Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Kacau


__ADS_3

Hari ini Riko kembali mendapati tamu yang sangat tidak ingin dia termui, siapa lagi bukan Janeth "hai Riko" sapa Janeth dengan senym hangatnya.


"Janeth!"


"Apa aku mengganggumu? maaf ya jika seperti itu, aku hanya sekalian pamit aku mau kembali" ucap Janeth memberitau tujuannya.


"Kau akan kembali?" tanya Riko dengan sebelah alisnya terangkat.


"Hemm aku akan kembali, ada urusan mendesak soalnya" jawab Janeth meyakinkan.


"Baiklah, berhatk hatilah" ucap Riko.


"Terimakasih, yasudah aku pergi ya" pamit Janeth yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban Riko.


Melihat perubahan sikap Janeth membuat Riko jadi bertanya tanya apa yang terjadi pada Janeth, tatapannya sudah berbeda tidak sama seperti kemarin, rasanya Riko melihat Janeth tidak lagi memandangnya dengan tatapan memuja lagi melainkan tatapn penuh misteri yang tidak bisa di tebak oleh Riko.


Riko mengangkat bahunya acuh tidak mau memikirkan hal itu, dia lebih baik kembali bekerja agar bisa segera kembali ke rumah dan menemui istri cantiknya.


Sementara Janeth yang kini berada di dal mobil yang membawanya ke bandara menghubungi seseorang "lakukan sekarang! tapi jangan sampai mereka sadari, lakukan secara perlahan !" titah Janeth dengan senyum liciknya.


"Kau yang menyuruhku berbuat begini Riko, dan sikal istrimu yang seenaknya menyuruhku enyah dari hidupmu! dan aku tidak bisa menerima hal itu!" gumam Janeth dengan tangan yang terkepal kuat.


***


Satu minggu sudah berjalan, dan kini jadwal kontrol kandungan Lili, pasangan itu bersiap untuk cek kandunganya, untuk mengetahui perkembangan calon anak mereka.


"Sayang ayo cepat!" seru Riko.


Entah kenapa Riko selalu antusias jika waktj kontrol Lili tiba, rasanya tidak ingin dia lewatkan sedikitpun tentang perkembangan anak yang akan menjadi penerusnya.


"Iya sebentar....! ayo bantu aku dulu sayang..!" teriak Lili.


Riko kembali memasuki kamar mereka, melihat apa yang di kerjakan istrinya sehingga begitu menggunkan waktu yang sangat lama, tidak taukah dia jika Riko sudah tidam sabar.


"Sayang, apa saja yang kau lakukan" kesal Riko.

__ADS_1


"Naikkan resletingnya!" pinta Lili tanpa menjawab pertanyaan Riko.


Riko tersenyum licil melihat punggung halis istrinya, susah lama tidak ia sentuh dan menggoda istrinya dengan sentuhan nakalnya.


Riko mendekat dengan senyum yang tidak terlepas "apa yang ingin aku lakukan sayang?" tanya Riko dengan lembut tepat di telinga Lili.


Lili meremang merasakan hembusan nafas Riko yang menembus kulit wajahnya, selalu saja dia mudah terbuai hanya dengan hebusan nafas saja.


"Jangan mac macam sayang" tegur Lili yang masih memiliki kesadaran.


"Tidak! hanya satu macam" jawab Riko yang kini mengelus lembut kulit punggung Lili.


Lenguhan kecil terdengar dari bibir Lili yang membuat Rko tersenyum penuh kemenangan, bibirnya kini sudah menempel di bahu yang terbuka itu dan memberikan kecupan basah dan meninggalkan jejak disana.


"Sayang, jangan begini kita harus segera ke rumah sakit" ucap Lili yang sudah mulai terbuai tapi masih berusaha sadar.


"Baiklah, ayo" ucap Riko.


Riko membantu menaikan resleting gaun Lilu setelah itu mereka berjalan keluar dengan tangan tangan yang saling bertautan menuju mobil.


"Angkat dulu sayang" ucap Lili.


Riko mengkuti perkataan Lili, dia meminggirkan mobinya kemudian menjawab panggilan itu tapi belum sempat Riko berbicara suara kepanikan terdengar dari mulut Halim.


