk mengungkapkan perasaannya.
" Jadi kau memberikan aku bunga ini hanya untuk minta maaf saja?" tanya Lili dengan wajah yang masam."
" Iy iya aku mau minta maaf sama kamu." jawab Riko terbata-bata kerena melihat muka Lili yang masam.
" Ada apa dengannya? kenapa dia marah,dan apa katanya tadi? dia tidak mau memaafkanku?" batin Riko.
" Eh Lili tunggu kenapa kau tidak mau memafkanku." teriak Riko.
" Aku tidak mau memaafkanmu." sahut Lili.
Sebenarnya Lili sudah memaafkan Riko, karena bagaimana pun Riko memiliki hak terhadap dirinya.
Hanya saja ia ingin membuat Riko menyadari kalau tindakannya salah, tapi entah kenapa saat Riko memeberi dia bunga sebagai ungakapan maaf dia malah tidak suka, tanpa tau alasan dia marah dengan tindakan Riko.
" Lili, hei kau kenapa sih?" tanya Riko menggamit lengan Lili.
" Lepasakan!"
" Jawab dulu pertanyaanku, kenapa kamu malah marah sama aku, dan kenapa kamu tidak mau memafkannu?" ok aku tau aku salah karena sudah bertindak yang tidak seharusnya aku lakukan, tapi itu semua diluar kendaliku Lili jadi tolong maafkan aku." lirih Riko diakhir kalimatnya.
__ADS_1
" Jadi kau hanya ingin meminta maaf saja?" tanya Lili. Entah kenapa hati kecilnya menginginkan Riko lebih dari minta maaf saja.
" Iya tentu saja." jawan Riko lantang.
" Sungguh hanya itu?" lagi lagi Lili bertanya untuk meyakinkan kenyataan dan juga untuk meyakinkan hatinya.
" Aku sudah memafkanmu. Kau puas mendengarnya." teriak Lili.
Sudah tidak dapat lagi membendung air mata, ia ingin sekali marah pada pria yang ada di depannya ini yang bergelar sebagi suaminya, bagaimana mungkin pria itu hanya memikirkan cara meminta maaf tanpa ingin memperbaikinya.
Benar, dalam hati kecil Lili menginginkan hubungan mereka lebih baik lagi, berperan lagi sebagai pasangan pada umumnya seperti sebelum sebelumnya bahkan jika bisa lebih dari itu akan dengan senang hati di sambut oleh Lili.
" Ada apa denganmu?" Riko tersentak mendapati reaksi Lili yang seperti ini, apalagi sorot mata yang menyiratkan adanya kekecewaan serta harapan yang tidak tersampaikna disana.
" Ada apa? kenapa kau bertanya ada apa. Bukankah kau menginginkan maaf dari ku dan aku sudah memafkanmu, lalu apa lagi."
" Makaudku kenapa kau berteriak seperti orang marah padaku?" jika kau memafkanku maka kau bisa berkata dengan baik bukan?"
" Sudahlah, kenapa kau mempermasalahkan Ekspresiku? yang penting kan aku sudah memafkanmu.! ketus Lili dan berbalik dan berniat meninggalkan Riko tapi niatnya urung saat dua lengan kokoh memeluk tubuhnya dari belakang.
" Maaf. maafkan aku yang tidak baik ini untukmu, maafkan aku yang hanya bisa menyakitimu, bahkan saat kamu sudah menjadi istrku, aku harus membuatmu terluka karena egoh dan rasa cemburu yang membutatku gelap mata. Aku merenggut hal yang paling berharga padamu hanya karena tidak ingin kamu peri dariku."
Riko mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan pada Lili dengan penuh kesungguhan dan keseriusan, sedangkan wanita itu sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia menangis mendengar perkataan Riko, karena sesungguhnya dia juga sudah menjadi istri yang tidak baik bagi Riko.
" Ak-"
" Stttttt jangan bicara, cukup dengarkan saja aku." potong Riko saat Lili ingin menjawab.
" Aku mungkin tidak ada dalam hatimu saat ini, karena aku tau Ans masih mengisinya, dan aku juga tau aku bukan yang terbaik untukmu, tapi bisakah kau izinkan aku untuk berusaha menjadi seperti yang kamu mau? menjadi orang yang mengisi penuh hatimu, pikiranmu dan di setiap ucapanmu hanya ada aku dan namaku? aku ingin kita menjalani rumah tanggga kita sebagaimana layaknya." ucap Riko sungguh sungguh.
" Kenapa?" tanya Lili lirih dengah posisi masih berada dalam dekapan Riko.
" Karena aku mencintaimu." jawab Riko lantang.
" Apa" bukan main keterkejutan Lili mendengat pengakuan Riko.
" Iya. Karena aku mencintaimu!"
__ADS_1
Bersambung...