Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Ternyata Dia Mencintaiku


__ADS_3

Santi sampai kerumah saat hari sudah mulai senja, ia lelah suhgguh sangat lelah, hati pikiran, dan tubuhnya sudah tidak bisa lagi berkompromi, saat ini yang ia butuhkan adalah istrahat.


" Kamu sudah kembali sayang.?" tanya bunda saat santi memasuki ruang keluarga hendak menuju kamar yang dulu ditempati saat maaih berada disini.


" eh, ia bun. Aku sudah kembali dan mau istrahat sebentar." jawab santi.


" Yasudah, istrahatlah sayang." ucap bunda kemudian menganbil ponselnya untuk mengirim pesan pada besannya agar nereka tidak kuatir tenatang keadaan santi .


" Bu Dila. Santi ada bersama kami disini, jadi jangan kuatir dan saya mohon jangan beritahu Ruben dulu. Aku takut Santi marah nantinya." tulis Bunda..


Tak berselang lama, balasan pesan pun diterima bunda yang tak lain pesan dari mama Dila.


" Syukurlah kalau begitu. Baiklah kalau itu permintaan Santi, tidak masalah, biarkan dia menenangnkan pikiran saja dulu dan aku akan cari cara agar Ruben membatalkan gugatannya." balas mama Dila panjang lebar.


" itu biar jadi urusan mereka saja bu Dila. Dan kalqu mang mereka haru berpisah maka kita harus bisa menerima hal itu." balas bunda.


" Baiklah bu. Dan say minta maaf atas nama anak saya bu untuk semua yang sudah terjadi." kembali bunda mendapat balasab pesan dari bu Dila, tapi sudah tidak di balas lagi oleh bunda.

__ADS_1


***


Sedangkan di sebuah perusahaan besar, Seorang pria tampan yang dikagumi banya wanita itu masih berada dalam lamunannya, begitu betah berdiri menatap jauh keluar pemandangan yang terlihat dari ruangannya yang berdinding kaca.


Ia sedang memikirkan pernikahannya yang akan berakhir besok. Ya besok adalah sidang perceraian mereka, namun entah mengapa rasanya Ruben tidak rela. Ingin sekali dia memiliki alasan untuk membatalkan perceraian itu, namun alasan apa yang harus dijadikan untuk membatalkannya, sedangkan yang dia tau Santi tidak memiliki perasaan terhadapnya.


Lama ia berdiri disana, hingga waktu tak tersa sudah menunjukan jam pulang.


Tok...tok...


Lamunan Ruben buyar kemabli pada dunia sadarnya saat mendengar ketukan pintu ruangannya, ia membalikan badannya menuju kursi kebesarannya.


" Tuan.! sudah waktunya pulang " kata Ans saat membuka pintu ruangan Ruben.


" oh,, ya." jawab Ruben setelah melihat jam tangannya yang sudah menunjukan waktu pulang kerja.


Mereka bergegas pulang menuju kediaman masing masing. Saat sudah berada dirumah, sepi tidak ada orang disana, bahkan orang tuanya pun tidak terlihat disana.

__ADS_1


Ruben langsung bergegas menuju kamarnya, namun kemudian terhenti tepat dikamar yang dulu menjadi kamar sang istri. Lagi lagi Ruben menghela napasnya pelan, sakit kembali menyeruak di hatinya, perlahan tangan itu terulur untuk membuka pintu kamar sang istri, masuk dan duduk di tepi ranjang milik santi.


" Ruben lagi lagi merebahkan dirinya disana mengusapa usap kasur yang terasa sangat nyaman itu, mencoba meresapi kehadiran sang istri, menghirup dalam dalam aroma yang tertinggal disana.


Ruben mengedarkan pandangannga menyusuri seriap sudut kamar, hingga tak segaja matanya melihat laci yang sedikit terbuka dan menampakan sedikit lembaran foto disana.


Naluri Ruben memaksanya untuk bangkit berdiri mendekati laci dan mengambil foto itu, yang ternyata adalah foti diri Rio sang kekasih hati istrinya.


" cih.! masi saja disimpan.!" ruben berdecih saat melihat siapa dalam foto itu, ia berniat memasukan kembali foto itu, namun gerakan tangannya terhenti saat matanya menangkap buku asing menurutnya karna ia merasa tidak pernah memiliki buku seperti itu. Ia menagmbil dam melihat sampulnya.


Disana ia melihat wajah santi yang ada di balik lembar sampul itu, ia langsung paham bahwa itu milik sang istri, mengusap pelan foto itu sudut bibirnya melengkung membentuk senyum memandangnya.


Ruben membuka buku itu, lembar demi lembar ia baca tanpa ada yang terlwatkan. Tapi Ruben mendadak merasakan sesak, nafasnya tercekat saat membaca buku yang merupakan curahan hati sang istri.


Tak berhenti disitu, lagi lagi Ruben dibuat lemas matanya memerah dan mengembun yang menghasilkan kristal bening disana saat dirinya mendapati lembar berikutnya yang berisi tentang persaan istrinya terhadap suaminya yaitu dirinya.


Ya, ruben kini tau yang sebenarnya. Kini ia tau kalau tenyata pemikirannya selama ini salah, ternyata di bodoh untuk melihat kebenarannya dan begitu bodoh saat ia mengikuti egohnya.

__ADS_1


Berambung...


__ADS_2