Riko sangat terkejut mendengar beritanya, bagaimana bisa seseorang meretas sistem keamanan perusahaan mereka dan memanipulasi data perusahaan hingga menimbulkan kekacauan di perusahannya.


Riko mencoba agar tidak panik di hadapan istrinya agar tidak membuat Lili jadi khawatir "baiklah kau urus dulu urusannya, aku akan segera ke kantor" ucap Riko terdengar sangat tenang


Riko kembali menjalanlan mobilnya, dia harus menyelesaikan urusan istri dan anaknya dulh barulah nanti dia akan menangani masalah kantor dan mencari tau siapa dalang dari semua ini.


"Ada apa sayang? ada masalah di kantor?" tanya Lili yang tidak bisa membaca ekspresi wajah Riko.


Riko tersenyum dan melihat sebentar pada Lili "tidak ada sayang, semua bajik baik saja" jawab Riko dengan tenang.


"Kau yakin sayang?" tanya Lili kembali memastikan .

__ADS_1


"Iya sayang, aku mana mungkin berbohong pada istri cantikk ini" ucap Riko dan menggenggam jemari Lili.


Lili tersenyum mendengar jawaban suaminya, selalu saja mulut suaminya itu begitu manis dalam berkata kata dan dia pun dengan mudahnya tersipu dan malu malu.


"Bagaimana perkembangan bayi kami dokter?" tanya Riko


Saat ini Riko dan Lili sudah tiba di rumah sakit bahkan sudah melakukan pemeriksaan kandungan, "cakon bayinya sehat dan berkembang sesuai dengan semestinya, tidak ada yang perlu di khawatirkan" jawab Dokter.


"Apa jenis kelaminnya dok?" tanya Riko antusias


Walau saat ini keadaan perusahaan sedang bermasalah tapi bukan berarti membuat Riko mengabaikan calon anak mereka, dia akan tetap menanyakan sedetail mungkin tentang itu karena memang itulah yang paling penting baginya.


Dokteru tersenyum mendengar pertanyaan Riko yanhmg kedengaran antusias sekali terhadapa anak mereka "untuk jenis kelamin belum bisa di ketahui mengingat usia kandungannya masih empat bulan, tapi nanti di saat sudah lima atau bulan ke enam kita busa melihat sejis kelamninnya" tutur dokter.


"Baiklah, tapi aku pikir bisa sekarang" gumam Riko pada diri sendiri tapi masih bisa di dengar oleh dua orang itu.


"Sabar sayang" ucap Lili memegan jemari Riko.


Sedangkan Riko hanya menyengir karena ternyata ucapannya di dengar oleh istrinya.


"Baiklah ada yang mau disamapaikan lagi atau ibu hamil ini ada keluhan giu?" tanya doketr yang di jawab gelengan kompek oleh mereka.


"Tidak ada dan kami permisi" ucao Riko


Dalam perjalan Riko masih bisa menguasai perasaanya walau kini pikirannya tertuju pada perusahaan dan ponselnya yang terus bergetar, karena Riko sudah mendiamkannya agar Lli tidak curigan.


"Aku tidak masuk lagi mau langsung ke kantor yan sayang" ucap Riko.


"Hati hati ya" ucap Lili mencium punggung tangan dan pipi Riko yang di balas ciuman di kening oleh Riko.


Riko menginjak pedal gasnya dengan kuat, dia benar benar tidak sabar untuk sampai di perusahaan miliknya untuk mencari tau apa yang terjadi perusahaanya.


Sampai disana, auara hangat yang rasakan Lili berubah menjadi aura dingin yang mencekam bagi para karyawan, tidak ada yang berani menatapnya, bahkan memeilih untuk tidak berpapasan denganya.


Bukan tanpa alasan tapi mereka sangat tau keadaan genting perusahaan yang terjadi saat ini, dan merka juga pun tau jika bos besar mereka saat ini sedang dalam mode marah besar dan untuk menghindari amukan dari Riko mereka lebih memilih untuk menyingkir dari hadapannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2